Jadi Sampah yang Paling Banyak Ditemukan, Ini Bahaya Styrofoam Bagi Lingkungan

Konten Media Partner
30 November 2022 9:44 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi makanan dalam wadah Styrofoam. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makanan dalam wadah Styrofoam. Foto: Pixabay
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di 18 kota utama Indonesia menemukan hampir 1 juta ton sampah masuk ke laut selama kurun waktu 2018. Salah satu sampah yang paling banyak ditemukan adalah sampah styrofoam.
ADVERTISEMENT
Saat ini styrofoam makin banyak digunakan masyarakat karena mudah didapatkan. Padahal styrofoam sangat berbahaya bagi lingkungan karena sangat sulit untuk dihancurkan. Sampah styrofoam bertahan lama bahkan abadi karena styrofoam dapat terperangkap di lingkungan kita selama berabad-abad, jika tidak dikelola dan dikurangi penggunaannya. Dalam proses pembuatan styrofoam, chlorofluorocarbons atau CFC terlibat. Bahkan setelah itu, styrofoam tidak bisa terurai. Styrofoam membutuhkan waktu sekitar 500 – 1 juta tahun untuk dapat terurai oleh tanah. Namun styrofoam tidak terurai sempurna, melainkan berubah menjadi mikroplastik dan dapat mencemari lingkungan.
"Sampah styrofoam merupakan masalah yang harus segera diatasi dan membutuhkan komitmen dari seluruh lapisan masyarakat termasuk pemerintah pusat dan daerah. Kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan juga diperlukan untuk mendukung gerakan dan semakin banyak orang yang terlibat untuk bersikap baik kepada alam," ujar Ruhani Nitiyudo, Co-Founder of The Antheia Project, dalam zoom meeting “Indonesia Darurat Sampah Styrofoam, #SayNoToStyrofoam Mulai Sekarang!”, belum lama ini.
ADVERTISEMENT
"Kami juga menyerukan kepada pelaku industri yang masih menjalankan business yang tidak sustainable misalnya perusahaan Indofood CBP Sukses Makmur di mana salah satu produknya Pop Mie masih menggunakan styrofoam," sambungnya.
Diungkapkan Ruhani, setiap pihaknya melakukan aksi bersih - bersih, kemasan Pop Mie tidak pernah absen dari tumpukan sampah yang ditemukan. Pihaknya menyerukan kepada Indofood CBP Sukses Makmur untuk menghentikan penggunaan styrofoam atau kemasan sekali pakai yang tidak ramah lingkungan yang merusak alam dan bumi yang merupakan masa depan bagi generasi muda.
"Kami ke depan akan mengirimkan surat terbuka kepada perusahaan seperti Indofood CBP Sukses Makmur dan perusahaan - perusahan lain yang masih menggunakan styrofoam, untuk menghentikan penggunaan wadah makanan tersebut dengan menggantinya dengan wadah yang ramah lingkungan. Mari kita ciptakan lingkungan yang bebas dari sampah untuk kehidupan generasi muda di masa mendatang," tandasnya.
ADVERTISEMENT
Dijelaskan Ruhani, kampanye #SayNoToStyrofoam adalah sebuah respons atas kondisi darurat sampah styrofoam yang perlu dicari solusinya bersama-sama.
Pihaknya, kata Ruhani, juga akan terus mengajak anak muda untuk lebih menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan dari rumah, yaitu dengan mulai membiasakan diri memisahkan sampah.
Sementara itu Dr. Ir. Novrizal Tahar IPM, Direktur Penanganan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK), dalam kesempatan yang sama mengatakan Pemerintah sangat mendukung dan mengapresiasi tentang kampanye #SayNoToStyrofoam.
"Seperti kita ketahui sampah plastik adalah masalah seluruh dunia, kalau sudah sampai laut masalahnya jadi selamanya. Styrofoam juga masalah plastik yang paling sulit diurai. Terkait dalam konteks itu pemerintah sudah melakukan banyak hal tentang pengelolaan sampah plastik," ujarnya.
ADVERTISEMENT
“Dalam hal kebijakan, 0pemerintah memiliki kebijakan terkait pengurangan sampah plastik antara lain mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang penanganan sampah laut. Kami memiliki target ingin mengurangi sampah plastik 75 persen tahun 2025. Kami memiliki baseline data sampah plastik 2018 dan memiliki perhitungan sendiri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. Kami akan mendorong road map 2030 antara lain single use plastic bag yang di dalamnya membahas sedotan dan styrofoam. Perlu banyak dukungan perilaku masyarakat untuk mendukung ini," jelasnya lagi.
Adapun Puspa Salsabila, Project Manager The Antheia Project menuturkan styrofoam adalah salah satu jenis plastik yang tidak dapat terurai dengan sempurna dan bisa berubah menjadi mikroplastik. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menghindari pemakaian styrofoam untuk membungkus makanan adalah membawa wadah sendiri dari rumah.
ADVERTISEMENT
“Dampak sampah styrofoam akan dirasakan hingga ratusan tahun dan itu sangat membahayakan bagi segala aspek kehidupan, terutama kesehatan. Kami mengimbau kepada seluruh generasi muda untuk mengurangi penggunaan styrofoam untuk kehidupan bumi yang lebih sehat ke depan. Mari mulai berkontribusi dengan repot membawa wadah makanan, minum, sendok makan dan sedotan dari rumah” tandasnya.