Konten Media Partner

Dokter Ungkap Detik Mencekam Amputasi Lengan Santri di Bawah Reruntuhan Beton

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
dr Larona Hydravianto, Sp. OT (K), Spine, M. Kes, dokter spesialis Orthopaedi dan Traumatologi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
dr Larona Hydravianto, Sp. OT (K), Spine, M. Kes, dokter spesialis Orthopaedi dan Traumatologi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo. Foto: Masruroh/Basra

Ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran Sidoarjo tak hanya menimbulkan duka mendalam karena banyaknya korban meninggal. Banyak kisah mengharu biru menyeruak dari tragedi tersebut. Salah satunya datang dari dr Larona Hydravianto, Sp. OT (K), Spine, M. Kes, dokter spesialis Orthopaedi dan Traumatologi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, dr Larona harus menjalankan tindakan operasi amputasi di bawah reruntuhan bangunan.

"Karena kondisinya memang sudah sangat gawat darurat. Sudah tidak bisa ditunda lagi sehingga tindakan amputasi harus dilakukan di lokasi (di bawah reruntuhan beton)," ungkap dr Larona saat ditemui Basra, Senin (6/10) sore.

Momen itu terjadi pada Senin (29/9) malam usai bangunan ponpes ambruk pada sore harinya. Usai mendapat telepon dari Direktur RSUD Sidoarjo dr Atok Irawan, bahwa ada santri yang terjebak dan tergencet lengannya di bawah reruntuhan, dr Larona langsung meluncur ke lokasi kejadian.

Setibanya di lokasi, dr Larona menjadi tenaga medis pertama yang masuk ke titik korban reruntuhan bangunan ponpes. Ia menggambarkan, untuk menuju posisi santri yang belakangan diketahui bernama Nur Ahmad (16 tahun) itu harus merayap sepanjang 10 meter dengan ketinggian ruang terbatas hanya 40-50 centimeter. Suasana juga gelap, sempit, dan pengap, hanya diterangi lampu kecil yang dipasang seadanya.

“Jadi masuk itu ada kayak ruangan tempat ambrolnya juga, tapi kita masih lebih masuk lagi ke dalam gitu,” tuturnya.

Posisi Ahmad kala itu diketahui telentang dengan lengan kiri terhimpit beton besar.

"Saya masuk ditemani perawat rescue RSUD dan Basarnas. Kemudian saya melakukan penilaian awal, saya cek pasien, saya sapa, saya panggil, responsnya tidak terlalu baik dan kelihatan sesak, tapi mata terbuka, kakinya bergerak lemah, lengan kirinya terhimpit (beton) hingga siku," kenang dr Larona.

Tangan korban yang terjepit sudah remuk dan tidak mungkin dipertahankan. Sementara beton yang menimpa lengan korban sulit diangkat dengan cepat, sehingga diputuskan amputasi darurat untuk menyelamatkan nyawa Ahmad.

Keputusan amputasi darurat juga diambil karena tim khawatir kondisi pasien bisa memburuk dan nyawanya terancam. Menurut dr Larona, prinsip medis yang digunakan saat itu adalah live saving amputation, di mana prioritas utama adalah menyelamatkan nyawa.

"Jadi, salah satu prinsip kegawatdaruratan itu life saving is first, limb saving is second. Artinya, penyelamatan nyawa lebih penting daripada menyelamatkan anggota tubuh. Itu yang mendasari, kenapa (amputasi) harus kami lakukan karena kalau ditunggu lebih lama kondisi pasien bisa semakin buruk," terangnya.

Saat itu peralatan untuk melakukan operasi amputasi tidak memadai. Sehingga dr Larona kembali keluar dari reruntuhan bangunan untuk memanggil bantuan personel dari RSUD Sidoarjo, mengingat jarak rumah sakit ke lokasi kejadian hanya sekitar 15 menit.

"Saya menghubungi dokter anestesi, saya juga menghubungi kamar bedah untuk menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk proses amputasi. Tidak lama kemudian, satu ambulans datang dengan tim lengkap," ungkapnya.

Setelah tim datang, dr Larona kembali masuk ke titik Ahmad berada. dr Larona masuk bersama spesialis anestesi dr Farouq Abdurrahman, dan PPDS Ortopedi dr Aaron Franklyn.

"Jadi hanya 3 orang yang bisa masuk karena memang benar-benar sempit," imbuhnya.

Amputasi yang biasanya dilakukan dengan peralatan lengkap di rumah sakit, namun saat itu harus dilakukan di bawah puing-puing rapuh, sehingga membuat situasi sangat berbeda. Meski ruang gerak terbatas, tim dokter tetap melakukan operasi dengan prinsip cepat dan tepat.

Bagi dr Larona dan tim, masuk ke reruntuhan bukan tanpa rasa was-was. Apalagi, di bawah puing bangunan yang sewaktu-waktu bisa runtuh kembali.

"Rasa khawatir sudah pasti ada, kuatir reruntuhan itu malah makin ambrol," tukasnya.

Sekitar 20 menit amputasi di bawah reruntuhan bangunan dilakukan, setelah itu tim dokter berjuang menarik tubuh Ahmad keluar dengan tiarap.

“Kemudian di luar langsung kita berikan oksigenasi, tambahan cairan, tambahan infus dan sebagainya. Kita stabilisasi di luar ruangan tersebut,” tuturnya.

Usai pasien stabil, Ahmad langsung dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo untuk dioperasi lagi hingga hampir pukul 02.00 WIB dini hari Selasa (30/9).

“Operasi di kamar operasi untuk membersihkan bekas potongan lengan tersebut dan kemudian juga merapikan, bekas potongan tangan ya, kita tutup dan sebagainya," jelasnya.

Kini kondisi Ahmad sudah semakin membaik, tidak ada tanda infeksi pascaamputasi.

“Alhamdulillah kabarnya sangat menggembirakan. Luka sudah mulai membaik, nyeri berangsur hilang. Dia sudah bisa melakukan aktivitas ringan sendiri, makan tiga kali sehari, dan semua hasil lab normal. Insya Allah satu dua hari ini sudah bisa pulang," pungkas dr Larona.