Ikhlas Kaki Kiri Diamputasi, Santri Haikal: Yang Penting Saya Masih Bisa Salat
·waktu baca 3 menit

Setelah tiga hari bertahan di bawah reruntuhan bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, santri bernama Syehlendra Haical atau Haikal (14 tahun) berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun yang memilukan, santri asal Probolinggo itu harus kehilangan kaki kirinya.
dr Larona Hydravianto, Sp. OT (K), Spine, M. Kes, dokter spesialis Orthopaedi dan Traumatologi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo mengungkapkan tindakan amputasi pada kaki kiri Haikal terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya dari infeksi berat yang sudah menjalar ke organ vital.
"Diamputasi kaki kiri mulai dari atas lutut ke bawah," ujar dr Larona saat ditemui Basra, Senin (6/10) sore.
Menurut Larona, pada kasus Haikal, amputasi diputuskan dilakukan di atas lutut karena jaringan di bawahnya sudah tidak viable atau tidak hidup.
"Jadi kami cari atau kami potong sampai bagian tubuh yang sehat. Sampai bagian tubuh yang viable istilahnya, yang benar-benar jaringan hidup. Untuk pasien Haikal ini kemarin akhirnya kami putuskan amputasinya di atas sendi lutut, karena di bawah lutut itu masih jaringan yang tidak viable atau tidak hidup," terangnya.
Ia menambahkan, tujuan utama amputasi ini adalah mencegah infeksi sistemik atau sepsis yang dapat membahayakan nyawa Haikal.
Pascaamputasi kondisi Haikal berangsur membaik. Kadar leukosit yang semula sangat tinggi kini menurun signifikan, sementara fungsi hati dan ginjal yang sempat terganggu stabil kembali.
Meski kaki kirinya harus diamputasi, namun dr Larona mengungkapkan jika Haikal cukup tegar menerima kondisinya. Bahkan ada rasa haru yang disampaikan Haikal kepada sang ibu terkait kaki kirinya yang harus diamputasi.
"Berdasarkan cerita dari ibunya, Haikal mengaku ikhlas kakinya diamputasi. Dia bilang 'Yang penting saya masih bisa salat'," ujar dr Larona menirukan ucapan Haikal yang disampaikan kepada sang ibu.
dr Larona pun memuji ketakwaan yang dimiliki Haikal. Di usianya yang terbilang masih anak-anak, Haikal menunjukkan keikhlasan dan ketabahan yang luar biasa tanpa melupakan ibadahnya.
"Mungkin begitulah didikan di sana (ponpes). Sangat luar biasa," tuturnya.
Meski demikian, dr Larona juga mengungkapkan jika malam mulai menjelang Haikal terlihat lebih banyak melamun.
"Kata ibunya, Haikal kalau malam sering terdiam, melamun sendiri mungkin masih terbayang peristiwa itu," ujarnya.
Sebelumnya, Haikal sempat viral setelah video obrolan harunya dengan tim penyelamat viral di media sosial. Saat itu, Haikal bicara soal tubuhnya yang terasa sakit saat tertimbun reruntuhan. Petugas pun memberi semangat Haikal.
Setelah berhasil dievakuasi pada Rabu (1/10) sore, Haikal bercerita bahwa dirinya tetap menjalankan salat lima waktu meski dalam kondisi sulit di bawah reruntuhan.
Haikal tetap menjalankan salat dengan gerakan mata karena tubuhnya tak mampu bergerak, sebagaimana diajarkan oleh orang tuanya.
