Anak Terlambat Imunisasi, Orang Tua Harus Bagaimana?
ยทwaktu baca 5 menit

Pertanyaan :
Halo dok, saya Anggraeni di Surabaya, usia 24 tahun, ibu dari 2 orang anak berusia 4,5 bulan dan 3 tahun. Saya ingin bertanya dok, seberapa penting imunisasi untuk anak? Jika anak terlambat jadwal imunisasi, apa yang harus dilakukan orang tua? Apakah benar imunisasi pasti membuat anak demam? Lalu mitos apa saja terkait imunisasi pada anak? Terima kasih dok.
Jawaban :
Halo Anggraeni, terima kasih pertanyaannya. Untuk mencegah penyakit infeksi yang dapat menyerang anak di kemudian hari, imunisasi perlu dilakukan. Sayangnya, banyak beredar mitos-mitos di tengah masyarakat terkait imunisasi sehingga beberapa orang tua enggan untuk membawa anak imunisasi. Padahal imunisasi itu sangat penting untuk kesehatan anak.
Imunisasi penting diberikan pada anak agar daya tahan tubuhnya terbentuk, sehingga terhindar dari berbagai penyakit infeksi.
Pasca pandemi, banyak anak yang terlambat imunisasi, karena saat pandemi banyak orang tua yang takut membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi karena takut tertular Covid-19. Nah, apabila waktu pemberian imunisasi terlewatkan bisa dilakukan imunisasi kejaran (catch up immunization). Biasanya pemberian imunisasi kejaran ini berjarak setiap dua minggu antar jenis imunisasi yang terlewat sampai akhirnya waktu yang terlewatkan bisa terkejar.
Jedanya tiap minimal dua minggu sampai rentang waktu 4 minggu. Yang tahu imunisasi kejaran ini dokter spesialis anak. Jadi sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis anak untuk pembuatan jadwal imunisasi kejar.
Dalam imunisasi kejaran ada vaksin yang bisa langsung dilakukan tanpa melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Namun ada vaksin yang harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, contohnya vaksin BCG jika terlambat lama harus tes mantoux terlebih dahulu. Jika negatif barulah imunisasi kejaran BCG dapat diberikan.
Nah, beberapa mitos yang berseliweran di tengah masyarakat terkait imunisasi, antara lain adalah setelah imunisasi anak pasti mengalami demam. Vaksin imunisasi itu adalah kuman, virus ataupun bakteri yang sudah dilemahkan atau dimatikan, kemudian dimasukkan ke tubuh. Dengan tujuan vaksin yang diberikan itu membentuk antibodi. Sehingga ada efek kekebalan atau proteksi di tubuh kita terhadap kuman yang dapat menyebabkan infeksi serta komplikasi berbahaya.
Semua proses antigen antibodi itu bisa menimbulkan, bisa juga tidak menimbulkan efek, baik panas atau pun bengkak. Hal itu juga tergantung dari respons tubuh masing-masing terhadap vaksin yag dimasukkan ke tubuh. Jika muncul efek seperti demam atau pun bengkak, hal ini disebut Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI). Efek samping ini sifatnya hanya sementara dan tidak berbahaya.
Pemberian vaksin itu sendiri sebaiknya diberikan ketika kondisi tubuh anak sedang fit untuk meminimalkan munculnya efek samping. Jadi keberhasilan dari vaksin itu sendiri tergantung dari vaksinnya dan kondisi tubuh.
Vaksin kurang maksimal hasilnya bisa jadi karena vaksinnya sudah kedaluwarsa, penyimpanan dengan suhu yang kurang tepat, sehingga kualitas vaksinnya kurang bagus. Bisa juga karena kondisi tubuh yang sedang tidak fit ketika vaksin.
Sebaiknya anak imunisasi dilakukan saat tidak demam. Karena jika dilakukan saat demam dan muncul efek samping demam, tidak bisa dibedakan demamnya akibat KIPI atau karena sedang sakit demam sebelum vaksin. Jadi kondisi tubuh harus sehat ketika vaksin.
Mitos berikutnya adalah bayi yang masih menyusu ASI tidak perlu imunisasi karena ASI dianggap sebagai pengganti imunisasi. Tidak seperti itu karena cara kerja ASI dan imunisasi dalam membentuk sistem imun tubuh adalah 2 hal yang berbeda. Seharusnya ASI dan imunisasi itu seiring sejalan, agar terbentuk imun tubuh yang optimal dalam mencegat infeksi penyakit.
Mitos yang lebih ekstrem, vaksin bisa bikin anak autis. Tentu tidak ya. Karena sampai sekarang tidak ada penelitian yang menyebutkan vaksin bisa menyebabkan anak autis. Yang perlu dipahami, autis itu utamanya disebabkan genetik.
Ada juga orang tua yang tidak mau anaknya vaksin karena khawatir vaksinnya mengandung babi. Padahal tidak semua vaksin itu ada kandungan babinya, kalau pun ada itu hanya sepersekian persen saat awal proses pembuatan dan kadarnya makin berkurang bahkan hilang ditahap akhir pembuatan vaksin. Mengutip hukum Islam, kalau tujuannya untuk melindungi anak artinya vaksin tersebut manfaatnya lebih besar, jadi tidak diharamkan.
Nah, belum lagi orang tua yang tidak mengizinkan anaknya ikut vaksin di sekolah karena kuatir akan kualitas vaksin yang digunakan. Biasanya vaksin di sekolah itu kan gratis jadi banyak orang tua yang ragu akan kualitas vaksinnya. Padahal ini kan program pemerintah. Jadi kalau ada vaksin di sekolah ya tidak apa-apa anak ikut. Mungkin merek vaksin yang digunakan di sekolah itu berbeda dengan merek vaksin yang berbayar, tetapi tidak perlu khawatir karena kandungannya sama.
Banyaknya mitos-mitos yang berseliweran itu sebaiknya para orang tua lebih aware. Sekarang kan eranya serba online jadi lebih mudah mengakses informasi. Sebagai orang tua harus bisa memilah informasi yang terpercaya dan mana yang tidak. Carilah informasi dari sumber-sumber yang valid, misalnya dari Kemenkes atau IDAI. Kalau dari sumber yang tidak akurat maka tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Vaksin sendiri ada yang bisa diberikan secara bersamaan atau sendiri-sendiri. Misalnya DPT dengan BCG yang bisa diberikan bersamaan. Dari penelitian pun tidak terbukti menimbulkan komplikasi jika diberikan bersamaan.
Sejauh ini di kota-kota besar sudah meningkat awareness orang tua untuk membawa anaknya imunisasi. Hanya saja memang belum sebanyak sebelum pandemi COVID-19.
MedicElle Clinic merupakan klinik khusus wanita pertama dan satu-satunya di Jawa Timur dengan semua tenaga medisnya wanita.
MedicElle Clinic melayani medical check up, dokter spesialis bedah dan payudara, dokter spesialis kandungan, dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi medik (kanker dan kelainan darah), dokter spesialis anak, dokter gigi umum dan spesialis konservasi gigi, dokter spesialis kulit dan kelamin, dokter spesialis rehabilitasi medik serta dokter umum.
MedicElle Clinic juga melayani pemeriksaan Laboratoriun, Radiologi (Rontgen, USG dan Mammografi) serta terdapat layanan Farmasi dan One Day Care (Pembedahan dan Kemoterapi). Melibatkan dokter ahli dan pengalaman dengan teknologi modern dan berkualitas bagi pasien.
Narasumber :
dr. Lini Delina, Sp.A
Dokter Spesialis Anak
MedicElle Clinic Surabaya
