Konten dari Pengguna

5 Alasan Kenapa Pernikahan yang Penuh Derita Tetap Bisa Bertahan

Berita Viral

Berita Viral

Membahas isu-isu yang lagi viral

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Viral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perceraian. Foto: Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perceraian. Foto: Kumparan

Pernikahan tak selalu indah. Bahkan, tak sedikit hubungan yang sampai dipenuhi dengan penderitaan. Hanya saja, meski terus menderita, alih-alih bercerai sebagian pasangan suami istri memilih untuk tetap memertahankan pernikahannya.

Fenomena tersebut bisa ditemukan di manapun dan terkadang bisa dilihat dengan kasat mata. Beberapa di antaranya bahkan sampai bikin bertanya-tanya: “apakah mereka pernah saling cinta?”

Mengutip dari Psychology Today, ternyata ada beberapa alasan pernikahan yang penuh dengan derita bisa bertahan lama. Merangkum dari sana, berikut lima alasan utama pasutri bisa mempertahankan hubungan meski menderita.

1. Anak

Ilustrasi anak bersedih karena perceraian orang tua. Foto: Shutterstock

Bila pasangan suami istri sudah mempunyai anak, kerap kali menjadi alasan pernikahan bisa bertahan walau lebih sering menderita. Bukan hanya karena rasa takut kehilangan karena adanya hak asuh, tetapi juga kekhawatiran jadi dibenci anak.

Pasalnya, tak sedikit anak yang mengalami orang tuanya bercerai jadi mengasingkan diri dari salah satu orang tua, bahkan sampai bila sudah ada cucu. Karena hal-hal melibatkan anak itulah yang bikin beberapa orang tua bertahan di pernikahan meski penuh derita.

2. Rasa bersalah dan takut

Meski ada masa hubungan penuh derita mencapai puncaknya, terkadang akan muncul rasa bersalah karena akan menyakiti pasangan yang dicintai--atau setidaknya pernah dicinta. Belum lagi anak dan orang tua yang juga akan sakit hati dengan perceraian, jadi sebab enggannya pasangan berpisah.

Selain rasa bersalah, timbul juga rasa takut akan ketidakpastian, seperti: risiko hidup sampai tua sendirian, jadi berperan sebagai orang tua tunggal, hingga merasa tak bisa jatuh cinta lagi. Ada juga rasa takut akan proses berpisah yang bisa meningkatkan permusuhan dan kekerasan.

3. Rasa malu dan kepercayaan agama

Buat kebanyakan orang, rasa malu akan timbul ketika ingin mengakhiri hubungan pernikahan. Terlebih, bila orang tersebut taat beragama, di mana perceraian merupakan sesuatu yang dibenci Tuhan.

Karena alasan itu, beberapa pasangan memilih enggan untuk berpisah meski sehari-hari hidupnya sengsara. Selain agama, rasa malu tersebut juga bisa dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan sekitar.

4. Sedikit kebahagiaan

Ilustrasi pernikahan. (Foto: Pixabay)

Setiap saat bertengkar dan menjalani hari-hari penuh dengan penderitaan, tapi kok memilih tak berpisah? Salah satu alasan yakni nyaris selalu adanya momen kebahagiaan meski hanya sedikit-sedikit.

Momen bahagia singkat bersama pasangan sebelum akhirnya konflik lagi jadi penghalang keinginan berpisah. Beberapa orang tak mau kehilangan momen tersebut sehingga memilih untuk bertahan

5. Harapan keadaan jadi membaik

Dalam keadaan tersebut, hubungan terlihat sudah seperti tak ada harapan. Namun, tak sedikit dari pasutri yang masih berharap bahwa pernikahan bisa membaik sehingga memilih untuk bertahan. Sebuah studi ternyata mendukung harapan tersebut.

Dari penelitian hubungan selama 20 tahun, disebutkan bahwa pernikahan rentan di tahun-tahun awal. Sementara yang bertahan lebih dari 20 tahun hubungannya cenderung membaik seiring waktu. (bob)