Fetish Mumifikasi Seksual, Hasrat Menyimpang Pada Jenazah

Baru-baru ini dunia media sosial dihebohkan dengan sebuah unggahan berjudul "Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset Akademik dari Mahasiswa PTN di Surabaya" yang ditulis oleh akun @m.fikris.
Dalam unggahan tersebut, M salah satu korban menceritakan salah seorang mahasiswa dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berinisial G dan fetish kain jarik.
G diduga melakukan pelecehan seksual dengan kedok melakukan penelitian. Dimana ia meminta korbannya untuk diikat dan dibungkus seluruh tubuhnya menggunakan kain jarik.
Bahkan G akan merasa senang dan merasa puas jika korban menunjukkan rekasi sesak napas atau memberontak. Namun, jika permintaannya tidak dikabulkan, G mulai mengeluarkan ancaman dan pemaksaan pada korban.
Dalam kasus ini, fetish menjadi topik yang diperbincangkan banyak orang. Lantas apa sebenarnya fetish itu?
Reisqita Vadika, M.Psi, Psikolog Klinis SDM dari Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan Surabaya, menjelaskan fetish merupakan segala sesuatu yang sifatnya non seksual bisa berupa anggota tubuh ataupun objek non seksual yang dapat membuat seseorang merasa lebih bergairah secara seksual.
"Fetish ini bisa muncul dari paparan media.Berawal dari liat dulu, tau dulu, bahwa ada loh fetish seperti ini (bungkus kain jarik) dia bisa merasakan. Kemudian dia akan lebih bergairah dengan objek ini, bagian tubuh ini kemudian dia jadikan fetish-nya," jelas perempuan yang akrab disapa Qiqi ini ketika dihubungi Basra, Jumat (31/7).
Qiqi menuturkan, fetish yang dialami G ini mirip dengan mumifikasi seksual yang terjadi di luar negeri. "Kalau di luar negeri kan ada sex toys yang menjual alat-alat untuk memfasilitasi fetish orang-orang. Kalau di luar bahannya dari kain tertentu atau latex. Kalau yang dipakai G ini kan jarik atau seprai. Terus di pakai lakban untuk mengikat," ucapnya.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah pelaku mempunyai hasrat dengan jenazah, mengingat korban yang dibungkus G mirip dengan jenazah yang sudah dikafani, Qiqi mengatakan jika fetish tersebut ada sendiri.
"Apakah dia mempunyai hasrat pada jenazah, saya tidak bisa menjawab. Karena bukan saya yang memangani. Tapi misalnya apakah bisa sesorang merasa bergairah kepada mayat itu ada fetish-nya sendiri. Namanya necrophilia, dia bergairah kalau melihat jenazah bahkan ada keinginan untuk berhubungan badan. Karena orang itu bisa punya fetish macam-macam dan bentuknya itu aneh," ujar Qiqi.
Qiqi mengatakan, apa yang dilakukan G pada korban juga terdapat unsur abuse of power. "Pelaku memaksakan kepada orang-orang (korban) untuk melakukan apa yang jadi kehendaknya. Dia juga mengancam para korban," kata Qiqi.
Qiqi mengungkapkan, jika ada orang yang mempunyai fetish tertentu, fetish tersebut dapat dihindari asalkan pelaku dapat mengontrol keinginannya.
"Misalnya dia mikir, wajar nggak sih atau memungkinkan nggak sih fetish-nya. Kalau mengganggu, dan dia nggak bisa terkontrol ada baiknya dia konsultasi ke profesional," ungkapnya.
Teruntuk para korban, Qiqi berpesan agar mereka tidak takut untuk berbicara publik. "Jangan takut untuk bicara, memang di awal sangat sulit untuk bisa speak up. Apalagi Unair juga sudah menyediakan hotline, jadi buat para korban bisa langsung menghubungi biar traumanya bisa segera teratasi," pungkasnya.
