Bola & Sports
·
29 Juni 2021 18:02
·
waktu baca 2 menit

Atlet Paralimpik di Surabaya Latih Lempar Cakram di Area Pemakaman

Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)
Atlet Paralimpik di Surabaya Latih Lempar Cakram di Area Pemakaman (768176)
searchPerbesar
Syaiful Arifin saat latihan di tanah lapang di area pemakaman Dermo, Sukomanunggal, Surabaya
Sebagai atlet lempar cakram, Syaiful Arifin (37) telah menorehkan sederet prestasi untuk Kota Surabaya. Meski demikian Syaiful harus rela berlatih di area pemakaman. Ini terjadi karena Syaiful kesulitan mencari lapangan di Surabaya yang bisa dijadikan sebagai tempat latihan.
ADVERTISEMENT
"Ada lapangan Thor yang biasa dipakai teman-teman disabilitas untuk latihan. Tapi disana (lapangan Thor) tidak boleh kalau latihan lempar (cakram dan tolak peluru) karena katanya lapangannya bisa rusak," ungkap Syaiful kepada Basra, Selasa (29/6).
Mirisnya, asosiasi atlet disabilitas di kota ini yang menaungi Syaiful seolah menutup mata akan minimnya sarana dan prasarana berlatih bagi para atletnya. Alhasil, Syaiful harus rela mencari tempat latihan sendiri.
Setelah berkeliling mencari tempat latihan yang dirasa cocok, Syaiful menjatuhkan pilihan pada sebuah tanah lapang di area pemakaman Dermo, Sukomanunggal.
"Ya mau bagaimana lagi, nemunya ini. Yang penting bisa dipakai untuk latihan dan gratis lagi," tukasnya.
Syaiful mengaku fasilitas latihan baru akan disediakan jika ada kejuaraan. Sebaliknya, jika tidak ada kejuaraan maka fasilitas latihan pun tak ada.
ADVERTISEMENT
"Untuk menjaga kondisi tubuh kita kan perlu latihan rutin. Nggak bisa kalau hanya latihan pas mau ada kejuaraan saja," tegasnya.
Selain menyayangkan minimnya sarana latihan bagi atlet lempar cakram, Syaiful juga mengeluhkan tak adanya perhatian dari pemerintah (Pemkot Surabaya) terhadap atlet disabilitas. Syaiful lantas menyebut contoh kecil saat atlet disabilitas akan bertanding di ajang Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jawa Timur I 2021 akhir Mei lalu.
"Kita kan juga ingin seperti daerah lain, yang sebelum berangkat bertanding bisa sowan dulu ke bapak (Wali Kota). Lalu pulangnya kita disambut meski sederhana, apalagi kita dapat banyak medali," ujarnya.
Syaiful berharap Pemkot Surabaya dapat lebih memperhatikan atlet disabilitas, tak terkecuali terkait penyediaan lapangan untuk latihan tanpa membedakan cabang olahraga.
ADVERTISEMENT