Pengertian Teknik Komunikasi Terapeutik dan Tujuannya dalam Merawat Pasien

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunikasi merupakan salah satu hal penting dalam sebuha hubungan. Hal ini juga berlaku dalam merawat pasien. Salah satu yang banyak digunakan adalah teknik komunikasi terapeutik.
Teknik komunikasi terapeutik dirancang untuk menjadi terapi untuk membina hubungan antara perawat dan pasien. Sehingga, kesembuhan pasien dapat berjalan dengan tepat waktu hingga lebih cepat dari yang ditargetkan.
Pengertian Teknik Komunikasi Terapeutik
Menurut Tri Anjaswarni dalam bukunya Komunikasi dalam Keperawatan (2016), teknik komunikasi terapeutik merupakan komunikasi interpersonal antar perawat dan pasien yang dilakukan dalam keadaan sadar.
Dari komunikasi ini dapat saling memperoleh dan mempengaruhi pengalaman bersama yang memiliki tujuan untuk mengatasi masalah yang dimiliki oleh pasien dan emosional pasien yang pada akhirnya akan mencapai kesembuhan.
Komunikasi terapeutik sendiri memiliki beberapa tujuan, yakni:
Realisasi diri, peningkatan kesadaran, penerimaan diri, dan penghargaan diri.
Kemampuan membina hubungan interpersonal yang efektif dan saling bergantung dengan orang lain dan mandiri.
Meningkatkan kemampuan dan fungsi untuk memenuhi kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis.
Rasa identitas personal yang jelas dan meningkatkan integritas diri.
Tahapan Teknik Komunikasi Terapeutik
Menurut G. Stuart dalam Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart (2016), tahapan komunikasi terapeutik yakni:
1. Fase Pra-Interaksi
Fase ini merupakan fase persiapan yang dapat dilakukan perawat sebelum berinteraksi dan berkomunikasi dengan klien. Pada fase ini, perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri, serta menganalisis kekuatan dan kelemahan profesional diri.
Perawat juga mendapatkan data tentang klien dan jika memungkinkan merencanakan pertemuan pertama dengan klien.
2. Fase Orientasi
Fase ini adalah fase awal interaksi antara perawat dan klien yang bertujuan untuk merencanakan apa yang akan dilakukan pada fase selanjutnya. Pada fase ini, perawat melaksanakan beberapa hal, yakni:
Memulai hubungan dan membina hubungan saling percaya;
Memperjelas keluhan, masalah, atau kebutuhan klien dengan mengajukan pertanyaan tentang perasaan klien;
Merencanakan kontrak/kesepakatan yang meliputi lokasi, kapan, dan lama pertemuan; bahan/materi yang akan diperbincangkan; dan mengakhiri hubungan sementara.
3. Fase Kerja
Fase kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik. Fase kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai.
Tugas utama pada tahap kerja yakni:
Mengeksplorasi stressor yang sesuai/relevan.
Mendorong perkembangan insight klien dan penggunaan mekanisme koping konstruktif.
Menangani tingkah laku yang dipertahankan oleh klien/resistance.
4. Terminasi
Tahapan terminasi ini merupakan tahap akhir dari setiap pertemuan perawat dan klien dalam komunikasi terapeutik. Terminasi terdiri atas 2 bagian yaitu:
Terminasi Sementara
Tahap ini merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien, akan tetapi perawat akan bertemu lagi dengan klien pada waktu yang telah ditentukan.
Terminasi Tahap Akhir
Terminasi ini terjadi jika pasien akan pulang dari rumah sakit atau perawat tidak berdinas lagi di rumah sakit tersebut.
Baca Juga: 4 Metode Pengumpulan Data pada Pasien dalam Perspektif Keperawatan
Dengan adanya teknik komunikasi terapeutik membuat pasien dalam meningkatkan kesehatan fisik dan mental mereka. Sehingga, metode ini memberikan dukungan dan informasi kepada para pasien dan menambah semangat untuk segera pulih kembali.(MZM)
