5 Perbedaan Historiografi Tradisional, Kolonial, dan Modern

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Historiografi adalah ilmu yang mempelajari penulisan sejarah dari masa ke masa. Dalam perkembangannya, historiografi terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu historiografi tradisional, kolonial, dan modern.
Ketiga jenis historiografi ini memiliki pendekatan, tujuan, dan sumber yang berbeda dalam menggambarkan peristiwa sejarah. Apa saja?Simak perbedaan historiografi tradisional, kolonial, dan modern selengkapnya di bawah ini.
Pengertian Historiografi Tradisional, Kolonial, dan Modern
Sebelum membahas perbedaannya, penting untuk memahami definisi tiap jenis historiografi terlebih dahulu. Berikut pengertian historiografi tradisional, kolonial, dan modern yang dikutip dari buku Sejarah: Untuk kelas 1 SMA karangan M. Habib Mustopo.
1. Historiografi Tradisional
Ini adalah cara penulisan sejarah yang berkembang sebelum masuknya pengaruh kolonialisme di suatu wilayah. Umumnya, historiografi ini ditulis oleh sejarawan kerajaan atau kaum cendekiawan yang dekat dengan pusat kekuasaan.
2. Historiografi Kolonial
Penulisan sejarah yang berkembang pada masa penjajahan dan ditulis oleh bangsa kolonial untuk kepentingan mereka. Fokusnya lebih pada keunggulan bangsa penjajah serta pengaruh mereka terhadap daerah yang dijajah.
3. Historiografi Modern
Pendekatan sejarah yang lebih ilmiah dan berbasis pada metode penelitian akademik. Historiografi ini mulai berkembang sejak abad ke-20 dengan pendekatan kritis dan objektif.
Baca Juga: 3 Teori Masuknya Islam ke Indonesia, Apa Saja?
Perbedaan Historiografi Tradisional, Kolonial, dan Modern
Masih dalam sumber yang sama, berikut aspek yang membedakan historiografi tradisional, kolonial, dan modern sebagai ilmu yang mempelajari cara penulisan sejarah.
1. Sumber dan Metode Penulisan
Tradisional: Menggunakan sumber lisan, mitos, legenda, prasasti, dan kitab kuno yang sering kali bersifat subjektif.
Kolonial: Menggunakan arsip, laporan pemerintahan kolonial, dan catatan perjalanan yang cenderung bias terhadap kepentingan penjajah.
Modern: Menggunakan metode ilmiah seperti penelitian arkeologi, dokumen tertulis, serta pendekatan multidisipliner dari berbagai ilmu sosial.
2. Tujuan Penulisan Sejarah
Tradisional: Menjaga legitimasi kekuasaan raja atau penguasa dan memperkuat identitas suatu kerajaan atau komunitas.
Kolonial: Menjustifikasi kekuasaan kolonial dan menggambarkan penduduk asli sebagai bangsa yang lemah dan tidak beradab.
Modern: Mengungkapkan fakta sejarah secara objektif tanpa keberpihakan ke kelompok tertentu.
3. Gaya Penulisan dan Subjektivitas
Tradisional: Bersifat subjektif dan sering kali bercampur dengan unsur mistis atau mitologi.
Kolonial: Memihak ke kepentingan penjajah dan sering kali merendahkan budaya lokal.
Modern: Berbasis penelitian akademik dengan pendekatan kritis dan objektif.
4. Fokus Kajian Sejarah
Tradisional: Menitikberatkan pada sejarah kerajaan, tokoh besar, dan peperangan.
Kolonial: Berfokus pada kebijakan kolonial, eksploitasi sumber daya, dan hubungan antara penjajah dan penduduk asli.
Modern: Menganalisis berbagai aspek sejarah, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan gender.
5. Contoh
Tradisional: Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Babad Tanah Jawi yang menceritakan sejarah kerajaan di Nusantara.
Kolonial: Buku Max Havelaar karya Multatuli yang menggambarkan sistem tanam paksa di Hindia Belanda.
Modern: Penulisan sejarah oleh sejarawan seperti Sartono Kartodirdjo yang menggunakan pendekatan sosial-ekonomi dalam memahami sejarah Indonesia.
(NDA)
