Bikin Sistem Tata Surya dari Stik Es Krim, Menang Kompetisi Nasional

Tiga mahasiswi Prodi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) mengharumkan nama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) di ajang kompetisi teknologi.
Mereka menyabet Juara I dan Best Innovation Lomba Karya Tulis Ilmiah National Engineering Research Community (Ercom) Competition 2019 (LKTI NEON) yang digelar di Universitas Bengkulu (Unib).
Nur Fauziah, Zahrotul Jannah, dan Tri Nadia Ningsih yang didampingi dosen pembimbing mereka, Rizqi Putri Nourma Budiarti ST MT, menyisihkan 14 peserta babak grand final yang dilaksanakan 13-15 September 2019.
Para finalis lainnya berasal dari berbagai universitas ternama seperti ITS, UI, UGM, UNS, UNDIP, UPI, UNP Sumatera Barat, Universitas Lalang Buana Sumbar, Untan Pontianak, UNES Semarang, serta UMI Makasar.
NEON 2019 bertema ‘Inovasi Generasi Milenial dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045’ merupakan perhelatan kedua yang digelar Ercom (Engineering Research Community). Pada babak grand final di Unib, panitia hanya mengundang 15 finalis dari ratusan peserta untuk melakukan presentasi.
Ketua Tim Unusa Nur Fauziah mengaku kemenangan mereka sebagai berkah dari Allah SWT. Sejak awal mereka memang serius mengerjakan karya tulis ilmiah berjudul ‘Implementasi spinning stick sebagai media efektif dalam pembelajaran tata surya di SDN Bubutan III No. 71 Surabaya’.
“Banyak hikmah yang kami peroleh dari NEON 2019. Kami bertiga senang dan bangga bisa mengharumkan nama Unusa di kompetisi nasional,” kata Nur Fauziah, mahasiswi angkatan 2018, saat dihubungi Basra, Kamis (21/11).
Awalnya mereka melakukan survei bagaimana metode pembelajaran di Kota Surabaya pada April 2019. SDN Bubutan III dipilih karena ayah Zahrotul Jannah mengajar di situ. Pertanyaan awal mereka adalah apakah pembelajaran di pusat kota masih konvesional atau sudah ada pembaruan?
“Saat observasi ternyata masih sama. Para guru belum memanfaatkan media pembelajaran yang menarik buat para siswa. Hasilnya, para murid tampak cepat bosan. Ada yang bercanda bahkan ketiduran,” papar Zahro.
Setelah berdiskusi, ketiganya kemudian mempunyai ide membuat media pembelajaran menarik tentang tata surya. Maklum, banyak pertanyaan dari para murid tentang siang dan malam, mengapa bumi berputar, atau mengapa matahari dan bulan muncul bergantian di siang dan malam hari?
Mereka kemudian membuat replika sistem tata surya, mulai dari matahari dan seluruh planetnya. Mereka ingin agar replika planet-planet bisa sesuai posisi dan jaraknya dari matahari, berputar mengelilingi matahari, plus masing-masing bisa berotasi.
“Awal membuatnya susah banget. Pertama dicoba pakai kawat untuk menggantung planet, ternyata bleyat-bleyot (bentuknya tidak karuan). Kemudian dicoba pakai tusuk sate tetap tidak kuat. Pakai sumpit terlalu berat. Nah, kebetulan kami bertiga suka es krim, maka dicobalah pakai stik es krim. Eh ternyata cukup kuat,” papar Ningsih sembari tertawa.
Maka replika awal yang sederhana mulai tampak. Matahari menggunakan lampu, serta menggunakan stik es krim dan roll on sebagai planet. Komposisi sederhana itu diletakkan di sebuah meja.
“Alhamdulillah, murid-murid jadi tertarik. Tapi banyak pertanyaan masih muncul, kenapa di angkasa planet ada penyangganya? Pertanyaan muncul karena mereka masih bisa melihat stik es krimnya. Hahaha,” kenang Fauziah.
Mereka kemudian menyempurnakan dengan menggunakan kaca, sehingga replika tata surya terlihat mengambang. Juga ditambahkan dinamo agar replika tata surya bisa berputar.
“Akhirnya anak-anak menjadi tertarik ikut diskusi selama pembelajaran. Mereka tidak bosan melihatnya dan aktif bertanya,” lanjut Fauziah.
Proses penyempurnaan replika memunculkan tantangan tersendiri. Mulai dari kaca pecah menjelang presentasi dosen pembimbing, dinamo yang berbunyi karena menggunakan dinamo bekas kipas angin, atau mengganti roll on dengan gabus agar sesuai dengan besar kecil tiap planet.
Nah, agar layak dipertandingkan di ajang LKTI NEON 2019, dosen pembimbing Rizqi Putri Nourma Budiarti mengusulkan agar replika tata surya itu dimasukkan ke aplikasi Augmented Reality yang lebih dikenal anak-anak dengan aplikasi AR.
AR merupakan teknologi yang menggabungkan benda maya baik dua dimensi atau tiga dimensi ke lingkungan tiga dimensi. AR kemudian memproyeksikan benda-benda maya tersebut sehingga terlihat nyata dan tiga dimensi di gawai dan smartphone.
“AR sekadar menambahkan atau melengkapi kenyataan. Ya, AR memang merupakan terobosan di bidang teknologi yang sangat canggih karena dengan teknologi ini kita dapat membuat segala hal yang abstrak atau virtual bisa kelihatan nyata atau real,” kata Rizqi.
Perlu waktu dua bulan bagi Fauziah dan tim untuk memasukkan replika mereka ke aplikasi AR. “Kesulitannya memasukkan ke aplikasi AR. Awalnya tidak bisa bergerak, kemudian bisa berputar pelan. Muncul aktivitas orbit masing-masing planet. Kami susun dengan software oleh guru pembimbing. Diskusinya yang juga lama,” kenang Fauziah.
Hal yang semula tak mereka hitung, anak-anak ternyata sangat familiar dengan aplikasi game seperti AR atau VR di smartphone. “Mereka ternyata terbiasa dengan gadget dan sudah mengenal kamera VR atau aplikasi AR,” lanjutnya.
Jadi apa kunci kemenangan di ajang NEON 2019? “Para finalis lain banyak yang aplikasinya bagus. Namun mereka masih sekadar gagasan. Belum ada replikanya seperti kami,” kata Fauziah bangga.
Kini, Fauziah dan tim berencana untuk terus menyempurnakan replika tata surya mereka di aplikasi AR. Mereka bahkan berharap bisa memasukkan karya mereka ke Google Play Store agar semakin banyak anak-anak yang memanfaatkan untuk belajar sistem tata surya.
“Bahkan kami ingin di dalamnya ada semacam permainan yang menguji pengetahuan anak-anak tentang tata surya,” kata Fauziah.
