Konten dari Pengguna

Unsur Kebahasaan Novel Ronggeng Dukuh Paruk Bahasa Indonesia Kelas 12

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi unsur kebahasaan novel Ronggeng Dukuh Paruk. Foto: Unsplash/James Bold
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi unsur kebahasaan novel Ronggeng Dukuh Paruk. Foto: Unsplash/James Bold

Unsur kebahasaan merupakan salah satu merupakan salah satu unsur intrinsik novel. Hal ini pula yang ditanyakan dalam buku bahasa Indonesia kelas 12 halaman 124 tentang unsur kebahasaan Novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Hal ini membuat banyak siswa mencari jawaban dari pertanyaan tersebut baik untuk bantuan maupun referensi. Sehingga, siswa dapat membandingkan dengan jawaban miliknya dan lebih mudah dalam memahami unsur intrinsik novel.

Unsur Kebahasaan Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Ilustrasi unsur kebahasaan novel Ronggeng Dukuh Paruk. Foto: Unsplash/Arun Prakash

Unsur kebahasaan sebagai salah satu unsur intrinsik digunakan untuk meningkatkan dampak saat menyajikan dan membandingkan objek dari forum atau objek dengan benda atau hal-hal yang paling umum lainnya.

Adanya unsur intrinsik ini digunakan untuk menciptakan efek yang diperlukan oleh pengarang agar pembaca tertarik hingga lebih mendalami cerita, dan akan fokus terhadap jalan cerita yang sedang dibacanya.

Dikutip dari buku Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII oleh Maman Suryaman, dkk. (2018) pada halaman 124, siswa diminta untuk menganalisis unsur kebahasaan novel Ronggeng Dukuh Paruk. Adapun jawaban dari pertanyaan tersebut yakni:

1. Majas Personifikasi

  • Dukuh Paruk masih diam membisu meskipun beberapa jenis satwanya sudah terjaga.

    Tohari melukiskan proses datangnya pagi hari menjelang cahaya matahari terbit dari timur di Dukuh Paruk. Dukuh Paruk dilukiskan pada suasana pagi yang masih sepi dan belum ada aktivitas manusia.

  • Dalam kerimbunan daun-daunnya sedang dipagelarkan merdunya harmoni alam yang melantunkan kesyahduan.

    Tohari menggambarkan sebuah pohon dengan daunnya yang tampak subur, rimbun, segar sehingga terlihat indah dan asri serta selaras dengan alam.

2. Majas Simile

  • Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagai batu lepas dari ketapel sambil menjerit-jerit sejadinya.

  • Setelah didapat, Rasus memanjat. Cepat seperti seekor monyet.

  • Ibarat meniti sebuah titian panjang berbahaya, aku hanya bisa menceritakannya kembali, mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang.

3. Majas Metafora

  • Di pelataran yang membantu di bawah pohon nangka ketika angin tenggara bertiup dingin menyapu harum bunga kopi yang selalu mekar di musim kemarau.

    (Melukiskan keadaan dukuh paruk yang masih asri, ketika malam hari pada musim kemarau angin terasa dingin.)

  • Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang.

    (Melukiskan keindahan dunia anak-anak di dukuh kecil yang serba gembira, bebas bermain dan belum memiliki tanggung jawab. Dunia anak-anak merupakan fase kehidupan yang indah dan tidak mungkin terulang kembali pada kehidupan seseorang.)

4. Majas Metonimia

  • Di sana di dalam kurung klambu yang tampak dari tempatku berdiri, akan terjadi pemusnahan mustika yang selama ini amat ku hargai.

    Kata mustika pada kutipan di atas artinya sebuah keperawanan seorang gadis.

  • Pelita kecil dalam kamar itu melengkapi citra punahnya kemanusiaan pada diri bekas mahkota Dukuh Paruk itu

    Kata Citra pada adalah gambaran kepribadian dari seorang ronggeng yaitu tokoh srintil, citra tersebut telah hilang karena suatu deraan, cobaan hingga muncullah kegoncangan jiwa pada srintil yang semula mendapat sebutan seorang mahkota Dukuh Paruk.

5. Majas Hiperbola

  • Ini cukup untuk ku katakan bahwa yang terjadi pada dirinya seribu kali lebih hebat daripada kematian karena kematian itu sendiri adalah anak kandung kehidupan manusia.

    Aku bisa mendengar semua bisik hati yang paling lirih sekalipun.

  • Kedua unggas kecil itu telah melayang beratus-ratus bahkan beribu-ribu kilometer mencari genangan air.

    Dalam pemukiman yang sempit, hitam, gelap, gulita, pekat, terpencil itu lengang sekali, amat sangat lengang.

6. Majas Sinekdoke

  • Sampean hanya memikirkan diri sendiri dan tidak mau mengerti urusan perut orang.

    Majas sinekdoke terdapat pada kata perut orang yang maksud sebenarnya adalah seluruh jiwa raga manusia.

  • Dua ekor anak kambing melompat lompat dalam gerakan amat lucu.

    Majas sinekdoke tersebut terdapat pada kata dua ekor anak kambing padahal yang sebenarnya adalah seluruh jiwa raga kambing bukan hanya ekornya.

7. Majas Litotes

  • Aku sadar betul diriku terlalu kecil bagi alam.

    Majas litotes terdapat pada kata diriku terlalu kecil.

  • Aku terkejut menyadari semua orang di tanah airku yang kecil ini memenuhi segala keinginanku.

    Majas litotes terdapat pada kata tanah airku yang kecil ini.

8. Majas Penegasan

  • Mereka hanya ingin melihat Srintil kembali menari, menari, dan menari

    Majas repetisi ditemukan pada kata kembali menari, menari, dan menari.

  • Srintil sedang berada dalam haribaan Dukuh Paruk yang tengah tidur lelap selelap lelapnya, merenung dan terus merenung

    Majas repetisi terlihat pada kata tidur lelap selelap lelapnya, merenung dan terus merenung.

9. Majas Sarkasme

  • Dower merasa berat dan mengutuk Kartareja dengan sengit Si tua bangka ini sungguh sungguh tengik

    Majas sarkasme ada pada kata si tua bangka sungguh tengik.

  • Kertareja memang bajingan. Bajul buntung, jawabku, mengumpat dukun ronggeng itu.

    Majas sarkasme pada kata bajingan. Bajul buntung.

  • Kalian mau mampus mampuslah tapi jangan katakan tempeku mengandung racun

    Majas sarkasme pada kata mampus mampuslah.

Baca Juga: Resensi Novel Negeri 5 Menara dan Unsur-unsurnya

Itulah penjelasan tentang unsur kebahasaan novel Ronggeng Dukuh Paruk pada buku Bahasa Indonesia kelas 12. Meski demikian, jawaban jangan digunakan sebelum menjawab sendiri. Sehingga, ketika menemui soal serupa tidak kesulitan dalam menjawabnya.(MZM)