Fenomena 'Immunity Debt' yang Bikin Anak Gampang Batuk Pilek, Apa Itu?

Konten Media Partner
22 September 2022 11:22 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anak batuk pilek. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak batuk pilek. Foto: Pixabay
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Akhir-akhir ini batuk dan pilek menjadi penyakit yang banyak diderita secara bersamaan, terutama pada anak-anak. Penyebabnya bisa akibat pengaruh pancaroba atau kondisi lain seperti utang imunitas (immunity debt).
ADVERTISEMENT
Dokter spesialis anak National Hospital Surabaya dr Benny Herlianto, SpA, mengungkapkan istilah immunity debt ini muncul setelah melihat fenomena kejadian "flu musiman" yang sebenarnya sudah ada dahulu sebelum masa pandemi meningkat tinggi setelah selesai pandemi.
"Immunity debt disebabkan karena kurangnya kekebalan tubuh terhadap flu musiman oleh karena anak jarang atau tidak terpapar flu musiman tersebut sehingga anak lebih rentan untuk terinfeksi," ujarnya kepada Basra, Kamis (22/9).
Menurutnya, selama pandemi orang tua cenderung mengisolasi anak-anaknya, sehingga anak-anak tersebut tidak terpapar COVID-19, dan anak tidak terpapar virus lainnya. Ketika akses semua dibuka di mana anak sudah masuk sekolah, bebas ke mal, anak terpapar lagi dengan dengan virus-virus flu musiman.
"Jadi immunity debt fenomenanya, penyebabnya bisa macam-macam. Immunity debt ini penyebabnya bukan karena COVID-19 nya tapi karena isolasinya. Jadi ketika anak-anak diisolasi tidak terpapar penyakit yang biasanya mereka terpapar makanya namanya immunity debt, debt itu utang ya. Jadi secara harfiah itu utang imunitas ya," jelasnya.
Dokter spesialis anak National Hospital Surabaya dr Benny Herlianto, SpA.
"Jadi tidak pernah terpapar (sakit) ketika isolasi, sekarang anaknya jadi mudah sakit karena tidak punya kekebalan. Kalau musiman (sebelum pandemi) dia kan terpapar (flu) dan sakitnya tidak begitu berat dan kalau sakit ya sudah terus sembuh. Karena dia tidak punya kekebalan tubuh ya sudah sakit, sembuh, sakit lagi. Jadi immunity debt itu fenomena seperti itu, penyebabnya bisa macam-macam," sambungnya.
ADVERTISEMENT
Benny lantas memberikan contoh kasus, di suatu kota mengalami kekeringan sampai dua tahun. Sehingga selokannya tidak pernah dibersihkan. Suatu ketika kita tersebut dilanda hujan dan mengalami banjir.
"Banjir karena selokannya buntu (tersumbat). Nah, selokannya ini selokannya ini buntu karena apa? Bisa karena sampah, lumpur, atau karena penyebab lainnya. Nah seperti itu gambaran fenomena immunity debt ini," paparnya lagi.
Di Indonesia saat ini, lanjut Benny, agak sulit diketahui virus penyebab adanya immunity debt. Pasalnya, tidak ada pemeriksaan rutin kecuali pemeriksaan untuk virus Corona.
"Kalau yang terbukti di luar negeri itu fenomenanya itu virus RSV (respiratory syncytial virus). Itu yang terlihat meningkat drastis angka kejadiannya setelah isolasi dibuka. Jadi kejadian (immunity debt) ini tidak hanya di Indonesia saja tapi di luar negeri juga. Jadi banyak anak batuk pilek setelah dilihat (diperiksa) kok kejadian RSV nya meningkat," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Diakui Benny saat ini kejadian batu pilek pada anak meningkat drastis dibanding sebelumnya. Hanya saja tidak ada pemeriksaan detail terkait peningkatan kasus batuk pilek pada anak, salah satunya karena kendala biaya.
"Sebenarnya bisa sih kalau mau diperiksa cuma kan mahal. Sedangkan kalau di luar negeri itu kan diperiksa virusnya apa? Ternyata kejadian RSV nya meningkat. Kalau virus (penyebabnya) bisa macam-macam cuma fenomenanya ya ini (immunity debt) anaknya jadi gampang sakit)," tandasnya.
"Batuk pilek memang jauh meningkat, kemungkinan RSV ya dan yang pasti bukan COVID-19," imbuhnya.
RSV sendiri kata Benny merupakan virus yang tergolong biasa saja dan sudah ada sebelum pandemi.
"Pada anak yang lebih besar itu gejalanya biasanya batuk pilek. Tapi kalau pada anak yang lebih kecil biasanya bisa jadi bronchiolitis yang sesak bunyi ngik-ngik gitu," tandasnya.
ADVERTISEMENT
Benny lantas berpesan agar tetap menjaga kesehatan dengan makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan tetap melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Olah raga teratur untuk menjaga imunitas tubuh dan tidak mudah sakit," simpulnya.