Konten Media Partner

Jalan-Jalan ke Kampung Londo di Surabaya

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peserta Surabaya Heritage Track di depan gedung Grahadi Surabaya.
zoom-in-whitePerbesar
Peserta Surabaya Heritage Track di depan gedung Grahadi Surabaya.

Pada zaman kependudukan Belanda di Surabaya, Jalan Rajawali, Jembatan Merah, serta Jalan Tunjungan punya julukan 'Kampung Londo' atau Kampungnya orang-orang Eropa.

Untuk melihat langsung peninggalan zaman Belanda di kawasan tersebut, masyarakan bisa mengikuti tur Surabaya Heritage Track (SHT) yang digelar gratis hingga 19 Januari 2020.

"Seiring ditetapkannya Surabaya sebagai gemeente (kotamadya) pada 1906 serta dibangunnya stadhuis (kantor pemerintahan) baru di Ketabang menjadikan Surabaya berkembang pesat menjadi pusat pemerintahan, hiburan, dan permukiman elit bagi orang-orang Eropa. Nah, melalui tur ini kami ingin mengajak masyarakat untuk merasakan kembali masa-masa tersebut," jelas Rani Anggraini, Manager House of Sampoerna, dalam keterangan tertulis kepada Basra, Minggu (22/12).

Lebih lanjut Rani menuturkan, tur ini singgah di tiga kawasan yang dulunya merupakan pusat bisnis sekaligus pemukiman bagi warga Eropa utamanya Belanda. Ketiga kawasan tersebut yakni:

• Jalan Rajawali

Di jaman pemerintahan Hindia Belanda, jalan ini bernama Heerenstraat (Jalan Para Tuan). Jalan ini merupakan salah satu jalan utama baik pada masa pemerintahan Hindia Belanda, maupun sekarang ini. Pada tahun 1905 pusat Kota Surabaya terletak di jalan ini sehingga jalan ini menjadi pusat dari segala kegiatan ekonomi maupun pemerintahan. Karena hal inilah di Jalan Rajawali banyak berdiri bangunan tua yang berfungsi sebagai perkantoran seperti Gedung Internatio yang digunakan oleh Asosiasi Perdagangan dan Kredit Internasional ‘Rotterdam’ dan Gedung Cerutu yang ditempati oleh Algemeen Syndicaat van Suikerfabrikanten in Nederlandsch-Indië.

• Jembatan Merah

Kawasan Jembatan Merah merupakan daerah perniagaan yang mulai berkembang sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam perjanjian itu sebagian daerah Pantai Utara, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC. Jembatan Merah juga sebagai pemisah antara daerah tempat tinggal etnis Belanda dengan etnis pendatang seperti etnis China, Arab dan Melayu.

Eksplorasi Jalan Tunjungan Surabaya.

• Jalan Tunjungan

Di tahun 1923 kawasan Tunjungan telah menjadi salah satu pusat komersial Kota Surabaya. Perusahaan perdagangan besar dari Inggris, Whiteaway Laidlaw & Co, memutuskan untuk membangun sebuah toko diujung utara Jalan Tunjungan ini. Toko inilah yang kemudian menjadikan Tunjungan semakin terkenal sebagai pusat perbelanjaan. Selain itu terdapat juga toko serba ada yang bernama Aurora yang berganti menjadi gedung bioskop, Toko Mattalitti yang menjual piringan hitam gramophone dan terdapat Hotel Oranye yang merupakan hotel terkenal yang sekarang menjadi Hotel Majapahit.

Adanya pemukiman warga Eropa di Surabaya, kata Rani, tak terlepas dari adanya aksi Mataram untuk menginvasi Surabaya pada kurun 1620-1625, serta perjanjian yang dilakukan antara Pakubuwono II dengan VOC pada 1743 berdampak signifikan, yaitu dilepasnya Surabaya menjadi wilayah yang dikuasai VOC.

"Masuknya Belanda sebagai penguasa Surabaya dan ditempatkannya Gezaghebber van den Oosthoek (Gubernur Letnan Ujung Timur) mengubah banyak hal demi memenuhi kepentingan politik dan perdagangan, utamanya memindahkan letak pusat pemerintahan mendekati muara Kalimas di Utara," ujarnya.

Pembangunan infrastruktur dan fasilitas lain dibangun untuk mendukung pemerintahan seperti benteng, pos jaga, gudang amunisi dan mesiu, pekantoran, pergudangan juga gereja.

Di tahun 1866 peraturan segregasi etnis (wijkenstelsel) yang mewajibkan tiap-tiap etnis (China, Arab dan Melayu) untuk menetap di Timur Kalimas diberlakukan. Pemerintah Hindia Belanda menciptakan ‘kampung’-nya sendiri.

Fungsi Surabaya sebagai collecting center pada masa pemberlakukan cultuurstelsel berakibat langsung pada bentuk struktur wajah kota Surabaya secara keseluruhan.

Dari periode inilah adanya sebutan beneden stad (kota bawah) yang merujuk pada sisi Utara di sekitar Jembatan Merah sebagai sentra bisnis, serta boven stad (kota atas) di sisi Selatan sebagai kawasan hunian orang-orang Eropa di sekitar Gubeng, Ambengan, Keputran, Darmo dan Ketabang.

"Perluasan wilayah kota diawali dengan dibongkarnya tembok kota pada 1871 dan semakin masif seiring ditetapkannya Surabaya sebagai gemeente (kotamadya)," simpulnya.