Rumah Adat Kalimantan Tengah yang Penuh Nilai Sejarah

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumah adat Kalimantan Tengah merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang menyimpan begitu banyak nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal masyarakat Dayak.
Bangunan tradisional ini tidak hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga mencerminkan identitas, simbol kebersamaan, serta hubungan yang erat antara manusia dengan alam.
Dengan struktur yang kokoh, ukiran penuh makna, serta tata ruang yang teratur, rumah adat Kalimantan Tengah menghadirkan gambaran tentang bagaimana leluhur menciptakan hunian yang selaras dengan lingkungan sekitar.
Rumah Adat Kalimantan Tengah
Rumah adat Kalimantan Tengah merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang penuh makna dan nilai sejarah.
Provinsi Kalimantan Tengah sendiri dikenal sebagai wilayah terluas kedua di Indonesia setelah Papua, dengan luas mencapai 153.444 kilometer persegi.
Selain kaya akan sumber daya alam dan keindahan destinasi wisata, daerah ini juga memiliki tradisi serta kearifan lokal yang begitu istimewa.
Dikutip dari laman djkn.kemenkeu.go.id, mengungkapkan bahwa salah satu yang paling menonjol adalah rumah adat suku Dayak yang disebut Huma Betang, dan hingga kini bangunan tersebut masih menjadi simbol kebersamaan masyarakat.
Huma Betang menjadi cerminan kehidupan masyarakat Dayak yang sarat dengan filosofi kebersamaan.
Rumah tradisional ini umumnya berdiri di pedalaman, khususnya di tepi hulu sungai, sehingga mudah diakses oleh warga yang menggantungkan hidupnya pada aliran sungai.
Desainnya dibuat memanjang hingga bisa mencapai lebih dari seratus meter, dan di sepanjang bangunan terdapat banyak pintu.
Pintu-pintu tersebut menjadi tanda setiap kepala keluarga menempati ruang masing-masing dalam satu atap, sehingga Huma Betang menggambarkan kehidupan yang rukun serta harmonis meski dihuni banyak keluarga.
Dalam bahasa Dayak Ngaju, kata huma berarti rumah, sedangkan betang merujuk pada nilai-nilai luhur.
Oleh karena itu, Huma Betang tidak sekadar menjadi tempat tinggal, melainkan juga simbol kehidupan yang menekankan musyawarah, persatuan, kesetaraan, dan persaudaraan.
Selain itu, rumah adat ini mencerminkan ketaatan masyarakat terhadap hukum adat serta semangat gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan demikian, keberadaan Huma Betang sangat penting karena mengajarkan bagaimana hidup berdampingan dengan penuh toleransi dan kebersamaan.
Dari sisi arsitektur, Huma Betang dibangun dengan konsep rumah panggung, biasanya setinggi tiga hingga lima meter dari tanah.
Ketinggian ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan untuk melindungi rumah dari banjir serta serangan binatang buas.
Adapun material utama yang digunakan adalah kayu ulin atau eusideroxylon zwageri.
Kayu berwarna gelap ini terkenal sangat kuat, tahan air, dan tidak mudah lapuk, sehingga dianggap ideal untuk bangunan di wilayah berawa seperti Kalimantan Tengah.
Selain arsitektur yang kokoh, ada pula keunikan pada tangga Huma Betang. Jumlah anak tangganya selalu ganjil, sebab hal ini diyakini membawa keberuntungan, memudahkan rezeki, serta menjauhkan penghuni dari marabahaya.
Tidak hanya itu, di bagian depan rumah juga terdapat patung kayu berbentuk manusia yang disebut Sapundu.
Patung ini diukir dengan motif khas Dayak Ngaju dan berfungsi untuk mengikat hewan kurban pada upacara adat Tiwah, sebuah ritual sakral yang diwariskan sejak lama.
Dengan segala keindahan dan keunikannya, rumah adat Kalimantan Tengah bukan sekadar bangunan tradisional, melainkan juga cerminan jati diri dan kearifan lokal masyarakat Dayak yang patut dijaga serta dilestarikan. (DANI)
Baca juga: 3 Rumah Adat Jawa Timur dan Filosofinya
