10 Tahun Tinggal di Panti Wreda, Nenek Habi'ah Rindu Anak Cucu di Makassar
ยทwaktu baca 2 menit

Wajahnya selalu terlihat ceria. Bahkan di usianya yang sudah menginjak 60 tahun, nenek Habi'ah masih suka mengenakan lipstik berwarna merah.
"Meski tua harus tetap cantik kan," ujarnya seraya tergelak saat ditemui Basra di panti wreda UPTD Liponsos Kalijudan Surabaya, Rabu (21/12).
Sudah lebih dari 10 tahun nenek Habi'ah tinggal di panti wreda di Surabaya. Sebelum di Kalijudan, nenek Habi'ah sempat tinggal di panti jompo di kawasan Medokan dan Jambangan. Namun selama 10 tahun itu pula tak ada anak ataupun keluarga nenek Habi'ah yang menjenguknya.
"Di Surabaya enggak punya siapa-siapa. Suami sudah meninggal, anak sama cucu tinggal di Makassar," tutur ibu 2 anak dan 10 cucu ini.
Nenek Habi'ah merupakan warga Surabaya, sejak menikah nenek Habi'ah tinggal di Makassar bersama sang suami. Saat sang suami meninggal, nenek Habi'ah memutuskan kembali ke Surabaya tanpa kedua anaknya.
Nenek Habi'ah lantas berkisah jika dirinya bisa tinggal di panti jompo karena terjaring operasi usai pulang kerja dini hari.
"Saya di Surabaya kan tinggal sendirian, anak-anak masih di Makassar. Pas saya pulang kerja di konveksi, saya ketangkap (terjaring razia). Di kira saya perempuan nggak bener karena malam-malam keluyuran sendirian, padahal saya pulang kerja," jelasnya.
Karena tidak memiliki keluarga di Surabaya, nenek Habi'ah lantas di antar ke Liponsos Keputih. Dari sini nenek Habi'ah dipindah ke panti jompo di kawasan Medokan.
"Pokoknya saya mulai tinggal di panti itu pas pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) jadi presiden. Saya nggak tahu tahun berapa wong saya nggak bisa baca tulis," tukasnya.
Sejak memutuskan kembali ke Surabaya, nenek Habi'ah mengaku tak pernah bertemu anak dan cucunya. Bahkan nomor telepon mereka pun, nenek Habi'ah mengaku tak punya.
"Sudah enggak pernah ketemu lagi," lirihnya.
Meski tak pernah berjumpa dengan anak dan cucunya, namun nenek Habi'ah tak pernah lelah mendoakan mereka. Di setiap sujudnya hanya kebahagian anak dan cucunya yang selalu dipanjatkan dalam doanya.
"Saya selalu berdoa semoga mereka bahagia. Ya kalau kangen mereka, saya hanya bisa berdoa sama Allah," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Nenek Habi'ah mengaku sudah pasrah akan jalan hidupnya tinggal di panti jompo. Apalagi di panti jompo nenek Habi'ah bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya.
"Di sini banyak teman, sekarang mereka keluarga saya. Kita selalu salat berjamaah. Saya senang tinggal di sini, orangnya baik-baik," tandasnya.
