Hari Air Sedunia, Pakar ITS Ingatkan Pentingnya Selamatkan Air Tanah
ยทwaktu baca 3 menit

Hari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret. Dalam peringatan kali ini, Dr Ir Amien Widodo MSi, mengungkapkan, jika pertumbuhan penduduk akan peningkatan kebutuhan air, kemajuan industri dan teknologi membutuhkan air lebih banyak lagi.
Sayangnya, kebutuhan yang besar tidak diikuti dengan upaya konservasi Kawasan resapan air tanah sehingga memunculkan permasalahan. Salah satu permasalahan yang pelik adalah amblesan.
Air tanah merupakan air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan. Paling tidak ada 2 jenis air tanah yaitu air tanah dangkal (air sumur) dan air tanah dalam (air tanah artesis).
Air tanah tersimpan dalam di antara butiran lapisan batuan dan di antara rekahan batuan. Masyarakat sudah akrab dengan air tanah ini dan selama ratusan tahun telah menggunakan air tanah atau air sumur karena merupakan salah satu sumber air bersih yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.
"Dulu kita menggunakan air tanah (air sumur) untuk keperluan sehari hari dan kita ikut memelihara lingkungan agar kuantitas air sumur dan kebersihannya terjaga. Selama ini, masyarakat mengetahui bahwa air tanah merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui melalui proses siklus air yang sudah diajarkan selama ini. Artinya ada Kawasan tempat meresapnya air dan ada Kawasan tempat keluarnya air," ucapnya, Selasa (22/3).
Menurutnya, pengambilan air tanah yang tidak terkontrol serta tidak sesuai dengan ketersediaannya, bisa berdampak pada kualitas dan kuantitas sumber air tersebut. Akibatnya, ketersediaan air semakin berkurang dan menyebabkan krisis air tanah di beberapa daerah di Indonesia.
"Salah satu contoh pemanfaatan air tanah oleh petani untuk mengairi sawahnya ternyata dilakukan tidak secara bijak. Petani banyak yang memakai sumur bor untuk bisa mengairi sawahnya. Penggunaan air sumur bor ini sendiri dilakukan secara terus menerus meski musim hujan dan 24 jam. Ini terjadi karena sumur bor yang digunakan mereka tanpa diberi kran untuk bisa mengatur kapan air itu dibutuhkan atau tidak," jelasnya.
Peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS ini menuturkan, jika kondisi tersebut diperparah dengan belum adanya aturan spesifikasi dan jarak antar sumur bor.
"Padahal semua tahu bahwa untuk mengairi sawah tidak harus menggunakan air tanah, sebab klas air tanah termasuk klas A (air minum). Dampa akibat pengambilan air tanah oleh petani di antaranya banyak air yang terbuang percuma dan penururnan muka air tanah (air sumur) di Kawasan permukiman di sekelilingnya," tuturnya.
Sementara di perkotaan, air kemasan benar-benar telah mengubah cara pandang kita terhadap air sumur. Dimana masyarakat menganggap bahwa air mineral kemasan adalah air yang terbaik dan menyehatkan.
"Air mineral kemasan mengubah segalanya, kita abai terhadap kuantitas dan kualitas air sumur, bahkan cenderung kita ditakut takuti kalau air sumur itu tidak bersih, tidak higienis dan tidak sehat. Pemerintah yang mestinya mengatur ikut terpangaruh. Pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum terlayani dengan baik dengan air bersih yang disediakan pemerintah (PDAM), sehingga mereka menggunakan air sumur yang tidak dipelihara kebersihannya," tutupnya.
