Angkat Lakon Persahabatan, Wisma Jerman Pentaskan Wayang Rajakaya

Konten Media Partner
26 Februari 2024 11:38 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Bayu Aji saat menunjukkan wayang Rajakaya kreasinya. Foto-foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Bayu Aji saat menunjukkan wayang Rajakaya kreasinya. Foto-foto: Masruroh/Basra
ADVERTISEMENT
Mengawali 2024, Wisma Jerman menampilkan seorang dalang wayang kreasi baru dari Solo, Herlambang Bayu Aji. Kreator Wayang Rajakaya ini telah bermukim di Berlin, Jerman, sejak tahun 2010.
ADVERTISEMENT
"Kebetulan mas Bayu sedang pulang ke Indonesia dan melakukan beberapa pementasan. Jadi sekalian saja kami ajak kolaborasi untuk menampilkan kesenian wayang Rajakaya," ujar Ipung, Asisten Bagian Budaya dan Program Wisma Jerman, kepada Basra, Senin (26/2).
Ipung mengungkapkan, pada momen ini, Bayu akan melakukan pementasan tunggal secara gratis di Mawar Sharon Christian School Surabaya pada Selasa (27/2) sore. Dalam pementasan tersebut, Bayu akan membawakan lakon tentang persahabatan, kepedulian antar sesama, lingkungan hidup dan bekerja sama.
Workshop membuat wayang.
"Lakon dengan judul 'Persahabatan itu Indah' dan 'Dal Gembong Dinas', dimaksudkan sebagai seni pertunjukan wayang untuk anak-anak dan keluarga," tutur Ipung.
Pementasan akan diiringi suara dan musik rekaman. Cerita dan lagu-lagu pengiringnya diciptakan dan ditulis sendiri oleh Bayu Aji.
ADVERTISEMENT
"Selain pementasan, kami juga menggelar kegiatan yang mencakup pameran dan workshop pembuatan wayang untuk anak-anak dan orang dewasa," terangnya.
Pameran wayang karya Bayu dapat dinikmati di Rumah Budaya Sidoarjo. Pameran ini digelar hingga pertengahan Maret mendatang.
Wayang Rajakaya sendiri ialah wayang binatang ternak berkaki empat, dua kaki untuk berdiri, dan dua kaki lain menjadi tangan. Wayang ini diciptakan oleh Bayu.
Istilah Rajakaya berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya binatang ternak berkaki empat. Hewan-hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau dan kuda peliharaan masyarakat Jawa tempo dulu dianggap sebagai salah satu bentuk investasi, sekaligus penanda status sosial dan ekonomi pemiliknya.