Cerita Toni Harsono Dalang Wayang Potehi, Kaget di Cina Potehi Sangat Langka

Konten Media Partner
12 Februari 2024 9:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Toni Harsono (kiri), penggiat kesenian Wayang Potehi. Foto: Dok. pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Toni Harsono (kiri), penggiat kesenian Wayang Potehi. Foto: Dok. pribadi
ADVERTISEMENT
Wayang Potehi merupakan kesenian yang identik dengan peranakan Tionghoa. Kesenian ini kerap muncul saat momen perayaan Imlek. Namun sayangnya kesenian Wayang Potehi saat ini sudah jarang dijumpai di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya. Sehingga tak banyak anak-anak atau generasi muda yang mengetahui Wayang Potehi.
ADVERTISEMENT
"Memang masih ada klenteng di Surabaya yang masih menampilkan Wayang Potehi, tapi kalau sudah dapat angpao ya sudah mainnya selesai. Padahal dulu setiap klenteng itu pasti akan menampilkan Wayang Potehi, karena Wayang Potehi sebagai salah satu bentuk persembahan kepada dewa," terang Toni Harsono, penggiat Wayang Potehi, kepada Basra, Senin (12/2).
Nama Toni Harsono tak bisa dilepaskan dari perkembangan kesenian Wayang Potehi di Jawa Timur. Pasalnya, pria yang kini menetap di Jombang itu, selain sebagai dalang Wayang Potehi juga membuat Wayang Potehi.
Toni merupakan keturunan ketiga dari keluarga seniman Wayang Potehi. Dari kakek, kemudian ayah, Toni menjadi dalang Wayang Potehi yang dibawa dari Tiongkok. Pada periode ayahnya Wayang Potehi tidak diperkenankan main di depan umum. Periode ini berlangsung antara tahun 1966 – 1998. Setelah reformasi 1998 Wayang Potehi kembali bisa tampil di khalayak umum.
ADVERTISEMENT
"Wayang Potehi sempat terbengkalai, dari situ saya mulai tergugah untuk kembali membangkitkan Wayang Potehi, mulai dari saya membuat Wayang Potehi sebagaimana seharusnya. Artinya Wayang Potehi itu sesuai dengan bentuk aslinya yang berasal dari Tiongkok," jelasnya.
Klenteng Hong San Kiong Gudo di Jombang menjadi saksi bisu bagaimana Toni berjuang membangkitkan Wayang Potehi.
Di klenteng tersebut secara berkala digelar pementasan Wayang Potehi. Klenteng ini bahkan juga menjadi museum Wayang Potehi.
Toni mengungkapkan, usaha melestarikan Wayang Potehi tidaklah mudah. Bertahun-tahun ia harus pontang panting untuk mencari referensi tentang Wayang Potehi yang asli.
"Cukup sulit karena di negara asalnya, Cina, wayang potehi ternyata juga sudah sangat langka. Di Indonesia, saya juga bergerilya mencari referensi Wayang Potehi ke berbagai daerah, seperti ke Semarang," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Dengan referensi yang terbatas tersebut, Toni kemudian merekrut beberapa pemahat untuk memproduksi Wayang Potehi sesuai dengan bentuk aslinya.
"Ada pemahat yang membuatnya tapi untuk ide bentuk dari Wayang Potehi itu dari saya, hasil dari mencari referensi ke beberapa tempat terkait bentuk Wayang Potehi yang asli," imbuhnya.
Toni juga melatih beberapa orang untuk menjadi dalang Wayang Potehi. Hebatnya, seluruh usaha tersebut dibiayai dengan dana pribadi oleh Toni.
Usaha tak menghianati hasil. Berbagai upaya yang dilakukan Toni untuk membangkitkan Wayang Potehi membuahkan hasil manis. Tim Wayang Potehi binaan Toni kerap mendapatkan undangan untuk mementaskan wayang potehi di berbagai daerah, bahkan hingga ke mancanegara.
Wayang Potehi sendiri merupakan seni pertunjukan boneka tradisional asal Cina Selatan. “Potehi” berasal dari akar kata “pou” (kain), “te” (kantong), dan “hi” (wayang). Secara harfiah, bermakna wayang yang berbentuk kantong dari kain. Wayang ini dimainkan menggunakan kelima jari.
ADVERTISEMENT