Watake Tembang Macapat dalam Pelajaran Bahasa Jawa

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembang macapat adalah salah satu contoh dari kebudayaan Jawa. Oleh sebab itu, tembang macapat dipelajari dalam pelajaran Bahasa Jawa. Hal-hal yang berkaitan dengannya juga dipelajari, seperti watake tembang macapat.
Watak tersebut cukup beragam. Bahkan, suatu jenis tembang macapat bisa mempunyai lebih dari dua watak.
Watake Tembang Macapat dalam Tradisi Jawa
Menurut Belajar Bahasa Daerah Jawa untuk Mahasiswa PGSD dan Guru SD, Rian Damariswara (2020: 127), Laginem, dkk pada 1996 menyatakan bahwa tembang macapat adalah salah satu jenis puisi dalam bahasa Jawa yang dikenal dengan tembang cilik atau lumrah.
Tembang macapat menjadi salah satu kebudayaan Jawa yang perlu dilestarikan. Itulah mengapa tembang macapat telah dipelajari oleh siswa terutama yang bersekolah di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Hal tersebut ada di dalam pelajaran Bahasa Jawa.
Tembang macapat mempunyai watak beraneka ragam dan perlu dipahami termasuk oleh siswa yang sedang mempelajari Bahasa Jawa. Inilah watake tembang macapat tersebut:
Pucung: Jenaka, humoris, santai, serta berisi teka-teki sampai nasihat
Sinom: Kesabaran, sikap ramah, tulus, dan bijaksana saat menyampaikan suatu nasihat
Maskumambang: Keprhitanan, kesedihan, belas kasih, kesengsaraan, perasaan cemas, dan kesusahan yang dirasakan oleh manusia dalam menghadapi kehidupan
Kinanthi: Penuh kasih sayang, kebahagiaan, perasaan cinta, dan perasaan lain yang identik dengan suasana kebersamaan
Gambuh: Kekeluargaaan, kerukunan, dan perasaan yang timbul dari adanya kebersamaan makhluk sosial
Durma: Angkuh, keras kepala, dan sombong sehingga bisa menggambarkan karakter mausia yang ingin menang sendiri di kehidupan sehari-hari
Megatruh: Kesedihan yang mendalam dan duka
Mijil: Keterbukaan, pengharapan, dan perasaan prihatin
Pangkur: Bersemangat, optimis dengan kehidupan yang akan datang, gagah, serta penuh keyakinan
Asmaradana: Pilu, perasaan sedih, dan penuh dengan cinta kasih yang umumnya menceritakan tentang manusia saat beranjak dewasa serta mulai menyukai lawan jenis
Dhandanggula: Gigih, duka, perjuangan, serta kerja keras manusia dalam menjalani hidup
Baca juga: Definisi Purwaka dalam Pelajaran Bahasa Jawa
Itulah watake tembang macapat dalam kebudayaan Jawa yang juga dipelajari di pelajaran Bahasa Jawa. Semoga dapat membantu siapapun yang sedang mempelajarinya. (LOV)
