Tekno & Sains
·
7 Februari 2021 13:07

Beri Solusi Sampah & Aquatiponik, 2 MA di Jatim Menang Akademi Madrasah Digital

Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)
Beri Solusi Sampah & Aquatiponik, 2 MA di Jatim Menang Akademi Madrasah Digital (175930)
searchPerbesar
Pemenang program Akademi Madrasah Digital (AMD) 2020.
Dua Madrasah Aliyah (MA) di Jatim berhasil menjadi pemenang dalam program Akademi Madrasah Digital (AMD) 2020. Kedua madrasah tersebut masing-masing MA Darussalam Jombang sebagai The Most Applicable lewat karya 'Aquiots' berupa solusi sistem aquatiponik bagi urban farming. Atas prestasinya, MA Darussalam Jombang berhak mendapatkan hadiah uang tunai Rp 15 juta dari Kementerian Agama dan modem berserta paket data sebesar 20 GB selama 1 tahun dari XL Axiata.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya MAN 2 Nganjuk yang dinobatkan sebagai Top Contender lewat karya 'E-Clear' untuk monitoring dan pemilahan sampah menggunakan teknologi machine learning. Sekolah ini berhak mendapatkan uang tunai Rp 10 juta dari Kemenag dan modem serta paket data XL sebesar 20 GB selama 1 tahun.
Ajang ini dibuat untuk menyiapkan generasi Indonesia Unggul yang siap menghadapi era revolusi industri 4.0 yang mampu menguasai Teknologi Informasi khususnya Internet of Things, Big Data, serta komunikasi dan kewirausahaan. Program ini merupakan bentuk sinergi Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah dengan XL Axiata.
“Melalui program ini, para pelajar mendapatkan materi dari para para ahli mengenai dinamika industri sesuai yang ada saat ini di mana pemanfaatan teknologi digital semakin luas di berbagai bidang. Mereka juga mendapatkan bimbingan tentang bagaimana menelurkan ide, mendesain suatu perangkat, hingga pengetahuan dasar teknik perancangan IoT. Pastinya semua materi itu adalah hal baru bagi peserta, tetapi ternyata mereka bisa menyerapnya dengan cepat," jelas Group Head Corporate Communication XL Axiata, Tri Wahyuningsih, dalam keterangan tertulis yang diterima Basra, Minggu (7/2).
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut dia menuturkan, puluhan prototipe solusi Internet of Things (IoT) berhasil tercipta dari tangan para pelajar madrasah peserta program inkubasi Akademi Madrasah Digital 4.0. Di bawah bimbingan Axiata dan Kemenag, inkubasi selama tujuh bulan tersebut juga telah menanamkan pengetahuan dan keahlian kepada para pelajar mengenai pemanfaatan teknologi digital yang bisa dimanfaatkan untuk menjawab problem sosial di masyarakat serta meningkatkan produktivitas dunia usaha.
Tri Wahyuningsih menambahkan, inkubasi dilaksanakan sejak Juli 2020 dan diikuti oleh 110 pelajar dari 22 Madrasah Aliyah di Indonesia. Para pengajar merupakan ahli dari Laboratorium IoT X-Camp milik XL Axiata. Guna menyesuaikan dengan protokol kesehatan terkait COVID-19, program ini dilaksanakan secara daring.
Para peserta mengikuti dari rumah atau sekolah masing-masing yang tersebar di 22 kota/kabupaten, di 10 provinsi. Proses ini pun cukup menantang karena idealnya inkubasi dilaksanakan dalam satu lokasi sehingga proses bimbingan bisa berjalan secara intensif.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah, A. Umar menyebut, program Akademi Madrasah Digital adalah bentuk respon untuk melakukan proses transformasi digital di madrasah. Hadirnya program ini menjadi momentum bagi siswa-siswi madrasah untuk unjuk kemampuan di Bidang Teknologi.
"Konsep pembelajaran yang diberikan kepada siswa siswi madrasah melalui Akademi Madrasah Digital yaitu pembelajaran soft skill dan pendampingan pengembangan prototipe," tukasnya.
Ada lebih dari 1.300 peserta dari 250 Madrasah Aliyah mengirimkan makalah tentang IoT. Seleksi dilakukan untuk mengetahui tingkat keseriusan peserta, aspek originalitas, dan seberapa realistis ide-idenya dapat diwujudkan. Hasilnya, terpilih 22 kelompok peserta, yang terdiri dari 110 pelajar untuk mengikuti inkubasi di dalam program Akademi Madrasah Digital tersebut.
ADVERTISEMENT
Dengan disiplin yang ketat, program ini bisa selesai tepat waktu dan berhasil mendukung para pelajar menciptakan puluhan prototipe solusi IoT. Total tercipta sebanyak 22 solusi IoT dengan ide yang sangat beragam, sesuai dengan kebutuhan aktual di masyarakat sekitar mereka, baik terkait dengan persoalan social, maupun kebutuhan usaha atau bisnis. Misalnya adalah terkait dengan meningkatkan produktivitas pertanian dan peternakan, penanganan sampah dan limbah, pencegahan penularan COVID-19, pencegahan kebakaran, penghematan energi, hingga penjernih udara.
Dari semua karya para pelajar, terpilih tiga karya terbaik, yaitu solusi IoT bernama “Skyrone” untuk pemantauan lahan jagung, karya Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendikia dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan, meraih predikat sebagai The Most Innovative. Selanjutnya, “Mustech” sebagai solusi monitoring suhu dan kelembaban jamur tiram karya MAN 2 Majalengka, sebagai The Most Marketable. Terakhir, “Aquiots” berupa solusi sistem aquatiponik bagi urban farming, karya MA Darussalam Jombang sebagai The Most Applicable.
ADVERTISEMENT
Selain itu, terpilih juga dua solusi terbaik lainnya yang mendapatkan predikat Top Contender, yaitu “E-Clear” untuk monitoring dan pemilahan sampah menggunakan teknologi machine learning, karya MAN 2 Nganjuk. Satu lagi adalah “Medi Gate”, solusi untuk membantu pembatasan jumlah pengunjung di suatu tempat guna mencegah penyebaran Covid-19, karya MAN 2 Kudus.
Secara umum, program Akademi Madrasah Digital dirancang secara khusus dengan melihat kebutuhan para pelajar Madrasah Aliyah di Indonesia. Program menyediakan serangkaian pelatihan online dan offline yang diisi dengan sederet materi pendukung.