Konten dari Pengguna

Universe 25, Eksperimen Dunia Surga bagi Para Tikus yang Berujung Mengerikan

Berita Viral

Berita Viral

Membahas isu-isu yang lagi viral

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Viral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tikus. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tikus. Foto: Shutterstock

Sejak lama ilmuwan kerap melakukan eksperimen untuk mencari ilmu pengetahuan baru. Namun, eksperimen-eksperimen tak semua berjalan mulus, beberapa di antaranya menemui kegagalan.

Salah satu yang berujung kegagalan adalah eksperimen Universe 25. Eksperimen yang dilakukan pada 1972 ini terbilang mengerikan.

Dikutip IFL Science, eksperimen ini dilakukan pengamat perilaku hewan John Calhoun. Dia membuat sebuah eksperimen di mana ia membuat Universe 25 atau dunia surga bagi para tikus.

Mereka semua berada dalam suatu kandang utopia, berisikan banyak gedung-gedung tinggi penuh makanan. Lalu semuanya tidak ada yang kelaparan dan tidak ada yang kotor karena selalu dibersihkan.

Calhoun mengamati tiap-tiap peristiwa yang terjadi setiap 60 hari. Populasinya bertambah dua kali lipat yang dimulai dari 4 pejantan dan 4 betina hingga 2.200 populasi pada hari ke-560.

Setelah itu, populasinya semakin menurun dari hari ke hari. Hingga akhirnya mereka semua punah pada rasio yang tidak dapat dipulihkan.

Pada awalnya empat pejantan dan betina tersebut hidup dengan bahagia. Hingga populasi menjadi pada,t mereka semua mulai menyerang satu sama lain.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Calhoun menarik kesimpulannya bahwa tikus-tikus mulai menjadi malas. Setiap hari hanya tidur dan makan.

Hampir setiap hari, semua tikus berdiri di tengah menunggu dikasih makan dan mulai menyerang satu sama lainnya. Saat semuanya kacau, mereka yang punya “otoritas” hidupnya aman dan nyaman tidak terikat pada kekerasan. Otoritas yang dimaksud di sini adalah mereka membuat kastanisasi sendiri berdasarkan kekuasaan.

embed from external kumparan

Calhoun menyebut, alasan tikus-tikus ini berubah dari yang hidup bahagia menjadi saling bunuh, berkaitan dengan kepadatan populasi. Calhoun menyebutnya The Behavioral Sink. Jika kelaparan tidak membunuh suatu populasi, mereka akan membunuh kaumnya satu sama lain.

Hal ini berkaitan erat dengan over populasi dan kepadatan penduduk. Perilaku mereka berubah ketika populasi di suatu area terlalu banyak, tikus-tikus ini mulai agresif, yang semula surga menjadi neraka.

Eksperimen ini kemudian diunggah oleh akun @creepy_id di Instagram dan mendapat respons beragam dari warganet.

"Pernah denger istilah banyak anak banyak rezeki? Kira2 gitulah rata2 mindset boomer jadul, makanya jadi ada lonjakan kelahiran di mana-mana. Biasanya (yang sekarang umurnya kepala 5/6) bisa punya anak lebih dari 3," komentar seorang warganet.

"Itu menurut pemikiran manusia. Tapi Tuhan punya rencana lain supaya populasi tetap seimbang," timpal yang lain. (ace)