Konten dari Pengguna

5 Perbedaan Historiografi Tradisional, Kolonial, dan Modern

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi historiografi tradisional, kolonial, dan modern. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi historiografi tradisional, kolonial, dan modern. Foto: Pixabay

Historiografi adalah ilmu yang mempelajari penulisan sejarah dari masa ke masa. Dalam perkembangannya, historiografi terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu historiografi tradisional, kolonial, dan modern.

Ketiga jenis historiografi ini memiliki pendekatan, tujuan, dan sumber yang berbeda dalam menggambarkan peristiwa sejarah. Apa saja?Simak perbedaan historiografi tradisional, kolonial, dan modern selengkapnya di bawah ini.

Pengertian Historiografi Tradisional, Kolonial, dan Modern

Ilustrasi historiografi tradisional, kolonial, dan modern. Foto: Pixabay

Sebelum membahas perbedaannya, penting untuk memahami definisi tiap jenis historiografi terlebih dahulu. Berikut pengertian historiografi tradisional, kolonial, dan modern yang dikutip dari buku Sejarah: Untuk kelas 1 SMA karangan M. Habib Mustopo.

1. Historiografi Tradisional

Ini adalah cara penulisan sejarah yang berkembang sebelum masuknya pengaruh kolonialisme di suatu wilayah. Umumnya, historiografi ini ditulis oleh sejarawan kerajaan atau kaum cendekiawan yang dekat dengan pusat kekuasaan.

2. Historiografi Kolonial

Penulisan sejarah yang berkembang pada masa penjajahan dan ditulis oleh bangsa kolonial untuk kepentingan mereka. Fokusnya lebih pada keunggulan bangsa penjajah serta pengaruh mereka terhadap daerah yang dijajah.

3. Historiografi Modern

Pendekatan sejarah yang lebih ilmiah dan berbasis pada metode penelitian akademik. Historiografi ini mulai berkembang sejak abad ke-20 dengan pendekatan kritis dan objektif.

Baca Juga: 3 Teori Masuknya Islam ke Indonesia, Apa Saja?

Perbedaan Historiografi Tradisional, Kolonial, dan Modern

Ilustrasi historiografi tradisional, kolonial, dan modern. Foto: Pixabay

Masih dalam sumber yang sama, berikut aspek yang membedakan historiografi tradisional, kolonial, dan modern sebagai ilmu yang mempelajari cara penulisan sejarah.

1. Sumber dan Metode Penulisan

  • Tradisional: Menggunakan sumber lisan, mitos, legenda, prasasti, dan kitab kuno yang sering kali bersifat subjektif.

  • Kolonial: Menggunakan arsip, laporan pemerintahan kolonial, dan catatan perjalanan yang cenderung bias terhadap kepentingan penjajah.

  • Modern: Menggunakan metode ilmiah seperti penelitian arkeologi, dokumen tertulis, serta pendekatan multidisipliner dari berbagai ilmu sosial.

2. Tujuan Penulisan Sejarah

  • Tradisional: Menjaga legitimasi kekuasaan raja atau penguasa dan memperkuat identitas suatu kerajaan atau komunitas.

  • Kolonial: Menjustifikasi kekuasaan kolonial dan menggambarkan penduduk asli sebagai bangsa yang lemah dan tidak beradab.

  • Modern: Mengungkapkan fakta sejarah secara objektif tanpa keberpihakan ke kelompok tertentu.

3. Gaya Penulisan dan Subjektivitas

  • Tradisional: Bersifat subjektif dan sering kali bercampur dengan unsur mistis atau mitologi.

  • Kolonial: Memihak ke kepentingan penjajah dan sering kali merendahkan budaya lokal.

  • Modern: Berbasis penelitian akademik dengan pendekatan kritis dan objektif.

4. Fokus Kajian Sejarah

  • Tradisional: Menitikberatkan pada sejarah kerajaan, tokoh besar, dan peperangan.

  • Kolonial: Berfokus pada kebijakan kolonial, eksploitasi sumber daya, dan hubungan antara penjajah dan penduduk asli.

  • Modern: Menganalisis berbagai aspek sejarah, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan gender.

5. Contoh

  • Tradisional: Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Babad Tanah Jawi yang menceritakan sejarah kerajaan di Nusantara.

  • Kolonial: Buku Max Havelaar karya Multatuli yang menggambarkan sistem tanam paksa di Hindia Belanda.

  • Modern: Penulisan sejarah oleh sejarawan seperti Sartono Kartodirdjo yang menggunakan pendekatan sosial-ekonomi dalam memahami sejarah Indonesia.

(NDA)