Deteksi Kelainan Kromosom Janin dengan NIPT

Kelainan kromosom jadi sering jadi penyebab terganggunya tumbuh kembang janin dalam kandungan. Pada kondisi yang parah, kelainan kromosom juga memicu kematian bayi sebelum dilahirkan.
Dr. Ernawati Darmawan, dr. SpOG (K) dokter spesialis kandungan dan kesehatan reproduksi wanita dari RSIA Kendangsari Merr Surabaya, mengatakan kelainan kromosom disebabkan karena adanya kesalahan saat proses pembelahan sel.
"Penyebabnya ada kromosom yang dia itu harusnya berpasangan dua-dua. Nah ini ada salah satu kromosom yang dia gagal berpisah atau dia ber-replikasi sehingga jumlahnya menjadi ganjil," tutur Erna ketika ditemui Basra dalam acara Seminar Awam Deteksi Kelainan Krosom Pada Janin Sejak Dini, Sabtu (21/12).
Selain itu, Erna melanjutkan, jika kelainan kromosom juga dapat disebabkan karena adanya radiasi dan usia. "Misalnya ada perempuan hamil disaat usianya lebih dari 35 tahun. Selain perempuan, pihak laki-lakinya juga kalau bisa usianya jangan sampai melebihi 40 tahun," kata Erna.
Erna pun menjelaskan kelainan kromosom yang sering terjadi yakni trisomi 21 (down syndrome), trisomi 18 (edward syndrome), dan trisomi 13 (patau syndrome).
Untuk mengatasi hal itu, Erna mengatakan perlu adanya deteksi dini sejak kehamilan trimester pertama dengan melakukan screening.
Bahkan saat ini ada metode baru yang dapat dilakukan untuk melihat kromosom pada bayi dengan NIPT (Non-Invasive Prenatal Testing). Yakni mengambil darah ibu, karena di darah ibu beredar 10 persen DNA bayi yang ada di plasma.
"NIPT merupakan perkembangan dari screening itu. Bahkan tingkat keakuratannya bisa hingga 99 persen, terus tidak menyakiti bayi, tapi harganya mahal," kata Erna.
Erna pun mengimbau kepada seluruh ibu hamil agar sering melakukan pengecekan, ketika kehamilan berusia antara trimester pertama hingga trimester kedua atau setelah 10 minggu.
"Untuk usia muda juga bisa berisiko. Untuk itu semua wajib periksa untuk mengantisipasi hal itu," pungkasnya.
