Asyiknya Belajar Calistung dengan 'Papiku'
·waktu baca 2 menit

Calistung atau kepanjangan dari membaca, menulis dan berhitung merupakan kemampuan dasar yang wajib dimiliki anak di usia dini. Namun sayangnya tidak semua siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sudah memiliki kemampuan calistung. Hal ini seperti yang terjadi pada siswa asuhan Dewi Maryam.
"Di kelas saya ada 2 siswa yang IQ nya rendah. Bahkan setiap hari mereka mau mengikuti pelajaran. Saya pun berpikir bagaimana dua anak ini bisa ikut aktif belajar calistung bersama teman-temannya. Jadilah saya buat media Papiku kepanjangan dari papan pintarku," ujar Dewi kepada Basra, Selasa (7/6).
Papiku, kata Dewi, merupakan media pembelajaran numerasi untuk penjumlahan, pengurangan, dan bilangan cacah sampai dengan 99.
"Papiku ini sebenarnya untuk siswa kelas 1 SD tapi masih bisa dipakai untuk siswa kelas 3 SD," imbuh perempuan berhijab ini.
Diakui Dewi kehadiran media Papiku cukup efektif menarik minat dua siswanya yang ber IQ rendah tersebut untuk belajar calistung.
Dijelaskan Dewi, Papiku terbuat dari papan kayu besar yang disertai kaleng-kaleng. Kaleng-kaleng tersebut, kata Dewi, merupakan perwakilan dari bilangan satuan dan puluhan.
"Kaleng pilihannya nanti diisi dengan sumpit sebagai perwakilan bilangan satuan, sedangkan untuk perwakilan bilangan puluhan saya gunakan sedotan plastik. Baik sumpit maupun sedotan plastik ini merupakan barang bekas yang banyak saya dijumpai di kantin sekolah," paparnya.
Adapun cara kerja media Papiku, seperti dijelaskan Dewi, misalnya untuk bilangan 34, karena angka 4 itu merupakan satuan sedangkan angka 3 merupakan puluhan maka kaleng satuan akan diisi 4 sedotan. Adapun untuk kaleng puluhan diisi 3 sumpit.
"Untuk sumpit dan sedotan bisa digantikan bahan lainnya asalkan tidak berbahaya bagi anak," tukas Dewi.
Dewi merupakan salah satu guru di Jatim yang terpilih untuk mengikuti program
Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), yakni merupakan program kemitraan antara pemerintah Australia dengan pemerintah Indonesia.
Bekerja langsung dengan Kemendikbud dan Kemenag, INOVASI berupaya memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di sekolah-sekolah yang ada di berbagai kabupaten di Indonesia, terutama dalam hal kemampuan literasi dan numerasi. Program INOVASI diimplementasikan di beberapa daerah di Indonesia yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Utara (Kaltara), dan Jawa Timur (Jatim).
Program kemitraan INOVASI dan penerima hibah yang dimulai dijalankan sejak Bulan April 2021 dan berakhir di bulan Juni 2022, telah menumbuhkan berbagai praktik baik pelaksanaan program di SD/MI baik untuk literasi, numerasi, pendidikan karakter maupun perwujudan sekolah yang responsif gender.
