Ini Penyebab Jatim Turun Hujan di Musim Kemarau
·waktu baca 2 menit

Bulan ini Jawa Timur seharusnya berada pada musim kemarau, namun kenyataan di lapangan terdapat beberapa wilayah yang diguyur hujan deras. Salah satunya Surabaya.
"Bulan April 2021 wilayah Jatim umumnya sudah memasuki musim kemarau, namun adanya peningkatan curah hujan di pekan ini dipicu oleh berasosiasinya beberapa fenomena dinamika atmosfir-laut yang cukup signifikan memicu peningkatan curah hujan di wilayah Jawa Timur," ungkap Kasi Data dan Informasi BMKG Klas I Juanda Surabaya Teguh Tri Susanto, kepada Basra, Sabtu (26/6).
Lebih lanjut Teguh menjelaskan, terdapat beberapa faktor pemicu terjadinya hujan di musim kemarau, di antaranya menghangatnya suhu permukaan laut lokal di selatan Jawa-Nusra yang berkontribusi peningkatan uap air di atmosfer.
Faktor selanjutnya yakni adanya siklus gelombang MJO fase basah dan gelombang ekuatorial rossby yang menunjukkan adanya aliran massa udara pemicu hujan di wilayah Jatim.
"Gelombang Madden Julian Oscillation atau MJO merupakan suatu fenomena gelombang atmosfer yang bergerak melambat dari belahan barat ke timur. MJO dapat meningkatkan potensi hujan pada wilayah yang dilewati," jelas Teguh.
Adapun gelombang ekuatorial rossby, lanjut Teguh, merupakan gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sepanjang wilayah ekuator.
Faktor pemicu lainnya adalah menghangatnya suhu muka laut di perairan barat Sumatra (indek dipole mode negatif) dan memicu munculnya pusat tekanan rendah di perairan dekat Sumatra-Jawa berakibat terjadi pemusatan aktivitas awan konvektif.
Dikatakan Teguh, seiring meluruhnya MJO dan gelombang Rossby diperkirakan awal Juli 2021 akan kembali kering.
Turunnya hujan di musim kemarau ini, kata Teguh, tidak akan sampai menimbulkan bencana banjir maupun longsor.
"Kalau bencana banjir dan longsor sepertinya tidak karena intensitas hujan yang turun meski deras tapi durasi hanya sebentar," simpulnya.
