Begini Cara Cegah Risiko Kecelakaan dari Bahan Kimia Berbahaya
·waktu baca 2 menit

Penggunaan bahan kimia yang masuk dalam kategori berbahaya, terutama dalam bidang industri kerja masih tinggi.
Guna meminimalisir bahaya yang muncul, tentu diperlukan penanganan khusus untuk mengurangi risiko kecelakaan yang ada.
Lantas bagaimana cara mengendalikan potensi bahaya dari B3?
Wiwit Dwi Cahyono, A.Md. mengatakan, besarnya dampak yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan kimia berbahaya dan beracun (B3) harus menjadi perhatian serius. Jika salah bertindak, bahan kimia dapat sangat merugikan.
Salah satu yang menggemparkan adalah kejadian ledakan hebat di Lebanon pada 2020 silam. Peristiwa itu terjadi lantaran proses penyimpanan B3 yang kurang tepat.
Di Indonesia sendiri, penyimpanan B3 belum diatur secara spesifik. Para akademisi dan peneliti hingga kini juga terus mencari solusi agar bahan kimia lebih ramah terhadap lingkungan, manusia, dan industri.
Wiwit mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan yakni bahan kimia harus diidentifikasi bentuknya terlebih dahulu. Apakah berwujud uap, cair, atau padat.
Selanjutnya, cari tahu juga rute masuk B3 ke tubuh. Apakah melalui kulit, tertelan, terhirup, atau yang lainnya.
“Pertama adalah kita ketahui dulu sifatnya seperti apa. Ini karena perlakukan untuk setiap bahan kimia berbeda-beda,” jelas alumnus D3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Vokasi Unair ini, Rabu (25/8).
Di sisi lain, Wiwit menuturkan, jika paparan telah terjadi, kuantitas dan durasi paparan perlu diidentifikasi.
"Jika paparan terjadi dalam jumlah yang kecil dan sebentar. Kemungkinan potensi kecelakaan kerja kecil," tuturnya.
Tak lupa, ia juga membagikan tips untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja akibat B3. Menurut Wiwit, hal yang dapat dilakukan adalah menyimpan B3 dengan aman, baik, ban benar.
Selanjutnya, membuat jarak antara B3 dengan pekerja. Menggunakan APD serta hygiene perorangan.
"Selain itu, dapat juga dengan mengganti B3 dengan yang lebih aman. Misalnya kita ganti dari yang sebelumnya oil based, menjadi water based agar lebih aman bagi tanah,” pungkasnya.
