Bukan Pamer, Ini Makna Jemaah Haji Bugis Pulang ke Kota Asal Pakai Baju Mewah
·waktu baca 3 menit

Masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, mempunyai tradisi unik saat kepulangan dari tanah suci usai menjalankan ibadah haji. Saat tiba di tanah air dan akan pulang ke kota asalnya, mereka mengenakan pakaian mewah yang glamor dibalut dengan perhiasan emas. Bukan untuk pamer, hal tersebut ternyata memiliki makna tersendiri.
"Berpakaian glamor bukan untuk pamer. Kami memakai baju mewah sebagai simbol memuliakan haji karena tidak semua orang khususnya dari Bugis dapat pergi ke tanah suci," ungkap Kasma (33 tahun), jemaah haji asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya.
Kasma merupakan satu dari 139 jemaah haji NTT dari Kota Kupang. Sejatinya Kasma dan jemaah haji asal Kota Kupang itu merupakan keturunan dari Bone, Bugis, Sulawesi Selatan. Maka tak heran jika para jemaah haji itu memakai pakaian mewah saat akan pulang ke kota asalnya.
Untuk jemaah perempuan memakai semacam gaun pesta dengan hiasan manik-manik dan payet emas. Tidak sedikit dari mereka yang memakai banyak perhiasan serta tidak ketinggalan kerudung khas mereka yang menyerupai kerudung pengantin. Sementara itu, para jemaah laki-laki memakai gamis panjang dengan sorban ala pria Arab.
“Kami tinggal di Kupang, tetapi kami merupakan keturunan dari Bone, Bugis, Sulawesi Selatan,” tutur Kasma.
Kasma menceritakan busana dan pernak-pernik yang ia pakai telah dipersiapkan semenjak persiapan sebelum berangkat ke tanah suci.
“Baju dan segala pernak-perniknya ini sudah dipersiapkan sejak sebelum berangkat ke tanah suci. Jadi baju ini juga kami bawa ke tanah suci. Memang disiapkan untuk dipakai ketika pulang ke Kupang dari Surabaya,” tuturnya.
Kasma melanjutkan, selain berpakaian mewah, ada tradisi unik lainnya saat penyambutan sanak saudara yang baru pulang berhaji.
Kasma menjelaskan tradisi penyambutan jemaah haji di NTT berlangsung dengan meriah.
“Kami datang disambut saudara-saudara, bahkan saudara dari jauh juga turut hadir menyambut. Ada juga teman-teman dan para tetangga. Biasanya kami mengadakan syukuran, tidak hanya ketika berangkat tetapi ketika pulang ke kampung halaman,” jelas perempuan yang sehari-hari jualan sembako di Kota Kupang ini.
Mereka pun memberikan oleh-oleh haji kepada tamu-tamu yang berkunjung ke rumah.
Jemaah haji asal NTT itu tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada Jumat (4/7) malam. Tidak seperti para jemaah haji lainnya yang langsung bertolak ke kampung halaman, para jemaah haji NTT yang tergabung dalam kloter 74 dan 75 itu menginap terlebih dahulu di Surabaya, baik di asrama haji maupun di hotel luar asrama. Mereka baru pulang ke kota asalnya pada hari Minggu (6/7) siang.
