Konten dari Pengguna

Urutan Prosesi Pernikahan Adat Jawa Lengkap

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://flickr.com/photos/poetrafoto/ - pernikahan adat jawa
zoom-in-whitePerbesar
https://flickr.com/photos/poetrafoto/ - pernikahan adat jawa

Dalam prosesi pernikahan adat Jawa, ada cukup banyak ritual yang harus dijalani oleh kedua mempelai dan keluarga masing-masing. Keseluruhan ritual ini mempunyai makna dan maksud tersendiri, sehingga bagi sebagian orang, memang tidak mungkin untuk dilewatkan satu atau beberapa bagiannya.

Jika Anda memilih untuk melaksanakan pernikahan adat Jawa, sebaiknya pahami dulu masing-masing urutan tahapnya berikut ini yang dilansir dari buku Tata Upacara dan Wicara: Pengantin Gaya Yogyakarta, Suwarna Pringgawidagda, 2006, agar tidak sampai salah memperhitungkan waktu dan juga biayanya.

Urutan Prosesi Pernikahan Adat Jawa

Pasang Tratag dan Tarub

Hal pertama yang dilakukan dalam prosesi pernikahan Jawa adalah memasang dekorasi tenda yang disebut tratag dan hiasan dari janur atau daun kelapa muda yang disebut tarub. Kedua hiasan ini dipasang pada pintu masuk dan menjadi pertanda bahwa keluarga sedang mengadakan acara hajatan mantu. Janur kuning melengkung seakan meminta cahaya pada Yang Maha Kuasa, sebagai doa agar dilimpahi berkah dan kemakmuran pada kedua mempelai.

Kembar Mayang

Kembar mayang adalah sepasang hiasan pernikahan dekoratif yang dibentuk dari rangkaian akar, batang, daun, bunga, dan buah setinggi setengah sampai satu badan orang dewasa. Kembar mayang diyakini bisa memberikan motivasi dan kebijaksanaan kepada kedua pasangan untuk menjalani lembaran baru rumah tangganya.

Pasang Tuwuhan

Bagian penting yang ada dalam tuwuhan adalah pohon pisang raja yang buahnya sudah matang. Ada juga tebu wulung, cengkir gading, daun randu, dan dedaunan lain. Dedaunan sebagai simbol rintangan dalam hidup, yang diharapkan mampu dilewati bersama. Pasang Tuwuhan bermakna harapan terhadap kedua pasangan suami istri agar dikaruniai momongan.

Siraman

Siraman pengantin biasanya dilaksanakan pada satu atau dua hari sebelum akad nikah, ada tujuh orang yang melakukan siraman, jumlah ini pun berdasarkan sebutan tujuh pada bahasa Jawa yaitu “pitu” atau disyaratkan sebagai pitulungan (pertolongan) kepada calon pengantin.

Siraman menyimbolkan pembersihan diri sebelum masuk ke ritual yang lebih sakral. Nantinya, sang ayah dari mempelai wanita yang akan melakukan siraman terakhir. Kemudian dilanjutkan dengan menggendong anak perempuannya menuju kamar pengantin.

https://flickr.com/photos/poetrafoto/

Dodol Dawet

Dodol Dawet adalah ritual menjual dawet kepada para tamu undangan. Tetapi, ini tidak benar-benar jualan karena pembeli membayarnya dengan kreweng atau pecahan tembikar dari tanah liat, yang menggambarkan kehidupan manusia yang berasal dari tanah.

Potong Tumpeng

Prosesi potong tumpeng pada pernikahan adat Jawa ini akan dilakukan oleh kedua orang tua dengan mengambil puncak tumpeng beserta lauk pauknya.

Dulangan Pungkasan

Dulangan pungkasan berarti suapan terakhir, ritual adat ini melambangkan tanggung jawab terakhir orang tua terhadap anaknya.

Tanam Rambut dan Lepas Ayam

Ritual pernikahan adat Jawa selanjutnya adalah memotong sedikit rambut kedua mempelai lalu menanamkannya. Ritual ini bertujuan agar kedua mempelai dijauhkan dari segala hal buruk dalam rumah tangga. Dilanjutkan dengan pelepasan ayam jantan hitam sebagai bentuk keikhlasan orang tua melepas anaknya hidup mandiri. Seperti seekor ayam yang bisa mencari makan sendiri.

Midodareni

Midodareni berasal dari kata ‘widodari’ yang dalam bahasa Jawa berarti bidadari. Diharapkan dari ritual ini, sang pengantin wanita akan secantik bidadari dari surga saat hari pernikahannya esok hari. Malam midodareni dilangsungkan pada malam sebelum acara pernikahan keesokan harinya. Mempelai wanita hanya akan ditemani keluarganya saja dan mendapat wejangan seputar pernikahan.

Pada malam ini pula, dengan mengenakan busana Jawa lengkap keluarga calon mempelai pria mengunjungi rumah calon mempelai perempuan untuk memberi seserahan berupa kebutuhan seperti busana, alas kaki, kosmetik, buah-buahan, makanan.

Upacara Pernikahan

Kedua pengantin akan mengenakan pakaian tradisional khas adat Jawa berwarna putih sebagai lambang kesucian berhadapan dengan penghulu, orang tua, wali, dan tamu undangan dan mengucapkan sumpah serta janji pernikahan.

Upacara Panggih

Upacara Panggih disebut juga upacara dhaup atau temu, prosesi inilah puncak acara pernikahan adat Jawa. Setelah kedua pengantin resmi menikah secara agama, orang tua dari kedua belah pihak bertemu secara adat Jawa.

Bubak Kawah

Bubak kawah ini hanya dilakukan pada saat mantu pertama. Merupakan rasa syukur orang tua atas pernikahan anaknya.

Tumplek Punjen

Kebalikan dengan babak kawah, keluarga akan mengadakan prosesi tumplek punjen saat seluruh anaknya sudah menikah sehingga tidak akan bermenantu lagi.

Sungkeman

Kedua mempelai berlutut di hadapan orang tua dari kedua belah pihak sebagai bentuk penghormatan atas jasa orang tua yang telah membesarkan mereka sampai bisa menikah menjalani lembaran baru kehidupan.

Kirab Pengantin

Terakhir, kirab merupakan istilah yang digunakan saat pengantin meninggalkan panggung pelaminan untuk berganti pakaian. (DNR)