FOTO: Saat Kesenian Tradisi Tak Lagi Jadi Ratu di Panggung Hiburan Sendiri
·waktu baca 4 menit

Fotografi dalam perjalanan waktu bukan sekadar karya visual. Lebih dari itu, berkat fotografi bukti peradaban manusia maupun kebudayaan tidak hilang dan masih bisa ditelusuri hingga kini.
Proses dokumentasi tersebut dapat memberikan gambaran peristiwa terdahulu yang belum banyak diketahui dan kini perkembangannya dinantikan oleh penikmatnya melalui pameran foto.
Sejumlah penggiat fotografi dari berbagai lintas profesi di Jawa Timur mengumpulkan sebanyak 60 foto dari 13 fotografer mengenai kesenian pertunjukan yang dipamerkan di Galeri Prabangkara, kompleks Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya. Dengan mengusung tema “Akara” yang berarti wujud dalam bahasa Sansakerta, pameran tersebut ingin memberikan sebuah bentuk nyata dari sebuah perjalanan dokumentasi kesenian pertunjukan di setiap daerah di Jawa Timur yang eksistensinya hingga saat ini dilestarikan dengan baik.
“Kami mengundang seluruh fotografer dari berbagai macam profesi di Jawa Timur turut berpartisipasi menampilkan karya foto kesenian pertunjukan. Mengusung tema “Akara” diharapkan dapat memberikan sebuah gambaran dokumentasi yang melihat bentuk perubahan peradaban kebudayaan dari kesenian pertunjukan yang masih dilestarikan dan dijaga tradisinya dengan baik di Jawa Timur,” ujar kurator pameran, Bahana Patria Gupta (21/05).
Menurutnya, kesenian pertunjukan saat ini mengalami penurunan peminat karena perubahan jaman yang semakin maju. Muncul kesenian pertunjukan baru yang dikemas dengan alat-alat canggih dan up to date membuat kesenian pertunjukan tradisional dari setiap daerah tidak mendapatkan kesempatan untuk tampil. Oleh karena itu, melalui pameran foto dapat menumbuhkan semangat berkarya dan kreatifitas dalam memajukan kesenian pertunjukan didaerahnya masing-masing.
Perihal tersebut juga dirasakan oleh Sofan Kurniawan, fotografer asal Kota Mojokerto, Jawa Timur yang turut berpartisipasi dalam pameran foto tersebut. Ia mengungkapkan kesenian tradisional saat ini jarang mendapatkan panggungnya kembali karena berkompetisi dengan perkembangan jaman yang semakin modern. Seperti halnya pertunjukan “Jaran Kepang” di wilayahnya yang sudah jarang ditemui kecuali ada undangan khusus hajatan atau pesta tertentu, padahal kesenian tersebut jika ditelisik secara detail terdapat prosesi yang jarang diketahui.
“Artinya, pertunjukan ini bagi sejumlah warga kurang memiliki daya tariknya kembali karena tidak ada perubahan dalam pertunjukannya. Oleh karena itu, saya mempunyai ide untuk mengambil foto di balik proses pertunjukan jaran kepang sebelum tampil dan jarang diketahui yaitu “pawang jaran kepang”, tugasnya penting mengendalikan penari saat kesurupan. Dan melalui pameran ini pengunjung dapat melihat prosesi itu,” ujarnya saat menjelaskan tentang karyanya kepada pengunjung.
Pameran yang berlangsung sejak tanggal 21 hingga 28 Mei 2025 ini mendapatkan dukungan luar biasa dari UPT Taman Budaya Jawa Timur. Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Taman Budaya Jawa Timur, Ali Ma’ruf sangat mengapresiasi kegiatan ini sebagai salah satu promosi kebudayaan Jawa Timur melalui dokumentasi fotografi dari para peserta.
“Hasil foto dari peserta ini sangat luar biasa dalam mengabadikan momen kesenian pertunjukan di setiap daerah di Jawa Timur. Ada beberapa jenis tarian dan ekspresi penari terpotret dengan apik dan ada juga foto yang memperlihatkan keadaan kesenian pertunjukan yang sepi, bahkan ada juga yang pentas dengan kondisi seadaanya bukan seperti panggung besar,” ujarnya saat mengamati karya peserta.
Puluhan foto tersebut ditempelkan pada alas berbahan papan atau “triplek” berukuran panjang 2,2 meter dan lebar 1,4 meter sebagai salah satu simbol representatif dari pertunjukan seni dan budaya di daerah. Pemilihan triplek ini sebagai upaya menghadirkan ingatan bahwa di setiap pijakan kesenian pertunjukan selalu beralaskan triplek yang pondasinya mudah rapuh dan melepuh seiring berjalannya waktu.
“Triplek ini adalah gambaran bagaimana kegiatan seni pertunjukan itu berpijak. Dan ini juga bermakna sebagai salah satu upaya seni itu agar tetap berjalan di atas panggung tersebut, karena masih terjadi di beberapa acara kesenian di daerah mereka harus mengurangi penampil diatas panggung karena kelebihan beban. Dan kita berharap panggung kesenian pertunjukan ini mendapatkan perlakuan yang memadai agar seluruh penampil dapat memberikan karya terbaiknya diatas panggung,” ujar Bahana saat menceritakan pengalamannya memotret kesenian pertunjukan di Jawa Timur.
