Konten dari Pengguna

Arti Syair Lagu Cublak-cublak Suweng dan Gundul-gundul Pacul

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lagu. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lagu. Foto: Pexels

Indonesia kaya akan warisan budaya, salah satunya adalah lagu-lagu tradisional. Dua lagu dari daerah Jawa Tengah yang terkenal adalah "Cublak-cublak Suweng" dan "Gundul-gundul Pacul."

Meski dinyanyikan sebagai lagu dolanan anak-anak, syair dalam lagu-lagu ini memiliki makna mendalam dan mengandung nilai filosofi serta ajaran kehidupan. Simak arti dari tiap syair lagu "Cublak-cublak Suweng" dan "Gundul-gundul Pacul" pada uraian berikut.

Arti Syair Lagu Cublak-cublak Suweng

Ilustrasi

Lirik Lagu:

Cublak-cublak suweng

Suwenge teng gelenter

Mambu ketundhung gudel

Pak empo lera-lere

Sopo ngguyu ndhelikake

Sir-sir pong dele kopong

Lagu Cublak-cublak Suweng biasa dinyanyikan oleh anak-anak saat bermain. Permainan tersebut tidak memerlukan tempat khusus, sehingga anak-anak dapat melakukannya di mana saja.

Berikut makna lagunya yang dikutip dari buku Mengukir Nilai Karakter Melalui Tembang Dolanan Anak karya Elisabeth Suratinem dkk.

  • "Cublak-cublak suweng" artinya tempat suweng atau anting-anting bagi anak perempuan. Ini menggambarkan harta yang sejati atau suasana hati yang sedang bahagia, atau sesuatu yang memberi kedamaian maupun ketenangan jiwa.

  • "Suwenge teng gelenter" artinya anting-anting itu ada di mana-mana. Jadi kebahagian atau ketenangan hari itu ada di depan mata, tetapi sering kali manusia tidak menyadarinya dan kerap bukan harta benda.

  • "Mambu ketundhung gudel" melambangkan mencari kebahagian menggunakan hawa nafsu, egois, serakah, tidak mengindahkan norma ataupun agama sehingga melakukan korupsi atau tindak kejahatan untuk kepentingan sendiri.

  • "Pak empo lera-lere" dapat diartikan semacam orang tua yang sudah tidak punya gigi atau ompong, tengak tengok ke kiri ke kanan seperti orang kebingungan. Hal ini karena dikuasai hawa nafsu, sehingga walau hartanya berlimpah ia tak menemukan atau merasakan kebahagian sejati.

  • "Sopo ngguyu ndhelikake" berarti siapa yang tertawa berarti dialah yang menyembunyikan. Ini memberi makna orang yang bersuka cita itulah yang bijaksana, mampu menemukan, dan merasakan kebahagian sejati.

  • "Sir-sir pong dele kopong" artinya kedelai yang kosong, tidak berisi. Hal ini mengajarkan bahwa hidup ini harus bijaksana, banyak bersyukur agar dapat menemukan kebahagian sejati.

Baca Juga: 5 Lagu Daerah Suku Jawa beserta Makna dan Liriknya

Arti Syair Lagu Gundul-Gundul Pacul

Ilustrasi arti syair lagu gundul-gundul pacul. Foto: Pexels

Lirik Lagu:

Gundul-gundul pacul cul

Gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul kul

Gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Lagu tersebut sangat populer bagi masyarakat Jawa. Irama yang ceria membuatnya cocok dinyanyikan anak-anak. Namun, di samping itu, lagu ini memiliki makna tersirat. Berikut pembahasannya.

  • "Gundul" artinya kepala tanpa rambut. Kata gundul memiliki makna kepala (pemimpin) yang tidak memiliki rambut (mahkota). Dalam hal ini, mahkota yang dimaksud ialah kejujuran, keadilan, dan rasa sadar akan posisinya sebagai pemimpin.

  • "Pacul" atau cangkul adalah alat pertanian yang akrab dengan rakyat kecil. Cangkul memiliki empat sisi yang menggambarkan mata, telinga, hidung, dan mulut. Pacul melambangkan pemimpin sudah tidak menggunakan mata, telinga, hidung, dan mulut untuk menunjukkan kepedulian terhadap rakyatnya.

  • "Gembelengan" mempunyai makna yang mendekati dengan sombong, sembarangan, atau menyalahgunakan kekuasaan.

  • "Nyunggi-nyunggi wakul" artinya membawa sesuatu di atas kepala. Wakul adalah suatu tempat yang terbuat dari anyaman bambu, biasanya digunakan untuk tempat nasi. Syair ini diartikan bahwa pemimpin itu membawa amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

  • "Wakul ngglimpang segane dadi sak latar" berarti tempat nasi yang jatuh terguling dan nasinya berserakan. Kalimat ini menggambarkan kegagalan seorang pemimpin karena sikapnya yang tidak amanah dan apa yang menjadi tanggung jawabnya sia-sia.

(SA)