Fenomena Lansia Dibuang Anak Kandung, Pakar Kejiwaan Ungkap Hal Ini
·waktu baca 3 menit

Akhir-akhir ini masyarakat disuguhi video viral di media sosial terkait anak kandung yang tega membuang ibunya yang sudah lanjut usia (lansia). Terbaru, kasus seorang anak di Probolinggo yang tega menganiaya dan mengusir ibunya yang lansia.
Fenomena anak kandung yang membuang ibunya yang lansia menunjukkan bahwa mereka enggan merawat orang tua di usia senjanya. Merawat orang tua di masa senjanya menjadi tantangan tersendiri dan bisa terasa sangat menyulitkan. Bukan hanya karena kondisi kesehatan fisik orang tua yang sudah menurun drastis namun juga kondisi mental dan psikisnya yang tak lagi prima. Lansia memiliki perasaan sensitif yang membuatnya sering mudah marah atau sedih sehingga menjadi tantangan sendiri bagi keluarga dalam merawatnya.
Dosen Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), dr Erikavitri Yulianti Sp KJ Subsp Ger (K) mengatakan bahwa menangani perasaan sensitif pada lansia perlu edukasi terkait gejala umum dan diagnosis ahli. Misalnya, perasaan tersebut normal atau mengindikasikan adanya gangguan kejiwaan.
Faktor penyebab perasaan sensitif pada lansia berkaitan dengan perubahan fisik dan kesehatan yang semakin melemah menyebabkan lansia merasa kurang memiliki otonomi atas tubuhnya sendiri dan lebih mudah frustrasi.
Menurunnya sistem otak dan syaraf membuat kemampuan kognitif seperti mengingat dan berbahasa menjadi turun berdampak pada penurunan kontrol emosi.
“Terjadinya tahap baru kehidupan seperti kehilangan rutinitas yang diikuti kemunduran fisiknya dan kehidupan sosial yang semakin terbatas menyebabkan lansia merasa tidak berdaya apabila dibantu, namun apabila tidak dibantu akan merasa diabaikan. Sehingga akan cukup menantang bagi keluarga dalam memahami emosi lansia,” ungkap Erika dalam keterangannya seperti dikutip Basra, Selasa (29/7).
Erika juga menyebut perubahan pola tidur pada lansia yang semakin pendek dan terputus-putus secara alami menyebabkan lansia kurang tidur dan dapat mempengaruhi emosi lansia. Selain itu efek samping beberapa obat untuk penyakit degeneratif yang banyak diderita lansia dapat memberikan rasa ketidaknyamanan di fisik sehingga mempengaruhi emosi lansia.
“Dampak dari perasaan sensitif ini dapat meningkatkan risiko cemas dan depresi, penurunan hubungan sosial dan kemungkinan lansia mengisolasi diri. Selain itu, dampak lainnya yaitu menurunnya minat lansia dalam melakukan aktivitas sehari-sehari sehingga lansia akan lebih banyak berdiam diri,” terangnya.
Erika menekankan perlu adanya diagnosis berupa wawancara klinis dan observasi dengan teknik yang sesuai pada lansia. Misalnya dengan melakukan komunikasi yang baik agar lansia lebih nyaman menyampaikan perasaannya. Dengan demikian dapat diketahui adanya perubahan pola perilaku pada lansia seperti pola tidur, perubahan nafsu makan, dan penurunan aktivitas harian.
Erika menyebut pentingnya peran keluarga untuk memberikan dukungan emosional dan sosial dalam mendukung lansia dan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia dan keluarga.
"Keluarga perlu mendukung lansia untuk bersosialisasi, menjaga komunikasi, meningkatkan kemandirian dan memantau kondisi kesehatan mental lansia," tandasnya.
