Curhat Ali, Orang Tua Siswa SMPN 49 Surabaya yang Jadi Korban Kekerasan Guru
·waktu baca 2 menit

Ali Muhjayin, ayah MR, siswa SMPN 49 Surabaya yang menjadi korban kekerasan guru berinisial JS, mengaku sudah sangat lega ketika mengetahui bahwa JS sudah tidak lagi mengajar di SMPN 49 dan sudah ditarik ke kantor Dinas Pendidikan Surabaya. Makanya, Ali pun mengaku mempertimbangkan untuk mencabut laporannya kepada pihak kepolisian. Sebab, kasus itu sudah ditangani Satreskrim Polrestabes Surabaya.
“Ada kemungkinan. Bahkan besar kemungkinan saya bisa mencabut laporan. Saya masih pertimbangkan, saya perlu shalat istikharah untuk mengambil keputusan,” kata Ali, Kamis (3/2).
Ali lantas memuji Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang memberikan respon luar biasa terhadap kasus ini. Bahkan Ali menilai Eri sebagai sosok bapak karena sudah bisa mengayomi dan perhatian kepada anak-anak Surabaya, terutama anaknya.
“Jadi, kesannya sangat luar biasa sampai dikunjungi Pak Wali ke sini,” imbuhnya.
Tak hanya Ali yang sudah memaafkan JS, namun sang putra sendiri juga sudah memaafkan guru yang melakukan kekerasan tersebut. Sang putra, kata Ali, mengaku gembira karena dikunjungi Wali Kota Eri secara langsung ke kediamannya.
“Tidak pernah menyangka Pak Eri bisa datang ke sini. Luar biasa, saya senang sekali,” kata Ali.
Ali lantas menyampaikan terima kasih kepada Eri karena akan memberikan dua sepeda, sehingga MR bersama saudara kembarnya bisa naik sepeda ke sekolah.
"Saya sampaikan terima kasih banyak kepada Pak Eri, karena akan diberikan sepeda,” kata dia.
Ali menjelaskan bahwa kedua anaknya itu memang tidak punya sepeda untuk ke sekolah, seringkali mereka jalan kaki atau pinjam sepeda tetangga kos.
Sebagai informasi Eri berkunjung ke kos-kosan MR di Jalan Kutisari Utara Gang 3 pada Selasa (1/2) lalu.
Bahkan saat kunjungan itu Ali mengaku sempat meminta maaf kepada Eri karena dia merasa gara-gara melaporkan seorang guru ke polisi, Kota Surabaya menjadi gempar dan menjadi perhatian nasional. Sebagai warga Kota Surabaya, ia juga merasa bertanggungjawab untuk meng-adem-kan Surabaya.
“Saya mohon maaf, hanya karena saya, Surabaya menjadi perhatian nasional. Padahal, dari dalam hati yang paling dalam, saya sudah memaafkan beliau (JS, seorang guru yang menganiaya anaknya),” tukas Ali.
