Konten Media Partner

AUTRAM, Moda Transportasi Masa Depan dengan Tenaga Surya

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Spesisfikasi AUTRAM yang terdiri dari sensor, baterai sebagai sumber tenaga penggerak trem, serta kapasitas penumpang yang dapat diangkut.
zoom-in-whitePerbesar
Spesisfikasi AUTRAM yang terdiri dari sensor, baterai sebagai sumber tenaga penggerak trem, serta kapasitas penumpang yang dapat diangkut.

Dua mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) baru saja menggagas sebuah inovasi barupa trem tanpa pengemudi bertenaga baterai sebagai moda transportasi masa depan atau Autonomous Electric Tram (AUTRAM).

Inovasi tersebut merupakan karya Muhammad Ainul Yaqin dan Novandian Rafly Kurniawan mahasiswa Departemen Teknik Fisika ITS.

Muhammad Ainul Yaqin, Ketua Tim Peneliti mengatakan, gagasan AUTRAM sebagai kendaraan yang menggunakan tenaga baterai ini berangkat dari keprihatinan terhadap buruknya kualitas udara di Surabaya.

Trem tersebut diklaim mampu mengurangi emisi karbondioksida di Surabaya sebesar 31 ton per tahun. Ditambah lagi dengan kelebihan baterai yang dapat dicas menggunakan pembangkit tenaga surya.

“Ide ini dapat terbilang baru, pemanfaatan energi terbarukannya juga cocok diterapkan di Surabaya,” kata Ainul, Rabu (13/7).

Ainul menjelaskan, untuk menjalankan trem ini dibutuhkan beberapa sensor. Mulai dari Global Navigation Satellite System (GNSS), Light Detection and Ranging (LIDAR), Radar, hingga kamera dengan fungsinya masing-masing yang saling melengkapi.

Misalnya saja pada sensor GNSS, sensor tersebut berfungsi untuk menentukan posisi trem menggunakan sistem navigasi satelit.

Sementara sensor LIDAR digunakan untuk mendeteksi sekaligus memetakan bentuk tiga dimensi dari lingkungan sekitar dengan akurasi yang tinggi.

"Sedangkan sensor Radar akan mendeteksi dan mengukur jaraknya dengan akurat. Sensor Radar dapat diandalkan untuk sistem pengereman darurat,” jelasnya.

(dari kiri) Muhammad Ainul Yaqin dan Novandian Rafly Kurniawan yang tergabung dalam Tim Solar ITS, penggagas Autonomous Electric Tram (AUTRAM).

Selain ketiga sensor tersebut, ada pula fitur kamera yang dapat mendeteksi benda di sekitar trem, rambu lalu lintas, serta garis jalan.

Hal ini juga didukung dengan kecerdasan buatan yang disebut Movement Authority Limit (MAL). MAL dapat menentukan batas jarak yang diperbolehkan untuk trem bergerak.

“Dengan begitu, trem dapat bergerak maju, berhenti, mundur, menambah kecepatan, dan mengurangi kecepatan,” tambahnya.

Ainul juga menerangkan terkait bagaimana sistem penggerak pada AUTRAM dijalankan. Tidak seperti trem pada umumnya yang menggunakan tenaga listrik, AUTRAM bergerak dengan baterai bertenaga surya.

“Jika daya pada baterai habis, maka akan diganti dengan baterai baru yang telah dicas di stasiun pengecasan,” tuturnya.

Dengan menggunakan tenaga satu baterai penuh, AUTRAM mampu menempuh jarak hingga 77 kilometer. Selain itu, kendaraan dengan panjang 11,5 meter, lebar 2,7 meter, serta tinggi 3 meter ini juga memiliki keunggulan sistem pembayaran nontunai, sehingga seluruh sistem pada kendaraan ini dapat dijalankan tanpa tenaga manusia.

Tak hanya memanfaatkan energi terbarukan, inovasi Inung bersama tim ini juga berdampak pada pengurangan emisi karbon. Antara lain yang berasal dari kendaraan bermotor, kepadatan jalan raya karena banyaknya kendaraan pribadi, serta dihasilkannya sistem transportasi umum kota yang modern.

“Kami berharap Indonesia dapat menjadi yang terdepan dalam pengembangan riset AUTRAM, sehingga tidak bergantung dengan teknologi negara lain,” pungkasnya.

Berkat ide tersebut, tim yang dibimbing oleh Dr Bambang Lelono Widjiantoro ST MT ini berhasil meraih Juara 2 pada Kategori Future of Mobility dalam Kompetisi Digital Innovation and Technology Competition (DIGITECH) 2022 yang diselenggarakan oleh Astra Indonesia, beberapa waktu lalu.