Konten Media Partner

Berkunjung ke Klenteng Hok An Kiong Surabaya yang Sudah Berusia 200 Tahun

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Klenteng Hok An Kiong atau Sukhaloka, merupakan klenteng tertua di Surabaya. Foto-foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Klenteng Hok An Kiong atau Sukhaloka, merupakan klenteng tertua di Surabaya. Foto-foto: Masruroh/Basra

Perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini jatuh pada awal bulan kedua, Selasa 1 Februari 2022. Merayakan Imlek, masyarakat Tionghoa juga melakukan ritual ibadah yang dilakukan di klenteng. Salah satu klenteng di Surabaya yang menjadi jujugan masyarakat Tionghoa adalah Klenteng Hok An Kiong atau Sukhaloka.

Uniknya klenteng di Jalan Coklat, Surabaya ini, merupakan klenteng tertua di Kota Pahlawan. Hal ini seperti diungkapkan Atmodjo Yuwono, salah satu pengurus klenteng Hok An Kiong.

"Klenteng ini berdiri tahun 1821, jadi sudah 200an tahun ya. Sukhaloka sendiri bermakna hati yang riang, jadi beribadah itu harus dengan hati yang riang bukan dengan hati yang sedih," ujarnya ketika ditemui Basra, Senin (31/1).

Dijelaskan Yuwono, awalnya klenteng ini berfungsi sebagai rumah singgah bagi para pendatang etnis Tionghoa. Lambat laun semakin banyak pemukim dari Tionghoa yang mendiami wilayah tersebut. Hingga akhirnya rumah singgah tersebut digunakan sebagai rumah peribadatan dan dikenal sebagai Klenteng Hok An Kiong.

"Ada juga umat (Tionghoa) yang menyebutnya Klenteng Mak Co karena dewa utama yang disembah di klenteng ini adalah Dewa Mak Co Poh. Ia diyakini sebagai penguasa samudra," jelas Yuwono, yang menemani Basra berkeliling klenteng.

Ornamen klenteng yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya ini bergaya Tiongkok kuno yang didominasi warna merah dan memiliki corak tinta keemasan. Dikatakan Yuwono, jika beberapa ornamen masih asli sejak abad ke-19 atau sejak awal klenteng berdiri.

"Semuanya masih asli, hanya saja pada bagian belakang merupakan bangunan tambahan yang dibangun sekitar 100 tahun setelah bangunan utama berdiri," tukas Yuwono.

Di bagian dinding bangunan utama klenteng terdapat lukisan yang menceritakan kisah ‘Sam kok’, yang merupakan kisah melegenda bagi etnis Tionghoa. Patung Oe Tie Keong dan Cin Siok Poo berdiri di kanan dan kiri pintu masuk utama seolah menjaga pintu.

Klenteng ini memiliki 22 altar pemujaan dewa. Ke 22 altar tersebut tersebar di dua ruang utama dan ruang samping. Seperti altar Tuhan yang Maha Esa, Penjaga Pintu (Cin Siok Poo), Dewa Oi Tek Kiong, Dewa Mak Co Po, Dewa Kuwan Kong, Dewa Sek Dian Santeh, Dewa Hok Tek Cin Seng (dewa bumi), Dewa Pek Hoh Yah (macan putih), Dewa Cai Sen Ye (dewa uang), Dewa Ong Tek Cun Ong, Dewa Dai Sang Han (dewa pemberi ajaran Tauw), serta sejumlah dewa lainnya.

Klenteng Hok An Kiong ini merupakan klenteng Tri Dharma yang memfasilitasi peribadatan umat Kong Hu Chu, Buddha dan Tao.

"Klenteng ini terbuka untuk umum, siapapun boleh masuk untuk sembahyang atau sekedar berkunjung ke tempat ini. Karena masih masa pandemi, maka masuk klenteng ini tetap harus dengan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan mencuci tangan," pungkas Yuwono.