Konten Media Partner

Foto: Melihat Karya Fotografi Anak-anak Penyandang Tunanetra

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fifi Clarisa, anggota Serasa Collective yang sedang berswafoto. Dok. Serasa Collective
zoom-in-whitePerbesar
Fifi Clarisa, anggota Serasa Collective yang sedang berswafoto. Dok. Serasa Collective

Siapa bilang tunanetra tak bisa motret? Coba ikuti kegiatan Bahar Adyaksa atau akrab disapa Acim, fotografer yang melatih lima siswa penyandang tunanetra di Surabaya untuk memotret.

Meski kelima anak tersebut tak bisa melihat hasil karya mereka, tapi mereka mengaku cukup senang karena hasil fotonya bisa dinikmati orang lain.

Acim ingin membuktikan, kalau memotret bukan memakai mata melainkan hati.

"Waktu itu aku lagi hunting foto, enggak sengaja lihat ada pelatihan pijat untuk tunanetra. Iseng kutanya, kenapa diajari pijat? Jawabannya menurutku sedikit tidak mengenakkan dan membuat aku berpikir kalau mereka (penyandang tunanetra) ini bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar tukang pijat. Aku kepikiran aja ngajarin mereka motret," cerita Acim ketika ditemui Basra, Selasa (26/11).

Kunci melatih penyandang tunanetra untuk memotret adalahh jarak dan jangkauan.

Kelima anak yang dilatih Acim adalah Septian Kurniadi, M. Radix Ardiansyah, Iko Erick Wicaksono, Fifi Clarisa, dan Rachel Tanzaen.

Sekitar akhir 2017 lalu, Acim mulai mengerjakan idenya. Hal pertama yang ia lakukan adalah belajar semua hal terkait tunanetra.

"Aku belajar sekitar satu tahunan. Karena lima anak ini latar belakangnya beda-beda. Dari cara bicara, terus penanganannya aku harus benar-benar paham," ujar pria kelahiran Surabaya, 9 Januari 1996 ini.

Dalam prosesnya, Acim pertama ia mengenalkan empat jenis kamera kepada mereka. Diantaranya kamera mirorless, prosumer, dslr, dan pocket.

"Aku kenalkan jenis-jenis kamera ini supaya mereka bisa memilih, nyamannya pakai kamera apa," tutur Acim.

Sedangkan untuk cara membidik gambar, Acim mengajarkannya berdasarkan jarak dan jangkauan, seperti eye levellow angle dan middle. Acim juga memberi tips menentukan kamera dalam posisi portrait dan landscape yang sempurna.

"Caranya membentuk huruf L dengan ibu jari dan telunjuk dan meletakkan ponsel atau kamera pada ujung sikunya," kata pria 23 tahun ini.

Untuk mengetahui posisi obyek bidikannya, Acim menyarankan kelima orang itu untuk melakukan kontak langsung dengan obyeknya. Baik secara komunikasi, menyentuh, dan meraba.

"Kamera ini kan bukan hanya penangkap visual saja, tapi juga bisa berfungsi untuk meluapkan emosi. Nah dengan proyek karya foto ini, saya ingin mereka meluapkan perasaannya dengan bidikan lensa," paparnya.

Melalui karya fotografi tersebut, Acim ingin membuktikan bahwa tunanetra juga bisa diberi ruang dan kesempatan yang sama.

"Proyek ini bukan untuk menjadikan mereka fotografer. Dengan karya ini saya ingin masyarakat terbuka, bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar tukang pijat. Dan kamu tau apa yang mereka katakan saat pertama kali bisa motret? 'Oh ternyata saya bisa selfie juga ya, meskipun hasilnya nggak bisa saya lihat tapi karya saya bisa dinikmati orang lain," pungkas Acim.

Diketahui, kumpulan karya fotografi karya lima siswa tunaetra ini dikumpulkan dalam tajuk Serasa (Sepasang rana yang sama). Bahkan hasil jepretan mereka juga sudah pernah dipamerka pada pertengahan Agustus lalu di acara Sunday Market Surabaya.