Konten Media Partner

2 Ribu Foto dan Video di Medsos Bisa Disalahgunakan Pakai Deepfake

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Pixabay.

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan adanya video syur artis Nagita Slavina yang merupakan hasil rekayasa atau deepfake. Jika tidak diperhatikan dengan baik, video tersebut dianggap sebagai hal benar.

Deepfake sendiri merupakan bagian dari Artificial Intelligence (AI), dan sesuai dengan namanya fake itu palsu dan deep adalah algoritma yang melakukan proses pembelajaran mendalam.

Sehingga deepfake ini dapat mengganti wajah orang lain dengan gambar atau wajahnya dari berbagai posisi atau angle.

Pakar IT Universitas Dinamika (Undik) Surabaya Dr. Jusak mengatakan kurang lebih 2.000 foto atau video diri di sosial media dapat menghasilkan deepfake yang cukup akurat.

“Kalau aktor bisa dibilang mudah dibuat deepfake, dan hasilnya akurat atau 95 persen sama dengan orang aslinya. Hal tersebut karena internet atau sosial media menyimpan ribuan foto artis dari berbagai angel,” ucapnya, Jumat (28/1).

Menurutnya, deepfake dalam dunia IT merupakan sebuah pengembangan yang sangat positif. Ķarena inovasi ini bisa dimanfaatkan untuk industri film. "Untuk adegan yang berbahaya atau mungkin aktor utama mengalami kendala,” tuturnya.

Tak hanya itu, adanya inovasi ini juga menjadi masalah baru di masyarakat dengan pencemaran nama baik. Misalnya jika ada orang ingin menjebak, fitnah, atau untuk mengancam orang lain.

"Sehingga membuat deepfake dengan pakaian terbuka atau gambar tidak semestinya atau unsur pornografi untuk disebarkan," tambah Dosen Teknik Komputer Undika ini.

Pakar IT Universitas Dinamika (Undik) Surabaya Dr. Jusak.

Sayangnya, untuk saat ini belum ada teknologi atau alat untuk melihat kebenaran sebuah foto atau video. Sehingga jika terdapat kasus pencemaran nama baik seseorang melalui foto atau video palsu (deepfake) masih dilakukan pemeriksaan secara manual.

“Apalagi saat ini banyak aplikasi deepfake mempermudah masyarakat untuk mengubah wajah sebuah foto atau video bahkan suara,” ungkapnya.

Dalam menangani kasus tersebut bisa ke ranah hukum, cara yang bisa dilakukan yakni menganalisis secara manual dengan melihat seluruh badan dan perbedaannya. Hal tersebut karena biasanya deepfake hanya mengganti bagian wajah atau mulut saja.

“Misalnya seperti yang kasus di video Gigi (Nagita Slavina) kan di pundak atau atas dada ada tato, padahal Gigi tidak mempunyai tato di area tersebut,” kata Jusak.

Agar hal tersebut tak terjadi, Jusak berpesan agar masyarakat yang menggunakan sosial media bisa waspada dan mengetahui risiko-risiko yang terjadi. Apalagi mengunggah foto dengan berbagai model, posisi dan angle.

“Tidak banyak mengupload posisi kita berbagai macam sudut sih itu pasti cukup aman. Semakin banyak foto atau gambar tersebar di situs-situs online, maka semakin memudahkan aplikasi deepfake untuk menghasilkan kualitas gambar yang bagus. Karena teknologi itu pasti ada sisi positif dan negatifnya, kalau untuk masyarakat umum bisa memanfaatkan teknologi dengan baik dan memanfaatkan deepfake untuk mengembangkan motivasi kita. Misalnya, deepfake bisa membuat tiruan wajah Soekarno berpidato untuk membangkitkan semangat nasionalisme generasi muda. Jadi mari kita manfaatkan teknologi ini untuk hal yang positif," pungkasnya.