Konten dari Pengguna

Tujuan Ibadah Kurban Disyariatkan dalam Islam

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ibadah kurban disyariatkan dalam islam untuk mengenang kisah nabi Ibrahim dan Ismail, sumber: unsplash/MasjidPogungDalangan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibadah kurban disyariatkan dalam islam untuk mengenang kisah nabi Ibrahim dan Ismail, sumber: unsplash/MasjidPogungDalangan

Ibadah kurban disyariatkan dalam islam untuk mengenang kisah nabi Ibrahim dan Ismail. Keduanya memegang kunci sejarah awal mula penetapan hukum kurban.

Kurban menjadi salah satu ibadah yang memiliki kemuliaan sangat tinggi di hadapan Allah. Selain mengetahui hukum pelaksanaannya, penting sekali memahami sejarah kurban.

Tujuan Ibadah Kurban Disyariatkan dalam Islam bagi Umat Muslim

Ilustrasi Ibadah kurban disyariatkan dalam islam untuk mengenang kisah nabi Ibrahim dan Ismail, sumber: unsplash/GrStocks

Mengutip buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul, Ridwan Abdullah & Muhammad Kadri (2021), ibadah kurban disyariatkan dalam islam untuk mengenang kisah nabi Ibrahim dan Ismail. Kisah ini bermula dari Nabi Ibrahim yang saat itu memperoleh mimpi menyembelih putra kesayangannya, yakni Ismail.

Setelah memperoleh mimpi tersebut, Nabi Ibrahim merasa bingung untuk mengambil keputusan. Sebagai seorang hamba yang taat pada perintah Allah Swt., Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Swt. agar diberikan petunjuk atas mimpinya.

1. Mimpi Menyembelih Ismail

Hasilnya ia justru mendapat mimpi yang sama sampai ketiga kali, yakni permintaan untuk menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim bergegas menemui putranya dan menjelaskan tentang isi mimpinya itu. Adapun jawaban Ismail tentang kurban tertuang dalam ayat Al-Qur'an berikut:

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sungguh aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' (QS As-Saffat ayat 102)."

"Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar' (QS As-Saffat ayat 102)."

2. Upaya Melakukan Penyembelihan

Mendengar jawaban dari anaknya yang bijak, Nabi Ibrahim semakin sedih dan menangis karena Ismail adalah putranya yang paling disayang.

Usai keduanya bersepakat melakukan penyembelihan, Nabi Ibrahim membawa Ismail ke Mina, lalu membaringkannya di atas pelipisnya.

"Wahai ayahku! Kencangkanlah ikatanku agar aku tidak lagi bergerak, singsingkanlah bajumu agar darahku tidak mengotori, dan jika nanti ibu melihat bercak darah itu niscaya ia akan bersedih, percepatkah gerakan pisau itu dari leherku, agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu sangat dahsyat. Apabila Engkau telah kembali maka sampaikanlah salam kasihku kepadanya." (Syekh Muhammad Sayyi Ath-Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, Beirut, Darul Fikr: 2005 M halaman 3582)

"Sungguh, sebaik-baiknya pertolongan adalah Engkau wahai anakku dalam menjalankan perintah Allah," (Imam Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Kutub: 2000 M], juz XXVI, halaman 138).

3. Gagalnya Penyembelihan Ismail

Pada saat Nabi Ibrahim ikhlas, pisau tajam yang digunakannya tidak mempan untuk menyembelih leher Ismail. Berkali-kali pisau tersebut tumpul dan tidak meninggalkan bekas apa pun di leher Ismail.

Melalui peristiwa tersebut, terbukti bahwa Nabi Ibrahim dan putranya Ismail adalah sosok yang taat kepada Allah. Oleh karena itu, Allah tidak menghendaki penyembelihan tersebut terjadi dan mengganti perintah kurban dengan seekor kambing.

Baca juga: Bacaan Doa Menerima Hewan Kurban, Umat Muslim Wajib Tahu

Jadi, ibadah kurban disyariatkan dalam Islam untuk mengenang kisah nabi Ibrahim dan Ismail. Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail akhirnya digantikan dengan domba dan menjadi sejarah kurban di Hari Raya Iduladha. (DLA)