Ditanya Anak Tentang Salat, Mengetuk Hati Wawan Mendalami Islam
·waktu baca 3 menit

Pertanyaan dari sang buah hati terkait dirinya yang tak pernah menunaikan ibadah salat menjadi awal dorongan bagi Hermawan Priyono untuk mempelajari agama Islam. Dibesarkan dalam keluarga Katolik, bukan hal mudah bagi pria yang kerap disapa Wawan ini untuk berpindah keyakinan.
"Dari lahir saya sebagai Katolik, bahkan saat menikah pun saya tetap mempertahankannya. Sedangkan istri saya seorang muslim," ujarnya kepada Basra.
Namun pergolakan batin mulai dialami Wawan kala sang buah hati yang bertanya tentang dirinya yang tak pernah salat. Wawan mengakui jika buah hatinya sedari kecil dibimbing oleh sang istri sesuai keyakinannya sebagai seorang muslim.
"Dari TK anak saya sudah berada dalam lingkungan sekolah Islam. Nah pas dia beranjak SD itu mulai ada pertanyaan-pertanyaan 'Papa kok nggak salat, aku aja disuruh mama salat?'," kenang Wawan.
Pertanyaan sang buah hati mendorong Wawan mulai merenung dan membuka hati untuk belajar tentang Islam. Namun hal ini dilakukan Wawan tanpa sepengetahuan sang istri.
"Ada pergolakan di hati, terutama tentang anak-anak. Mereka kan butuh bimbingan, butuh sosok panutan. Dari situ saya mulai merenung dan pada satu titik saya harus memutuskan apakah bertahan dengan yang lama ataukah memeluk sesuatu yang baru," ungkapnya.
"Istri saya enggak tahu ketika saya mulai belajar tentang Islam. Saya tidak mau menambah beban istri yang sudah mengurus anak dan masih harus bekerja. Jadi saya putuskan belajar sendiri tentang Islam," imbuhnya.
Terus belajar tentang Islam di tengah pergolakan batin, Wawan akhirnya sampai di satu titik yang mendorongnya memantapkan hati untuk menjadi seorang mualaf.
Enam tahun lalu ikrar sebagai mualaf diucapkan Wawan di Masjid Agung Al Akbar Surabaya. Ikrar ini diucapkan Wawan tanpa sepengetahuan sang istri.
"Istri tidak tahu, baru tahu setelah saya ikrar (mualaf). Ya dia kaget, sampai bingung mau ngasih saya kado apa. Akhirnya istri ngasih saya baju Koko dan sarung untuk salat," tuturnya.
Wawan bersyukur diberikan kemudahan ketika berproses menjadi mualaf. Tak ada halangan berarti yang harus dihadapi Wawan, pun dari keluarga Wawan yang menerima dengan lapang keputusannya menjadi mualaf.
"Keluarga saya Katolik semua, tidak ada pertentangan ketika saya menjadi mualaf. Orang tua hanya berpesan untuk saya bertanggung jawab dengan baik atas keputusan yang sudah saya ambil. Mereka menganggap saya sudah dewasa dan berhak mengambil keputusan sendiri," paparnya.
"Rintangan hanya dari diri saya sendiri, bagaimana saya harus berkutat dengan pergolakan batin dan mengambil keputusan yang memang tidak mudah," tegasnya.
Setelah menjadi mualaf, Wawan tak henti mengucap syukur karena dapat memberikan bimbingan secara penuh kepada dua buah hatinya. Wawan selalu menyempatkan diri menjadi imam bagi keluarga kecilnya saat menunaikan ibadah salat.
Meski bagi Wawan di awal menjadi seorang muslim bukanlah hal yang mudah untuk menjadi imam salat bagi keluarganya.
"Di awal (mualaf) saya memang agak canggung. Tapi saya selalu berusaha untuk memperbaiki salat saya. Saya selalu menyempatkan untuk salat berjemaah agar dapat mengetahui dengan baik gerakan maupun bacaan salat," tukasnya.
Seiring usia kedua buah hatinya yang mulai beranjak dewasa, barulah keduanya mengetahui perihal sang papa yang seorang mualaf.
"Mereka mulai memahami kalau papanya ini mualaf. Malah kalau kita pergi bareng naik mobil dan lewat gereja, mereka kadang menggoda saya 'Pa, enggak ke gereja ta?" ujarnya seraya tergelak.
