Curhat Nelayan Nambangan yang Perahunya Rusak Akibat Ombak Besar

Puluhan warga di Cumpat dan Nambangan Surabaya harus merelakan perahunya rusak dan tenggelam usai diterjang ombak besar dan angin kencang pada Rabu (11/11) malam.
Salah satunya yakni Mudasir. Pasca kejadian ombak besar tersebut, perahu milik Warga Nambangan Gang V ini mengalami rusak parah. Bahkan dibeberapa bagian perahu miliknya hilang dan mesin kapal tidak dapat digunakan.
Pada Basra, Mudasir bercerita jika ada sekitar 50 perahu milik warga yang tenggalam dan sekitar 10 perahu mengalami rusak berat.
"Pasca kejadian itu, perahu milik saya rusak. Baru kemarin sore (12/11) dinaikan kesini, dibantu sama warga. Ini baru pertama kalinya ombak besar dan banyak warga yang harus kehilangan perahunya," kata Mudasir ketika ditemui Basra dilokasi, Jumat (13/11).
Mudasir menuturkan, perahu yang rusak tersebut merupakan sumber utama mata pencahariannya sebagai nelayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Saat ini, pria yang sudah 30 tahun menjadi nelayan di pesisir Pantai Kenjeran tersebut hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada yang kuasa.
"Ya saya pasrahkan semua, karena ini kan kehendak Tuhan. Kalau untuk memperbaiki perahunya juga kan butuh uang mbak, dan itu nggak murah," tuturnya.
Mudasir mengatakan, ketika pergi mencari ikan di laut, ia harus barangkat mulai selesai salat subuh hingga jam 3 sore.
Bahkan dalam dua minggu mencari ikan, hanya empat hari saja kondisi laut bisa bersahabat dengan nelayan.
"Biasanya berangkat habis subuh sampai sore. Kalau lagi ada kabut gitu saya pulang cepet karena pasti ada ombak. Untuk pendapatannya nggak tentu, kadang sehari Rp 100 ribu kadang ya nggak dapat. Untuk ikannya palong sedikit dapat 4 kg," jelasnya.
Bahkan saat pandemi seperti sekarang, Mudasir mengatakan jika harga ikan di pasaran turun drastis hingga 50 persen.
"Kalau ikan besar yang awalnya Rp 40 ribu jadi Rp 20 ribu. Kalau ikan kecil-kecil dari Rp 20 ribu jadi Rp 10 ribu," ungkapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mudasir memgaku jika ia dibantu oleh sang istri yang berjualan bakso. "Alhamdulillah ada istri bantu dagang bakso. Sehari bisa dapat Rp 40 ribu," tambahnya.
Kini, pria 44 tahun ini hanya bisa berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki perahunya yang rusak.
"Kalau dapat bantuan ya disyukuri, kalau nggak ya kita pasrah saja. Tapi tadi pagi alhamdulillah, dari Pemkot kita dapat sembako," tutup bapak 3 anak ini.
