Dedikasikan Diri Untuk Sastra Jawa, Suharmono Raih Anugerah Sutasoma

Konten Media Partner
18 Oktober 2022 14:12 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Suharmono Kasiyun, Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Profesi Guru Sekolah Dasar (PPG-SD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Suharmono Kasiyun, Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Profesi Guru Sekolah Dasar (PPG-SD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Foto: Masruroh/Basra
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Usianya sudah tak lagi muda, namun semangatnya untuk melestarikan sastra Jawa tak pernah padam. Bahkan atas dedikasinya kepada sastra Jawa, Suharmono Kasiyun telah menerima sejumlah penghargaan. Terbaru, pria berusia 69 tahun ini mendapatkan penghargaan dalam Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Tahun 2022.
ADVERTISEMENT
"Saya dinobatkan sebagai penerima penghargaan Anugerah Sutasoma tahun 2022 dengan kategori karya sastra berbahasa daerah terbaik, yakni melalui novel Guwing," ujar Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Profesi Guru Sekolah Dasar (PPG-SD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini, kepada Basra, Selasa (18/10).
Dijelaskan Suharmono, novel Guwing mengisahkan representasi tokoh utama yang memiliki problem kejiwaan berupa perasaan rendah diri, karena dia selalu membesar-besarkan kompleks inferiorita.
Guwing sebagai tokoh utama merepresentasikan individu yang menjadi korban dari sekian banyaknya nafsu. Guwing dikaruniai badan yang tidak sempurna atau cacat fisik semenjak lahir di dunia karena bara nafsu buruk dari orang tuanya. Dia dibuang sejak kecil oleh Tinah selaku ibunya karena badan cacatnya yang memalukan.
Guwing, bocah sebatang kara yang kemudian ditemukan oleh pemulung di tempat pembuangan sampah. Setiap hari dia menjadi pengemis di lampu lalu lintas. Guwing tidak dapat merasakan hidup secara wajar.
ADVERTISEMENT
“Dalam novel tersebut, tokoh Guwing hanya diperas keringatnya tanpa diberi kesempatan untuk merasakan hasil jeri payahnya oleh Dhugel dan Cikrak selaku orang tua angkatnya. Guwing sebagai seorang anak yang sengsara berkeinginan untuk hidup lebih layak. Untuk mencapai tujuannya Guwing dibantu Cak Martawi selaku penjaga kios rokok di dekat lampu lalu lintas tempat Guwing biasanya mengemis. Tokoh Guwing yang semula membesar-besarkan kompleks inferiorita berkeinginan mengatasi problem kejiwaan lalu bertekad untuk menjadi superioritas,” beber pria yang menjadi pendiri Paguyuban Pengarang Sastra Jawa (PPSJ) tahun 1977 ini.
Dikenal sebagai pengarang novel, cerita cekak (cerkak) dan geguritan angkatan tahun 70-an, Suharmono mampu membuktikan diri masih eksis hingga sekarang. Karya-karyanya terus mengalir mengisi majalah-majalah berbahasa Jawa. Selain itu, ia juga menulis karya-karya sastra berbahasa Indonesia, seperti cerita pendek dan novel.
ADVERTISEMENT
Pria kelahiran Desa Kauman, Kecamatan Sumoroto, Kabupaten Ponorogo ini juga menuturkan, selain novel Guwing, dirinya telah menerbitkan berbagai karya sastra. Ia bercerita proses kreatif pembuatan berbagai karya sastranya, seperti pada saat mengikuti peringatan Hari Sastra di Trengganu, Malaysia, ia mendapat ilham menulis cerita cekak Tatu-tatu Lawas yang berkisah tentang percintaan satu rumpun Melayu yang harus terpisah karena konfrontasi Indonesia – Malaysia.
Cerkak itu, dan karya lainnya yaitu Kidung Katresnan berhasil menjadi pemenang ketika Pusat Kesenian Jawa Tengah di Surakarta tahun 1980 mengadakan Lomba Cerita Cekak dan geguritan.
Cerita cekak merupakan karya fiksi bahasa Jawa yang disusun runtut, singkat, dan padat. Sedangkan geguritan adalah puisi bahasa Jawa.
"Selain itu, novel saya yang berjudul Den Bagus mendapat juara harapan dalam sayembara naskah roman yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1980," ungkap pria yang mendapat penghargaan dari Yayasan Kebudayaan Rancage Jakarta tahun 2018 ini.
ADVERTISEMENT
Suharmono juga pernah menjadi pemenang Hadiah Rancage tahun 1999 atas novelnya Pupus Kang Pepes ini menjadi tokoh berpengaruh dalam menyatukan teman-teman sastrawan Jawa.
Ia dua kali dalam periode berbeda diminta memimpin Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).
Suharmono dikenal sebagai pribadi pengayom, menjadi jujugan teman-temannya terutama dari kalangan pelaku dan pecinta sastra dan kebudayaan. Selain itu, ia beberapa kali menjadi pemakalah mewakili provinsi Jawa Timur dalam Kongres Bahasa Jawa.
Pada tahun 2005, Suharmono pernah memperoleh penghormatan dari gubernur Jawa Timur karena pengabdiannya di bidang seni budaya. Tahun 2017, dia memperoleh penghargaan Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur. Dan di tahun 2022, dia memperoleh penghargaan kembali Anugerah Sutasoma kategori karya sastra berbahasa daerah terbaik.
ADVERTISEMENT