Konten Media Partner

Hari Ibu: Panti Wreda di Surabaya Kian Sesak, 40an Anak Serahkan Ortu ke Panti

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Anna Fajriatin. Foto: Dok.Basra
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Anna Fajriatin. Foto: Dok.Basra

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.

Paribahasa tersebut bisa jadi benar adanya, melihat kenyataan panti wreda di Surabaya kini sudah penuh.

Menurut data Dinas Sosial Surabaya ada sekitar 40an anak yang mengajukan penitipan orang tua mereka ke panti wreda Jambangan dengan alasan, tidak mampu membiayai secara ekonomi.

Meningkatnya jumlah orang tua yang dititipkan ke panti menyebabkan kapasitas Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Griya Werdha milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di Jambangan overload.

"Kapasitas yang ada di situ (Griya Werdha Jambangan) 160 orang, saat ini sudah dihuni 180 orang. Akhirnya lansia yang sudah mandiri, artinya lansia terlantar yang sudah mandiri kita taruh di Kalijudan (UPTD Liponsos Kalijudan). Kita kembangkan dulu yang di Kalijudan karena yang di Sonokewijenan belum bisa jalan. Banyak sekali yang perlu diperbaiki di situ (Sonokewijenan)," jelas Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Anna Fajriatin, saat ditemui Basra, Rabu (21/12).

Anna mengatakan, bagi lansia yang masih memiliki anak atau keluarga, pihaknya mencoba memulangkan lansia tersebut ke keluarganya.

"Banyak juga yang mau memasukkan orang tuanya ke situ (Jambangan), selain yang terlantar ya. Kalau yang terlantar otomatis langsung kita ambil. Tapi kalau masih ada anaknya, kami selalu lakukan dulu pendampingan ke keluarganya supaya tidak serta merta memasukkan orang tuanya ke situ (panti wreda Jambangan)," paparnya.

Pixabay

Pihaknya, kata Anna, selalu mengupayakan agar para lansia yang masih memiliki anak atau keluarga agar tetap berada di tengah-tengah keluarganya.

"Kita ini sama-sama menjaga, nek cilik diopeni karo wong tuwone nek tuwo iku ojo dilalekno (ketika masih kecil dirawat orang tuanya, ketika orang tuanya sudah lansia jangan dilupakan)," tegasnya.

Terkait alasan anak menitipkan orang tua ke panti jompo, Anna menyatakan tak melulu karena faktor ekonomi.

"Kalau saya ngomong enggak mampu ya enggak juga. Ini harus jadi introspeksi kita semua sebagai anak. Kalau ada orang tua kita ingatlah. Tidak mungkin kita jadi gede kalau nggak diopeni (dirawat) orang tua," tandasnya.

"Ada yang memang miskin, itu yang langsung kita ambil. Tetapi yang (keluarganya) tidak miskin kita coba kembalikan ke keluarganya," sambungnya.

Di momen Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember, Anna pun berpesan terutama kepada mereka yang masih memiliki orang tua untuk tetap menyayangi dan tidak melupakannya.

"Hormati ibu, sayangi orang tua. Apapun surga ada di telapak kaki ibu. Sama-sama kita untuk selalu mengobarkan semangat untuk selalu hormat dan patuh pada orang tua," pungkasnya.