Konten Media Partner

Dokter: Hepatitis Akut Tak Terkait Vaksin COVID-19

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokter Spesialis Anak, DR. Dr. Dominicus Husada, Sp.A(K), DTM&H, MCTM(TP) (paling kiri).
zoom-in-whitePerbesar
Dokter Spesialis Anak, DR. Dr. Dominicus Husada, Sp.A(K), DTM&H, MCTM(TP) (paling kiri).

Merebaknya penyakit hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya kini telah menjadi buah bibir dan perhatian khusus masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 22 Mei 2022 menunjukkan, ada 14 kasus dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya di Indonesia.

14 kasus tersebut terdiri dari 1 kasus probable dan 13 kasus lainnya berstatus pending klasifikasi. 14 kasus dugaan hepatitis akut ini tersebar di 8 provinsi yakni, Sumatera Barat (1 kasus pending klasifikasi), Jambi (1 kasus pending klasifikasi), Bangka Belitung (1 kasus pending klasifikasi), DKI Jakarta (1 kasus probable dan 4 kasus pending klasifikasi).

Selanjutnya, DI Yogyakarta (1 pending klasifikasi), Jawa Timur (2 pending klasifikasi), Bali (2 kasus pending klasifikasi), dan Nusa Tenggara Barat (1 kasus pending klasifikasi).

Dokter Spesialis Anak, DR. Dr. Dominicus Husada, Sp.A(K), DTM&H, MCTM(TP) mengatakan, World Health Organization (WHO) telah menyatakan bahwa hepatitis akut merupakan kejadian luar biasa.

"Saya kira kita sebagai bagian masyarakat juga perlu waspada," ujar dr Dominicus, saat talkshow bertajuk 'Waspada Hepatitis pada Anak' yang digelar Granostic by Kortex, Selasa (24/5).

Ia juga menegaskan bahwa penyebab hepatitis misterius ini hingga kini belum diketahui. Bahkan jika ada asumsi penyakit ini disebabkan oleh vaksin COVID-19, hal itu menurutnya sangat mustahil.

"Karena yang sakit kebanyakan usia di bawah 5 tahun dan tidak ada vaksin COVID-19 untuk anak di bawah 5 tahun, tentu asumsi bahwa hepatitis misterius berhubungan dengan vaksin COVID-19 maka dengan sendirinya terpatahkan," tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, dr. May Fanny Tanzilia.Sppk, General Manager Granostic by Kortex menjelaskan, bahwa pihaknya ingin mengedukasi masyarakat mengenai penyakit hepatitis akut agar dapat mengantisipasi hal tersebut, terutama pencegahan pada anak-anak yang rentan terserang hepatitis akut.

"Sesuai dengan arahan Kemenkes hepatitis akut dapat dicegah dengan menjaga kebersihan, menggunakan perlengkapan makan pribadi jika makan di luar, melakukan cek kesehatan secara rutin dan konsultasi pada dokter bila ada gejala-gejala hepatitis," jelasnya.

Tanda-tanda hepatitis pada umumnya, lanjutnya, yakni demam, mual, menguning dan masih banyak lagi. Bila dirasa ada gejala tersebut sebaiknya dapat segera melakukan konsultasi pada dokter untuk dilakukan pemeriksaan.

"Hepatitis biasa disebabkan oleh infeksi virus hepatitis ke dalam tubuh manusia. Hepatitis biasa yaitu tipe A, B, C, D dan E mudah dideteksi dengan tes yang sudah ada sekarang ini, akan tetapi untuk hepatitis tidak diketahui ini tidak dapat memberikan hasil apapun," tukasnya.

Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, kata May, para penderita hepatitis akut tidak menunjukkan hasil positif pada rangkaian tes yang dilakukan, maka bisa segera dirujuk di rumah sakit

"Saat ini hepatitis akut dapat menyerang anak-anak dan menimbulkan kematian, oleh sebabnya kami ingin memberikan edukasi ke masyarakat agar mengetahui ciri-ciri dari gejala hepatitis tersebut karena sulitnya deteksi hepatitis akut akan membuat penanganannya lebih kompleks," paparnya.

Adapun gejala hepatitis akut di antaranya demam, mual, muntah, diare bahkan kulitnya kuning. Penyakit ini bisa menyerang siapapun akan tetapi ada kecenderungan menyerang usia di bawah 16 tahun yang kekebalan pada rentang usia tersebut belum begitu kuat.

"Jika penderita mengalami gejala-gejala tersebut segera periksa ke dokter sehingga membuat kondisinya tidak semakin parah, apalagi anak-anak," pungkasnya.