Ulasan tentang dua Pola Sosialisasi menurut Gatrude Jaeger

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jelaskan dua pola sosialisasi menurut Gatrude Jaegaer! Pertanyaan ini muncul karena manusia sebagai pasti akan bersosialisasi dengan orang lain, di mana kita akan saling berhubungan dengan individu atau kelompok. Untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain, kita perlu belajar caranya dan Gatrude Jaegaer adalah salah satu pola yang bisa digunakam.
Untuk mengetahui tentang pola sosialisasi menurut Gatrude Jaegaer, simak penjelasan di bawah ini.
Baca Juga: Pengertian Kelompok Formal dan Informal sebagai Kelompok Sosial
Ulasan tentang Dua Pola Sosialisasi menurut Gatrude Jaeger
Dikutip dari buku Menerjang Badai, Meraih Mimpi oleh Dwiana Pujiasih (2021), Getrude Jaeger menjelaskan dua pola sosialisasi yakni:
Sosialisasi Represif
Sosialisasi represif adalah sebuah sosialisasi yang menekankan pada pemberitahuan hukuman. Pola sosialisasi yang satu ini biasa dipergunakan pada pihak-pihak yang otoriter dan suka memerintah.
Cara sosialisasi represif bertumpu pada satu arah, yakni orang yang memberi tahu saja. Tujuannya adalah agar memberi pesan untuk patuh dan menciptakan keseragaman sikap serta perilaku yang sesuai dikehendaki. Namun jika ada yang mematuhinya, maka diberikan saksi dan hukuman.
Pola sosialisasi represif yang dialami oleh individu mempunyai ciri-ciri:
Komunikasi satu arah, non verbal dan berisi perintah;
Menekankan pada penggunaan hukuman;
Memakai materi dalam hukuman dan imbalan;
Orang tua sebagai pusat sosialisasi sehingga keinginan orang tua
Kepatuhan anak pada orang tua;
Menjadi penting;
Keluarga menjadi significant others.
Pola Sosialisasi Partisipatif
Sosialisasi partisipatif adalah pola sosialisasi yang menekankan pada penghargaan. Berbeda dengan sosialisasi represif, sosialisasi partisipatif mengutamakan interaksi serta komunikasi verbal antara pihak satu dengan pihak lainnya.
Jika seseorang berperilaku baik dalam bersosialisasi, maka ia akan mendapatkan imbalan. Akan tetapi, jika ia melakukan kesalahan, ia akan mendapatkan hukuman yang bersifat simbolis.
Adapun ciri-ciri dari sosialisasi partisipatif, sebagai berikut:
Individu diberi imbalan jika berkelakuan baik;
Hukuman dan imbalan bersifat simbolik;
Anak pusat sosialisasi sehingga keperluan anak dianggap penting;
Anak diberi kebebasan;
Penekanan pada interaksi;
Komunikasi terjadi secara lisan;
Keluarga menjadi generalized others.
Meskipun dua pola sosialisasi menurut Getrude Jaeger berbeda jauh, namun keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga, kedua cara di atas bisa diaplikasikan apabila sesuai dengan proporsinya.(MZM)
