Konten Media Partner

Eksotika Bromo, Pesona Tari-tarian di Atas Ketinggian 1800 Mdpl

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eksotika Bromo 2025 ke delapan kembali digelar sejak tanggal 20-22 Juni 2025 dengan mengusung tema “Ruwat Rawat Segoro Gunung”. Foto dan naskah : Dipta Wahyu / Basra
zoom-in-whitePerbesar
Eksotika Bromo 2025 ke delapan kembali digelar sejak tanggal 20-22 Juni 2025 dengan mengusung tema “Ruwat Rawat Segoro Gunung”. Foto dan naskah : Dipta Wahyu / Basra

Suhu di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ngadisari, Probolinggo, Jawa Timur menunjukkan angka 12 derajat celsius pada hari Sabtu 21 Juni 2025 sekitar jam 14.00 WIB.

Meski sedang menyaksikan atraksi tari tradisional di ketinggian, tapi animo penonton tak surut.

Lautan pasir Gunung Bromo dipadati pengunjung yang ingin sama-sama menyaksikan pertunjukan Eksotika Bromo 2025.

Eksotika Bromo 2025 ke delapan kembali digelar sejak tanggal 20-22 Juni 2025 dengan mengusung tema “Ruwat Rawat Segoro Gunung”. Kegiatan tersebut menampilkan berbagai macam tarian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia serta membawakannya dengan mengangkat isu pelestarian lingkungan.

“Kegiatan ini merupakan bentuk renungan kembali hubungan antara manusia dengan alam, sesama makhluk hidup dan Tuhannya. Jadi para penampil membawakan pesan-pesan pelestarian lingkungan dengan koreografi tarian mereka. Alam ini sedang tidak baik-baik saja, berbagai isu tentang pelestarian lingkungan belum pernah terselesaikan, akibatnya bencana alam mulai bermunculan yang terkadang manusia menjadi penyebabnya juga karena tidak dapat merawat. Oleh karena itu, harapan kami dapat mengingatkan kembali peran manusia menjaga lingkungannya, salah satunya dalam kegiatan ini pengunjung wajib membawa satu bibit pohon untuk nanti ditanam dilingkungan TNBTS,” ujar Heri Lentho, Pembina Komunitas JatiSwara Eksotika Bromo 2025.

Perihal serupa juga disampaikan oleh artis ibukota, Olivia Zaliyanty yang turut membawakan puisi dengan iringan tarian kolosal yang memukau. Ia menyampaikan kekayaan alam Indonesia menjadi salah satu aset penting yang harus dijaga dan dilestariakan. Dan gunung Bromo adalah bentuk nyata dari penggabungan kekayaan alam yang harmonis kebudayaan masyarakat Tengger.

“Banyak kemegahan alam diluar negeri buatan manusia, tetapi berbeda dengan Bromo yang kemegahan alamnya masih natural dan terjaga dengan baik. Setiap tahun penduduk bumi bertambah mereka memperebutkan selembar pohon untuk oksigen atau bernafas. Maka dari itu dengan konsep undangan yang hadir membawa satu orang satu bibit pohon ini diharapkan dapat menjadi bagian dalam upaya-upaya pelestarian yang dapat dinikmati oleh generasi kita berikutnya,” ujarnya yang tahun ini hadir bersama keluarga menyaksikan penampilannya.

Selain itu, tarian kolosal dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Nanggala Universitas Trunojoyo Madura juga menceritakan isu lingkungan yang berada di

kawasan pesisir, salah satunya tentang sampah plastik. Permasalahan sampah dikawasan pesisir pantai masih menjadi perihal yang belum terselesaikan dengan baik. Pentingnya meningkatkan kesadaran kepada warga untuk tidak membuang apapun disungai atau laut yang dapat berakibat fatal dimasa mendatang.

“Tarian kami menyiratkan pesan untuk peduli lingkungan dengan tidak membuang sampah dilaut, masalah itu yang kita tampilkan karena sampai saat ini belum terselesaikan. Jaring biru yang kami gunakan dan ditempeli dengan sampah plastik adalah simbol dari hantu laut yang mencemari lingkungan,” ujar Shinta Nuriah, koreografer Seni Nanggala Universitas Trunojoyo Madura.

Acara tersebut dihadiri pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama jajaran penggiat kesenian daerah setempat. Sebanyak 31 penampil dari berbagai daerah di Indonesia menghangatkan suasana dengan pertunjukan yang megah dibalut dengan dinginnya pegunungan. (Naskah dan foto : Dipta Wahyu)