news-card-video
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna

Teori Abiogenesis Mengenai Asal Usul Kehidupan

25 Februari 2025 12:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi teori abiogenesis. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teori abiogenesis. Foto: Pexels
ADVERTISEMENT
Asal usul kehidupan di Bumi selalu menjadi pertanyaan besar dalam dunia sains. Salah satu teori yang mencoba menjawab pertanyaan ini adalah teori abiogenesis, yaitu gagasan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati dan terjadi secara spontan.
ADVERTISEMENT
Artikel ini akan membahas secara mendalam teori abiogenesis, sejarah perkembangannya, serta eksperimen yang dilakukan untuk menguji kebenaran teori ini.

Sejarah Teori Abiogenesis dan Sejarah Perkembangannya

Ilustrasi teori abiogenesis. Foto: Pexels
Teori abiogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan karena adanya daya hidup. Pengertian ini selanjutnya dikenal sebagai generatio spontanea.
Teori ini dikemukakan oleh Aristoteles (384—322 SM), seorang ahli filsafat Yunani, dan bertahan hingga pertengahan abad 17. Dari pemahamannya, makhluk hidup pertama berasal dari benda tak hidup.
Contoh-contoh hewan yang menurut penganut teori abiogenesis berasal dari benda mati, misalnya, ikan berasal dari lumpur, cacing berasal dari tanah, dan belatung berasal dari daging yang membusuk.
Sebenarnya ia mengetahui bahwa makhluk hidup yang baru merupakan hasil perkawinan induknya. Namun, ia masih percaya bahwa ada makhluk lain yang muncul dari lumpur atau tanah, misalnya, sehingga makhluk tersebut dianggap timbul secara spontan. Berdasarkan pengamatan dan pemahaman inilah, ia akhirnya mencanangkan teori abiogenesis.
ADVERTISEMENT
Meskipun teori yang dikemukakan oleh Aristoteles tersebut dapat bertahan sampai ratusan tahun lamanya, tak semua orang puas terhadap teori ini, karena pengamatannya dilakukan dengan tidak melalui langkah-langkah ilmiah yang benar.
Aristoteles tak menggunakan metode ilmiah dalam mengemukakan teorinya, yaitu cara atau tahapan atau langkah tertentu yang harus diikuti oleh seorang ilmuan dalam melakukan suatu penelitan.
Sementara itu, teori abiogenesis dapat bertahan sangat lama karena teori ini memiliki banyak pendukung, di antaranya Jean Baptise van Helmont, Harold Urey-Stanley Miller, dan Oparin.

Percobaan Teori Abiogenesis

Ilustrasi teori abiogenesis. Foto: Pexels
Pada 1620, Jean Baptise van Helmont, seorang ahli Fisika berkebangsaan Belgia melakukan eksperimen untuk menguji hipotesis teori abiogenesis. Ia berpendapat bahwa tikus berasal dari biji gandum dan keringat manusia.
ADVERTISEMENT
Mengutip buku berjudul Cerdas Belajar Biologi karya Oman Karmana dijelaskan bahwa berdasarkan hasil pengamatannya, baju yang kotor bekas keringat disimpan pada tempat penyipanan gandum akan menjadi tikus setelah 20 hari.
Tikus terbentuk dari fermentasi gandum dan keringat manusia merupakan daya hidupnya. Dipercayai pula bahwa katak dan ikan terjadi akibat guntur turun ke Bumi bersamaan dengan air hujan. Sementara itu, lebah madu berasal dari kotoran kuda yang telah membusuk.
Pendapat mengenai teori abiogenesis terus berkembang hingga abad ke-17. Salah seorang pengamat paham abiogenesis, Anthony Van Leeuwenhoek berhasil membuat mikroskop dan melihat jasad renik di dalam air bekas rendaman jerami. Penemuan ini memperkuat teori abiogenesis, bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati. Dalam hal ini jasad renik dianggap berasal dari air bekas rendaman jerami.
ADVERTISEMENT
(SA)