Cerita Ibu-ibu Tangguh di Surabaya, Rela Pilah Sampah Tanpa Dibayar
ยทwaktu baca 3 menit

Kehadiran bank sampah sebagai lokasi pengumpulan sampah yang telah dipilah berperan besar dalam mencegah sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kegiatan pengelolaan ini juga perwujudan dari konsep ekonomi sirkular dengan mengubah sampah jadi pundi-pundi rupiah.
Berdasarkan data pada 2021 yang tercatat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah bank sampah sebanyak 11.556 unit tersebar di 363 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tak sedikit di antaranya yang telah menorehkan pencapaian manis dan kisah sukses. Salah satunya adalah Bank Sampah BIA (Bersih Indah Asri) di Kota Surabaya.
Sempat vakum karena pandemi COVID-19, kini bank sampah yang terletak di kawasan Gubeng, Surabaya, itu mampu menghasilkan cuan hingga jutaan rupiah setiap bulannya.
"Pertama kali dibentuk tahun 2019, Bank Sampah BIA sempat menghentikan kegiatan operasional di tahun 2020 untuk menaati regulasi social distancing saat pandemi," ujar Ani Lestari, salah satu pengurus Bank Sampah BIA, saat ditemui Basra di sela kegiatan Temu Bank Sampah yang digelar Yayasan WINGS Peduli di Surabaya, akhir pekan kemarin.
Ani melanjutkan, sejak setahun terakhir Bank Sampah BIA kembali aktif melakukan kegiatan pemilahan sampah. Ani mengaku, kali ini para pengurus Bank Sampah BIA lebih terstruktur dan tidak asal dalam pemilahan sampah.
"Kita dapat pendampingan dari Yayasan WINGS Peduli, pengurus Bank Sampah BIA jadi lebih terstruktur, catatan administrasi lebih tertata, dan yang lebih penting ilmu kami dalam memilah sampah juga makin bertambah," terangnya.
Ani mengungkapkan hasil pengelolaan sampah yang dilakukan Bank Sampah BIA mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp1,2 juta per bulan.
Bank Sampah BIA mampu mengumpulkan hingga 350 kg per bulan sampah non organik dan dijual ke lapak. Ani dan pengurus Bank Sampah BIA memilah sampah non organik berupa botol plastik, tutup botol, kardus, dan lain-lain.
"Semuanya bisa diuangkan. sampah botol plastik, duplek, kardus itu punya nilai sendiri-sendiri. Harganya beda. Semakin bersih botol plastiknya semakin bagus harganya," kata Ani.
Sedangkan sampah organik, lanjutnya, dibuat enzim atau kompos. Sampah organik ini dimanfaatkan warga untuk kegiatan berkebun.
Ani menuturkan, para relawan Bank Sampah BIA mayoritas pengurusnya adalah para ibu rumah tangga yang bekerja secara sukarela tanpa dibayar sepeser pun.
Dalam menjalankan tugasnya mereka harus sabar dan ulet. Pasalnya, mereka kerap menjumpai warga yang keras kepala dan enggan memilah sampah dari rumah.
Menurut Ani, kesabaran dan pendekatan intens dengan warga merupakan kunci agar warga bersedia untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan pemilahan sampah.
"Ini panggilan hati dan kita nggak dibayar. Lihat lingkungan bersih saja kita sudah senang," tegasnya.
Ani mengatakan, dari 350 kg sampah non-organik yang dikumpulkan setiap bulannya bisa menghasilkan sampai Rp1,2 juta, tergantung dari jenis sampahnya.
"Paling tidak ibu-ibu di lingkungan kami punya penghasilan tambahan dari sampah yang dibuang," tandasnya.
Bank Sampah BIA dan Bank Sampah Wolu Ninu Ninu merupakan pilot project dari Yayasan WINGS Peduli yang menggandeng Waste4Change dalam program pemilahan sampah di Surabaya.
"Sebagai pilot project tentu akan kami lanjutkan ke tempat lain, tapi yang menjadi highlight dari program ini adalah kami bukan hanya mau meningkatkan volume sampah yang dipilah, tapi kami juga membina masyarakat," terang Seva Gliska Nefertiti, perwakilan Yayasan WINGS Peduli.
Seva menegaskan tujuan pihaknya mendampingi bank sampah ini bukan hanya untuk mengurangi penumpukan sampah, tapi juga mengedukasi masyarakat.
"Kami ingin membuat perubahan perilaku masyarakat. Gaya hidup memilah sampah itu tercipta di sini," tandasnya.
Agar program ini berjalan baik, Wings Peduli juga menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya. Selain melakukan pembinaan kepada bank sampah, juga ada program, aksi bersih yang digelar di Surabaya.
"Dalam aksi bersih-bersih kami juga bekerja sama dengan DLH untuk mendorong masyarakat memilah sampah. Bahkan ada volunteer juga di dalamnya," tukasnya.
