Punggahan atau Munggahan, Tradisi Masyarakat Jawa dalam Menyambut Ramadan

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Punggahan atau munggahan merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Pulau Jawa dalam menyambut bulan Ramadan. Tradisi ini memiliki tujuan untuk mengingatkan umat muslim bahwa bulan suci tersebut akan segera tiba.
Munggahan dilakukan dengan berdoa, silaturahmi, dan makan bersama keluarga atau kerabat dekat. Tradisi ini dilakukan ketika akan memasuki bulan suci Ramadan.
Apa itu Punggahan atau Munggahan?
Mengutip buku Kebijakan Desa Berketahanan Sosial oleh Irmayani, dkk (2021), munggahan atau munggahan berasal dari kata “munggah” yang artikya naik. Hal ini bisa dimaknai bahwa bulan Ramadan akan segera berlangsung, sehingga perlu disambut dengan keimanan dan ketaqwaan oleh masyarakat.
Umumnya, masyarakat Jawa juga akan mengirimkan doa untuk keluarga yang telah meninggal dunia. Tradisi ini tidak bertentangan dengan syariat Islam, tetapi justru melengkapi syiar agama Islam dengan melakukan kegiatan-kegiatan religius.
Punggahan juga menjadi salah satu cara mengekspresikan kegembiraan dalam menyambut bulan Ramadan yang hanya datang setahun sekali.
Sejarah Punggahan atau Munggahan Tradisi Masyarakat Pulau Jawa
Punggahan atau Munggahan pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan ajaran Islam di Jawa, terutama wilayah Jawa Tengah. Saat itu, Sunan Kalijaga menerapkan metode akulturasi (percampuran kebudayaan) untuk menyebarkan agama Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Punggahan umumnya dilakukan di rumah, masjid, atau musala dengan mengundang tetangga dan sanak saudara. Kemudian, salah satu kyai di daerah setempat memimpin doa dan tahlil.
Saat melakukan punggahan, makanan yang disediakan berupa apem, pasung, pisang raja, dan ketan. Menu ini mengandung filosofi yang berkaitan dengan bulan Ramadan. Adapun makna dari makanan tersebut yaitu:
Ketan yang memakai beras ketan berwarna putih susu menjadi simbol kesucian.
Kue apem berasal dari bahasa Arab “afwan” yang artinya maaf. Nama tersebut mengandung makna bahwa sebelum memasuki Ramadan, umat Muslim harus memohon ampun kepada Allah Swt.
Pisang raja (gedang rojo) yang dalam bahasa Arab “ghodhan rojaa” mengandung makna setiap muslim berharap agar apa yang diminta akan dikabulkan oleh Allah Swt.
Kue pasung yang berbentuk seperti contong berasal dari bahasa Arab “fashoum” yang artinya memasung diri dari hawa napsu.
Baca juga: 5 Ide Munggahan 2025 dalam Menyambut Ramadan
Punggahan atau munggahan merupakan tradisi yang hingga saat ini masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Jawa. Dengan melaksanakan punggahan, diharapkan umat muslim dapat lebih giat menjalankan ibadah di bulan Ramadan. (DLA)
