Konten Media Partner

Batik Kriwil, Inovasi Batik Karya Penyandang Disabilitas di Surabaya

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Khusnul Yakin, penyandang disabilitas daksa di Surabaya, dengan batik kriwilnya. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Khusnul Yakin, penyandang disabilitas daksa di Surabaya, dengan batik kriwilnya. Foto: Masruroh/Basra

Hari Batik Nasional diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Ini sebagai bentuk pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Yang membanggakan, inovasi batik terus bermunculan dari seluruh lapisan masyarakat. Salah satunya adalah batik kriwil.

Menariknya, batik kriwil diproduksi oleh orang-orang istimewa. Keterbatasan fisik yang dimiliki tak menghalangi Khusnul Yakin dan saudara iparnya menciptakan inovasi batik dengan motif yang unik tersebut.

"Batik kriwil pertama kali diproduksi oleh kakak ipar saya pada 6 bulan lalu. Dia adalah penyandang low vision," ujar Khusnul saat ditemui Basra di kediamannya belum lama ini.

Penyandang low vision adalah individu dengan gangguan penglihatan permanen yang tidak dapat diatasi dengan kacamata, lensa kontak, atau operasi, sehingga menghambat aktivitas sehari-hari.

Sedangkan Khusnul sendiri merupakan penyandang tuna daksa yang saat ini aktif sebagai atlet sepakbola amputasi.

Kegigihan sang kakak ipar dalam membuat batik kriwil mendorong Khusnul untuk turut terlibat membuatnya. Bahkan saat ada teman disabilitas yang singgah di rumah Khusnul juga akan turut membuat batik kriwil.

"Kalau ada teman disabilitas yang main ke rumah, mereka pasti tertarik ikut membuat batik kriwil. Ini juga jadi salah satu terapi psikologis bagi teman disabilitas," terang Khusnul.

Khusnul menuturkan dinamakan batik kriwil karena proses pembuatannya dilakukan dengan cara meremas-remas kain polosan yang sudah dibasahi hingga kruwel-kruwel atau kusut.

"Nah saat meremas-remas kain itu, energi kita kan keluar semua. Energi kesal, bahagia, semua dikeluarkan untuk meremas kain sekuat mungkin. Jadi bisa mengatur emosi diri," ujar Khusnul.

Setelah kain terlihat kusut lantas dituangkan pewarna pada kain. Ketika kain polosan telah tertutup warna dengan sempurna, kemudian direndam air hingga warna dirasa tak lagi luntur.

"Setelah itu dijemur, jadilah batik kriwil," imbuhnya.

Per helai kain batik dengan panjang sekitar 2 meter dijual dengan harga mulai Rp 300an. Batik kriwil dipasarkan secara online.

Khusnul mengakui saat ini peminat batik kriwil cukup banyak.

"Alhamdulillah banyak yang order. Mereka juga bisa request warna yang diinginkan," tukasnya.

Khusnul mengakui produksi batik kriwil dilakukan sebagai salah satunya cara untuk menyambung hidup di tengah keterbatasan fisik yang dimiliki.

"Ya kita (penyandang disabilitas) harus bisa mandiri, kita tidak boleh bergantung pada belas kasihan orang," tegasnya.