Dokter AHCC Ungkap Tanda-tanda Kanker pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
·waktu baca 3 menit

Penyakit kanker tidak hanya menyerang orang dewasa saja, anak-anak juga bisa mengalaminya, bahkan pada usia bayi sekalipun.
"Pada beberapa kasus, kanker dapat terjadi pada usia bayi, bahkan pada neonatus" ujar dr. I Dewa Ayu Agung Shinta Kamaya, Sp.A(K). Dokter Hemato – Onkologi Anak Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya, kepada Basra.
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia 0 hingga 28 hari (1 bulan).
dr Shinta melanjutkan, setiap kanker memiliki gejala tersendiri. Namun secara umum ada gejala yang dapat menjadi perhatian orang tua.
"Jika anak tampak pucat, timbul memar, atau pendarahan tanpa sebab yang jelas, timbul benjolan, atau pembengkakan yang juga tidak jelas penyebabnya, berat badan turun, nafsu makan turun, atau dapat juga berupa gejala nyeri tulang, hal-hal tersebut dapat merupakan gejala yang mengarah ke suatu kanker," terangnya.
dr Shinta menegaskan perlunya deteksi dini yang dilakukan orang tua terhadap anaknya. Jika muncul hal yang mencurigakan, hendaknya orang tua tak menyepelekannya.
"Misalnya anak demam lebih dari dua minggu, atau demam yang berulang, sebaiknya dibawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut," imbuhnya.
Terkait jenis kanker yang paling banyak dialami anak-anak, dr Shinta menyebut kanker darah atau leukemia.
"Leukemia ada beberapa jenisnya, tergantung dari jenis selnya," tuturnya.
Selain kanker darah, tumor padat juga dapat dialami anak. Ada pula kanker otak yang memiliki gejala munculnya nyeri kepala yang menetap atau memberat seiring waktu.
"Menurut data, di nasional maupun international, kanker yang paling sering terjadi pada anak-anak adalah leukimia akut, hampir 40% dari keseluruhan kanker pada anak," ungkapnya.
dr Shinta mengatakan penyebab kanker pada anak belum diketahui secara pasti.
"Kalau penyebab khusus masih belum diketahui secara pasti, tapi ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker pada anak. Faktor risiko pertama adalah mutasi genetik, yang bisa terjadi sejak lahir," terangnya.
"Untuk mutasi gen, di beberapa negara sudah bisa terdeteksi, tapi kalau di Indonesia hanya beberapa Rumah Sakit yang bisa melakukan pemeriksaan ini," imbuhnya.
Faktor risiko yang kedua adalah faktor lingkungan. Misalnya polusi, paparan zat kimia tertentu atau radiasi, atau adanya infeksi tertentu yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker anak.
Terkait mengkonsumsi makanan tertentu bisa menyebabkan kanker pada anak, dr Shinta memberikan penjelasannya.
“Seperti yang disebutkan tadi, penyebab pasti kanker pada anak belum jelas, termasuk makanan. Beberapa penelitian memang menunjukkan jenis makanan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker”.
Karena anak masih dalam masa pertumbuhan maka makanan yang dikonsumsi harus dapat menunjang tumbuh kembangnya.
"Ada batasan-batasan makanan yang orang tua sudah ketahui. Misalnya makanan ultra processed food, minuman-minuman berpengawet. Nah makanan-makanan seperti yang harus dibatasi," jelasnya.
Untuk mengetahui apakah anak menderita kanker atau tidak, deteksi dini sangat penting. Sebagai orang tua, tentunya harus mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan yang mengarah ke gejala kanker pada anak. Terlebih berbeda dengan orang dewasa, anak cenderung kesulitan dalam mengutarakan rasa sakit yang dialaminya.
"Jadi anak ini datang ke kami masih dini (gejalanya), tidak dalam kondisi yang sudah berat," tegasnya.
"Yang harus orang tua kenali adalah gejala-gejala tadi. kalau ada salah satu atau beberapa gejala tadi, maka anak harus langsung dibawa untuk periksa ke dokter," sambungnya.
Ada pun pengobatan penyakit ini pada anak akan bervariasi tergantung pada jenis kanker dan seberapa lanjut stadiumnya.
"Ada 3 modalitas terapi pada kanker anak, bisa pembedahan, kemoterapi, ataukah radiasi, atau kombinasi dari ketiganya, tergantung pada jenis kanker dan seberapa lanjut stadiumnya," tukasnya.
