Cara Mahasiswa UK Petra Olah Limbah Kopi Jadi Pewarna Alami
·waktu baca 3 menit

Dua mahasiswa Visual Communication Design program UK Petra, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK) baru saja berinovasi mengolah limbah menjadi barang berguna.
Para mahasiswa yang mengikuti program Outcome Based Education-Leadership Enchancement Program (OBE-LEAP) Community Engagement UK Petra ini adalah Veronica Boni Pamudja yang mengolah limbah ampas kopi dan Suryo Putro Hutomo mengolah limbah plastiK HDPE.
Veronica Boni Pamudja (BAWARNA, Pewarna Alami Tekstil dari Ampas Kopi)
Meningkatnya konsumsi kopi di Indonesia, diikuti dengan menjamurnya kedai-kedai kopi, membuat limbah ampas kopi semakin meningkat pula. Hal inilah yang menginspirasi Boni untuk mengolah limbah ampas kopi menjadi pewarna alami tekstil.
Boni mengatakan, adanya penumpukan limbah di TPA berakibat buruk seperti tanah semakin asam hingga meningkatkan laju pemanasan global. "Maka dari itu melihat kenyataan ini akhirnya tertantang mengolah limbah ampas kopi," ucapnya, Rabu (13/7).
Dalam inovasinya, Boni mampu menghasilkan tiga jenis pewarna alami yaitu dari ampas kopi saja, ampas kopi dengan campuran secang dan ampas kopi dengan campuran kunyit.
Ia menjelaskan ada dua tahapan pengolahan ampas kopi. Pertama, ampas kopi dan bahan lainnya dijemur.
Tahapan kedua proses ekstrasi, mengambil zat warnanya dengan menggunakan air yang direbus bersamaan dengan bahan sampai menyusut hingga setengahnya.
“Proses menjemur bisa mencapai satu hingga dua hari tergantung cuacanya saat itu. Sedangkan proses ekstrasi membutuhkan wajtu sekitar 1 jam untuk mendapatkan 600 ml pewarna," jelasnya.
Dalam mengembangkan inovasinya, Boni bekerja sama dengan komunitas disabilitas berbasis ekonomi “Self Help Group Solo” untuk menghasilkan empat produk dari pewarna alami hasil limbah kopi.
Keempat produk itu adalah dua outer dan dua totebag. “Dua jenis produk daily fashion apparel yaitu Arsa Outer dan Abisatya Totebag ini dikemas dalam sebuah brand bernama BAWARNA," tukasnya.
Suryo Putro Hutomo (tu tuk tu, Hasilkan Empat Produk dari Limbah Plastik HDPE)
Berbeda dengan Boni, Suryo mempunyai cara tersendiri untuk mengolah limbah menjadi barang yang berdaya jual tinggi.
Salah satunya yakni dengan memanfaatkan plastik High Density Polyethylene (HDPE). “Saya ingin mengurangi sampah plastik di Kabupaten Nganjuk. Fokusnya mengolah sampah plastik yang dikolaborasikan dengan bahan kayu sehingga menghasilkan kerajinan baru dalam brand tu tuk tu. Jika berhasil, tidak menutup kemungkinan bisa di lakukan pada daerah lain," ungkapnya.
Dalam inovasinya, Suryo mampu menghasilkan empat produk seperti tempat pensil, laci kecil, pigora lengkap dengan hiasan lepas-pasang serta Desk Organizer.
Ia menuturkan, bahwa produk brand “tu tuk tu” ini merupakan hasil kolaborasi dengan pengrajin kayu Pranata Wood di Nganjuk.
"Produk tu tuk tu memiliki Unique Selling Proposition sebab merupakan gabungan bahan kayu dan leburan sampah plastik HDPE sebagai pelengkap atau pemanis," tuturnya.
Terkait proses pembuatannya, pertama Suryo harus mencari sampah hingga ke pemasok cacahan sampah plastik.
“Saya hanya menggunakan warna kuning-putih, biru-putih, hijau-putih. Sedangkan dari pemasok warnanya hijau tercampur kuning, biru tercampur ungu dan hitam. Lalu semuanya masih kadang tercampur kotoran seperti hologram, kertas stiker. Jadi harus di bersihkan kembali baru bisa dicuci kemudian dilebur," jelasnya.
Setelah proses itu selesai, barulah Suryo melebur dan menjadikan satu dengan kayu. Tak heran jika proses yang Panjang ini mampu menghasilkan karya yang apik pula hanya dari limbah yang sudah tidak digunakan lagi.
"Tentunya ke depan saya akan terus mengembangkan inovasi ini dan membuatnya menjadi aneka macam produk," pungkasnya.
