Ini Penyebab Dokter Muda Enggan Bertugas di Wilayah Terpencil
·waktu baca 2 menit

Ada sejumlah alasan dokter enggan bekerja di wilayah pedesaan dan terpencil sehingga berdampak pada layanan kesehatan yang belum merata di Indonesia. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa), Dr. Handayani, M.Kes., mengungkapkan penyebab dokter muda enggan bertugas di wilayah terpencil.
"Sebenarnya dari kami para dokter mengharapkan sekarang ini kelulusan dokter itu banyak yang tidak teropeni (dirawat) oleh pemerintah, yang kemudian mereka (memilih) praktik secara mandiri (di kota besar)," tutur Handayani saat ditemui Basra usai Pengukuhan dan Pengambilan Sumpah Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ke-8 di Auditorium lantai 9 Tower Unusa Kampus B Jemursari Surabaya, (6/9).
"Kenapa akhirnya tidak mau ke daerah? Karena fasilitas yang diberikan tidak sesuai dengan harapan. Ini juga akibat dihilangkannya SKB 4 Menteri. Dulu ada SKB 4 Menteri, jadi untuk pendistribusian dokter tidak bisa dari Kemenkes sendiri," sambung Handayani.
Handayani mengatakan, pendistribusian dokter juga harus ada kerja sama dari Kemendikbud, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan.
"Itu sudah terlaksana tahun 1980an dan 1990an. Dan sekarang (SKB 4 Menteri) itu tidak ada," tukasnya.
Menurut Handayani, ketidak jelasan nasib setelah bertugas di daerah juga menjadi pemicu dokter enggan bertugas di wilayah terpencil.
"Setelah 2 tahun (bertugas) mau jadi apa? Dulu kita lulus sudah jaminan kalau mau mengabdi selama 2 tahun (di daerah terpencil) akan diangkat menjadi pegawai negeri kalau pun nanti mundur (dari PNS) karena ingin sekolah lagi tapi kan setidaknya sudah ada jaminan dari pemerintah pasca bertugas," tandasnya.
Handayani berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan nasib dokter bila memang harus bertugas di daerah terpencil.
"Setidaknya ada jaminan buat dokter setelah bertugas itu nanti seperti apa nasibnya. Tidak malah tidak diperhatikan nasibnya setelah bertugas (di daerah terpencil), ya pasti banyak yang tidak mau," tegasnya.
Sementara itu Dr. Hilman Siregar melihat, kebutuhan akan dokter secara umum di Indonesia sudah terpenuhi dengan baik. Bahkan jika ada kekurangan dokter, kekurangannya tidak signifikan atau tidak begitu besar.
"Yang menjadi masalah utama adalah distribusi dokter. Distribusinya kurang merata dan seringkali menjadi kendala. Ini terindikasi di daerah-daerah yang sangat terpencil, dokter dan tenaga medis seringkali kurang diminati," ungkap Sekretaris 3 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Surabaya, saat dijumpai dalam kesempatan yang sama.
